The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga di Tengah Gejolak Global

Senin, 27 Apr 2026, 01:00 WIB

WASHINGTON DC – Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan pekan depan di tengah tingginya harga energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah.

Pertemuan dua hari yang dimulai Selasa (28/4) itu disebut-sebut bisa menjadi salah satu momen penting bagi Ketua The Fed Jerome Powell, di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dan dinamika politik yang menyertainya.

Ket. Foto: Gedung Federal Reserve terlihat di Washington, DC, belum lama ini. — Sumber: AFP/Annabelle GORDON

Para pejabat The Fed diproyeksikan menahan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen, melanjutkan kebijakan jeda kenaikan yang telah berlangsung sejak awal tahun. Langkah ini diambil di tengah tekanan yang saling bertolak belakang antara inflasi yang masih tinggi dan kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja.

Dikutip dari AFP, ekonom senior KPMG, Kenneth Kim, menilai ketidakpastian global masih sangat tinggi, terutama terkait perkembangan konflik di Timur Tengah.

“Kita masih menghadapi tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi mengenai apa yang terjadi di Timur Tengah,” ujarnya pada Sabtu (25/4).

Ia menambahkan, harga minyak dan bahan bakar yang masih tinggi menciptakan guncangan energi yang berdampak langsung pada konsumen dan pelaku usaha, sehingga menekan stabilitas ekonomi.

The Fed sendiri memiliki mandat ganda, yakni menjaga stabilitas harga dan mendorong tingkat pengangguran yang rendah. Kondisi saat ini membuat bank sentral berada dalam dilema antara mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi atau menurunkannya guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Kepala ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, memperkirakan Powell akan berhati-hati dalam memberikan sinyal arah kebijakan. Ia menyebut ketidakpastian dampak konflik terhadap Iran membuat prospek suku bunga masih sulit dipastikan.

Lonjakan harga energi dipicu oleh eskalasi konflik sejak serangan AS–Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan pembatasan aktivitas di Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global. Gangguan di kawasan ini juga berdampak pada distribusi pupuk, sehingga berpotensi mengganggu produksi pangan.

Inflasi konsumen AS tercatat mencapai 3,3 persen pada Maret, tertinggi dalam hampir dua tahun, terutama dipicu kenaikan harga energi. Dalam situasi ini, The Fed diperkirakan lebih memprioritaskan pengendalian inflasi dibandingkan dukungan terhadap pasar tenaga kerja.

Gubernur The Fed, Christopher Waller, mengindikasikan konflik berkepanjangan dapat memperkecil peluang penurunan suku bunga tahun ini. “Hal ini mungkin berarti mempertahankan suku bunga kebijakan pada kisaran target saat ini jika risiko inflasi lebih besar,” ujarnya.

Tidak Agresif

Sementara itu, tekanan politik terhadap The Fed juga meningkat. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendorong penurunan suku bunga dan mengkritik Powell karena dinilai tidak cukup agresif.

Trump juga berupaya mengganti pejabat The Fed, termasuk mencalonkan Kevin Warsh sebagai ketua baru. Namun, proses konfirmasi Warsh di Senat menghadapi hambatan politik, meski penyelidikan Departemen Kehakiman terkait The Fed mulai mereda.

Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco, menyebut kondisi ini sebagai titik kritis bagi independensi bank sentral. “Kita berada di titik kritis bagi The Fed,” katanya, seraya mengingatkan potensi perubahan arah komunikasi kebijakan jika kepemimpinan berganti.

Masa jabatan Powell sebagai ketua dijadwalkan berakhir pada 15 Mei. Perhatian pasar kini tertuju pada konferensi pers usai pertemuan The Fed, yang diharapkan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter ke depan di tengah tekanan global dan dinamika politik domestik.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.