Kementan Genjot PM-AAS, Budi Daya Padi Modern Ditargetkan Tembus 1 Juta Hektare.
Kamis, 06 Agu 2026, 11:27 WIBKementerian Pertanian (Kementan) menargetkan budi daya pertanian dengan penerapan budi daya padi berbasis mekanisasi dan teknologi modern atau Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) mencapai luas 1 juta hektare pada 2026.
Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi) Kementan Amin Nur mengatakan sebenarnya teknologi budi daya PM-AAS bukan teknologi baru, bahkan sering diterapkan petani.
Namun, lanjut dia di Jakarta, Kamis, ada beberapa input yang dimasukkan agar budi daya padi petani lebih efisien dan efektif, serta terjadi peningkatan produksi padi, menekan biaya modal dan biaya produksi.
Melalui penerapan teknologi yang tepat, ujarnya saat "Webinar: Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS)", petani juga berpeluang memperoleh hasil panen yang lebih optimal dan keuntungan yang lebih besar.
"Tahun ini kami harapkan penyebarannya bisa mencapai 1 juta ha dan secara bertahan tahun depan luasnya menjadi 3 juta ha," kata Amin Nur .
Dikatakannya, dalam budidaya PM-AAS ada enam prinsip utama, Pertama, dengan metode tanam benih langsung (tabela) tanaman lebih rapat dalam barisan.
Kedua, efisiensi penggunaan air, pupuk dan input dan tepat sasaran, ketiga, penggunaan mekanisasi pertanian untuk mempercepat dan peningkatan efisiensi kerja, serta keempat, implementasi berbasis korporasi.
Prinsip kelima, pengelolaan budidaya padi yang intensif untuk mencapai hasil maksimal dan keenam, spesifik lokasi. Penggunaan teknologi nantinya bisa disesuaikan karakteristik lahan dan agroekosistem setempat.
"PM-AAS ini menghadirkan sistem budi daya padi modern berbasis teknologi, presisi dan korporasi. Dengan PM AAS diharapkan akan terjadi peningkatan produksi, tapi biaya tidak terlalu besar," katanya.
Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementan Saptorini mengatakan keberhasilan teknologi budi daya padi PM-AAS tidak lepas dari peran penyuluh pertanian di lapangan.
"Peran penyuluh pertanian ini dari mulai persiapan, pelaksanaan hingga monitoring dan pengawalan kegiatan di lapangan," katanya.
Untuk itu, tambahnya, BPPSDMP melakukan pendampingan dan pelatihan PM-AAS bagi penyuluh pertanian, selain itu juga menerbitkan modul pelatihan dan pendampingan budidaya padi PM-AAS yang mengacu pada juklak dari BRMP.
Sesuai perintah Menteri Pertanian, menurut dia, penyuluh pertanian mendapatkan target pendampingan lahan budi daya PM-AAS di Jawa, seluas 100 ha untuk setiap penyuluh dan di luar Jawa seluas 50 ha setiap penyuluh.
Sementara itu, SVP Indonesia Agrichemical Research Institute PT Pupuk Indonesia, Gita Bina Nugraha mengatakan guna mendukung program PM-AAS, volume pupuk cukup untuk memenuhi kebutuhan petani dalam negeri. Total kapasitas produksi pupuk urea sebanyak 9,4 juta ton, NPK 4,6 juta ton, pupuk lainnya sekitar 0,8 juta ton.
âSecara kapasitas produksi dan infrastruktur kami siap mendukung program pemerintah, swasembada pangan,â ujarnya.
Sementara stok pupuk bersubsidi per 3 Agustus sebanyak 1,076 juta ton yang tersebar di gudang dan distributor. Dengan volume tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 36 hari dengan rata-rata penebusan harian sebanyak 30 ribu ton.
"Kami juga menyiapkan pupuk yang non subsidi dengan stok sebanyak 405.880 ton," ujar Gita dalam kegiatan yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia.
Sementara itu untuk pengawasan distribusi pupuk subsidi, Pupuk Indonesia telah mempunyai sistem yang sudah terintegrasi yakni iPubers sehingga risiko keterlambatan bisa terdeteksi dengan cepat dan tepat.
Sedangkan dari sisi perbenihan VP Supply Chain Manangement PT. Sang Hyang Seri (SHS), Dias Agriana memperkirakan dengan kebutuhan benih 70 - 80 kg/ha maka pada 2026 - 2027 diperlukan benih padi sebanyak 50.066 ton untuk program PMAAS.
Sementara itu, tambahnya, ketersediaan benih PT SHS pada semester 2 tahun 2026 hanya 14.063 ton.
Dalam program PM-AAS, benih padi yang direkomendasikan adalah tahan rebah, tahan hama daur bakteri (HBD), tahan blast dan mempunyai produktivitas hingga 10 ton/ha.
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
-
Telkom Group Dukung Kelancaran Ibadah Haji di Tanah Suci dengan Perkuat Infrastruktur dan Layanan
-
Demo Mahasiswa di Jakarta, 4.151 Personel Gabungan dan 500 Satpol PP Disiagakan
-
XLSmart Perluas Jaringan 5G di Kalimantan, Kini Jangkau 55 Kota dan Kabupaten
-
Jakarta Dapat Menjadi Model Pelayanan secara Nasional dalam Gerai MPP
-
Soal Tarif Bus Transjabodetabek, Pramono Tegaskan Tak Semua Rute Alami Kenaikan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.