Bank Indonesia Bangun Ekosistem Desa Wisata melalui Integrasi Kopi, Madu, Pokdarwis
Minggu, 02 Agu 2026, 07:47 WIBSIMALUNGUN â Bank Indonesia (BI) membangun ekosistem desa wisata melalui integrasi berbagai potensi ekonomi lokal, mulai dari komoditas kopi, madu, hingga kelompok sadar wisata (Pokdarwis), guna mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, mengatakan pengembangan ekosistem desa wisata seperti di Desa Wisata Sait Buttu, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dilakukan melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu pelaku usaha, tetapi membangun keterkaitan antarsektor dalam satu kawasan.
"Di sini kebetulan ada sebuah ekosistem yang lengkap. Ada madu, ada kopi, kemudian Pokdarwis yang semuanya coba kami gabungkan menjadi satu sehingga menjadi tujuan wisata," kata Anton di Desa Wisata Sait Buttu, Simalungun, Sumatera Utara, Sabtu(01/8).
Menurut dia, pengembangan tersebut bertujuan agar masyarakat dapat memanfaatkan potensi ekonomi desa secara optimal ketika kawasan itu berkembang menjadi destinasi wisata.
Dalam pengembangannya, BI memberikan berbagai bentuk pendampingan, mulai dari penguatan kapasitas pelaku usaha, pembangunan infrastruktur pendukung wisata, hingga peningkatan kualitas produk unggulan daerah.
Untuk sektor madu, misalnya, BI memfasilitasi pembangunan talenta sumber daya manusia bagi kelompok pengelola, pembangunan rumah penangkaran, pendampingan proses produksi, serta menghadirkan peneliti dari berbagai lembaga untuk memperkuat kompetensi pelaku usaha.
Sementara itu, pada sektor pariwisata, BI mendukung pembangunan infrastruktur seperti jalur sepeda beserta penyediaan sepeda, serta mendukung pengembangan kelompok sadar wisata.
Selain itu, BI juga mendampingi petani kopi melalui berbagai program pengembangan usaha sebagai bagian dari penguatan ekosistem ekonomi desa.
Anton menjelaskan, pendampingan tersebut telah dilakukan sejak 2020 melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI). Memasuki 2025, pembinaan dilanjutkan melalui program pengembangan ekonomi daerah agar pengembangan usaha masyarakat menjadi lebih berkelanjutan.
Menurut dia, keterlibatan BI tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja baru melalui pengembangan kelompok-kelompok usaha.
"Yang kami bangun bukan hanya individu-individu, tetapi juga kelompok. Ada kelompok madu, kelompok petani kopi, dan kelompok sadar wisata," ujarnya.
Sebagai bagian dari perluasan pasar, kata Anton, BI juga mengikutsertakan pelaku UMKM binaan dalam berbagai ajang promosi, seperti Karya Kreatif Indonesia (KKI) dan Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU), sekaligus mempertemukan mereka dengan lembaga keuangan untuk memperluas akses pembiayaan.
Menurut Anton, pendekatan berbasis ekosistem tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing UMKM sekaligus meningkatkan keberlanjutan pengembangan desa wisata berbasis potensi lokal.
Dengan daya saing yang kuat dan model yang keberlanjutan, nantinya UMKM akan mendapatkan akses untuk memperluas skala usahanya, termasuk mendapatkan akses dari lembaga keuangan.
"Setelah pengelolaan kami siapkan, di sisi yang lain, paralel dengan itu jiwa entrepreneur mereka kita juga perkuat. Karena ketika kami bantu dengan waktu yang panjang itu secara tidak langsung memperkuat jiwa entrepreneur, dan kemudian marketing kami bantu untuk kelangsungan sustainability produksi maupun usahanya, di situlah kami dekatkan dengan lembaga-lembaga keuangan," kata Anton.
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BPJPH Pasang Aturan Ketat, Produk Impor Tanpa Sertifikat Halal Terancam Tersingkir
-
Bulog Sumut Rutin Cek Kualitas Beras di Gudang, Publik Pertanyakan Transparansi Keamanan Pangan
-
Kuota Bedah Rumah Jakarta Naik 63 Kali Lipat, dari 158 Jadi 10 Ribu Unit
-
Sambut HUT Jakarta, Ancol Gratiskan Tiket Masuk Selama Tiga Hari, Ikuti Syarat dan Jadwalnya!
-
Cermati Masa Bediding Saat Puncak-puncaknya Musim Kemarau
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.