Asia Tenggara Hadapi Cuaca Lebih Panas Akibat El Nino
Kamis, 06 Agu 2026, 03:00 WIBJakarta â Asia Tenggara diperkirakan akan menghadapi cuaca yang lebih panas dan kering dalam beberapa bulan ke depan seiring menguatnya fenomena El Nino. Kondisi tersebut diperkirakan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap lintas batas, sehingga pemerintah didorong memperkuat sistem mitigasi dan aksi dini agar tidak kembali menanggung kerugian besar seperti pada siklus El Nino sebelumnya.
Pusat Meteorologi Khusus Asean (Asean Specialized Meteorological Centre/ASMC) di Singapura, Selasa (4/8), menyatakan El Nino yang saat ini telah terbentuk diperkirakan terus menguat hingga beberapa bulan mendatang.
"Kondisi El Nino cenderung meningkatkan peluang curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah selatan Asean selama Agustus hingga Oktober," demikian keterangan ASMC dalam prospek musim terbarunya.
Dikutip dari Antara, ASMC memperkirakan angin muson barat daya akan bertahan sepanjang Agustus hingga Oktober dengan arah dominan dari tenggara dan barat daya. Posisi sabuk hujan yang tetap berada di utara khatulistiwa menyebabkan wilayah selatan Asean, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami kondisi lebih kering, sementara kawasan utara diperkirakan menerima curah hujan lebih tinggi.
Selain itu, suhu udara di sebagian besar wilayah Asean diproyeksikan berada di atas normal selama periode tersebut. Kombinasi suhu tinggi, minimnya curah hujan, dan angin kencang diperkirakan meningkatkan aktivitas titik panas serta risiko kabut asap lintas batas.
Aksi Dini
Menanggapi proyeksi tersebut, Guru Besar Bidang Perencanaan Lingkungan sekaligus Kepala Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (ITB), Djoko Santoso Abi Suroso, menilai pemerintah harus memperkuat mekanisme aksi dini karena El Nino bukan lagi fenomena yang sulit diprediksi.
Dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Djoko mengatakan dampak El Nino sebenarnya dapat diantisipasi karena memiliki pola yang berulang.
"Karena polanya berulang dan dapat diprediksi, kerugian besar pada tiap siklus menunjukkan persoalannya bukan pada ketiadaan informasi, tetapi ketiadaan mekanisme aksi dini," katanya.
Menurut Djoko, El Nino dapat memicu kekeringan, keterlambatan musim tanam, kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, hingga lonjakan harga pangan. Karena itu, pemerintah dinilai perlu bergeser dari pendekatan yang bersifat reaktif menuju kebijakan yang lebih preventif.
Ia mengingatkan sejarah menunjukkan dampak El Nino terhadap Indonesia selalu menimbulkan kerugian besar. El Nino 1982/1983 memicu kekeringan dan kebakaran hutan besar di Kalimantan Timur. Sementara El Nino 1997/1998 yang dikenal sebagai El Nino of the Century menyebabkan kebakaran hutan dan lahan lebih dari 9,7 juta hektare dengan kerugian ekonomi diperkirakan melampaui 4,5 miliar dollar AS.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
IHSG Hari Ini Melemah Tajam, Koreksi Global Seret Pasar Domestik
-
Cuaca Ekstrem, Badai Menerjang Tiongkok Tengah, 15 Orang Tewas Puluhan Ribu Dievakuasi
-
Pemimpin Korut Bertekad Percepat Penguatan Militer
-
Pembiayaan Ultramikro Melejit, PNM Jangkau 23 Juta Nasabah
-
Potensi Hujan disertai Petir dan Angin Kencang di Wilayah Sumut
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.