Gorontalo Bergerak Antisipasi Kekeringan, Pompa Air Dikerahkan Jaga Ketahanan Pangan

Jumat, 31 Jul 2026, 15:35 WIB

GORONTALO – Mengurangi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian membutuhkan langkah yang tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga antisipatif.

Penguatan infrastruktur irigasi, pemanfaatan teknologi pertanian, penggunaan varietas tahan kekeringan, serta pengelolaan cadangan air menjadi kunci menjaga produktivitas lahan.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pompa alkon bantuan dari Kementerian Pertanian untuk mencegah dampak buruk dari cuaca El Nino. — Sumber: ANTARA/ HO-Kementan

Dengan strategi adaptasi yang tepat, risiko gagal panen dapat ditekan, ketahanan pangan diperkuat, dan pendapatan petani tetap terjaga meski menghadapi cuaca yang semakin tidak menentu.

Pemerintah Provinsi Gorontalo mengoptimalkan berbagai infrastruktur dan bantuan pompa air untuk mengurangi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian agar produksi bahan pangan tetap terjaga.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo Muljady Daeng Mario di Gorontalo, Jumat, mengatakan kemarau merupakan fenomena yang terjadi setiap tahun. Namun, perubahan pola iklim membuat waktu datangnya musim kemarau semakin sulit diprediksi sehingga menyulitkan petani menentukan waktu tanam.

"Yang menjadi masalah sekarang adalah musim sudah bergeser akibat anomali iklim. Petani akhirnya terjebak karena setelah menanam saat hujan, satu hingga dua bulan kemudian justru masuk musim kemarau," katanya.

Ia menjelaskan pemerintah telah melakukan berbagai upaya mitigasi, di antaranya pembangunan embung, irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, optimalisasi lahan, hingga perbaikan jaringan irigasi. Namun, keterbatasan anggaran membuat pembangunan infrastruktur dilakukan secara bertahap.

Sebagai langkah jangka pendek, Dinas Pertanian berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menginventarisasi pompa air yang dapat dimobilisasi ke wilayah terdampak kekeringan.

Menurut dia, rata-rata setiap kabupaten memiliki sekitar 200 unit pompa yang dapat digunakan selama masih tersedia sumber air di sekitar lahan pertanian.

Muljady mengatakan tanaman padi relatif aman karena sebagian besar sudah memasuki fase menjelang panen sehingga tidak terlalu bergantung pada curah hujan. Sementara itu, tanaman jagung menjadi komoditas yang paling rentan karena sebagian besar mengandalkan air hujan dan waktu tanam petani tidak seragam.

Ia menyebutkan luas lahan padi yang terancam kekeringan masih di bawah 10 hektare dan belum masuk kategori puso. Adapun lahan jagung yang dilaporkan mengalami puso baru sekitar lima hektare, sedangkan lahan lainnya masih berstatus terancam sehingga terus dipantau.

Pemerintah, lanjut dia, juga menyiapkan bantuan benih bagi petani apabila terjadi gagal panen agar mereka dapat segera melakukan penanaman kembali.

"Kalau memang terjadi puso, kami akan mengusulkan penggantian benih supaya petani bisa menanam kembali," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.