Pejabat AS Sebut Iran Setuju untuk Akhiri Biaya Tol Selat Hormuz

Rabu, 29 Jul 2026, 04:29 WIB

WASHINGTON DC - Upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah disebut memasuki babak penting. Seorang pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa Iran bersedia menghentikan rencana pengenaan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas untuk menormalkan pelayaran di jalur laut strategis tersebut.

Dari Al Jazeera, nenurut sejumlah pejabat yang mengetahui jalannya perundingan, pembahasan yang dimediasi Oman kini berfokus pada mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, setelah berbulan-bulan terganggu akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Ket. Foto: Meski menunjukkan kemajuan, negosiasi masih menghadapi sejumlah perbedaan. Iran tetap menginginkan peran lebih besar dalam pengelolaan keamanan Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat dan negara-negara Teluk menolak pemberian hak yang dapat ditafsirkan sebagai kontrol eksklusif Iran atas jalur pelayaran internasional tersebut. — Sumber: Istimewa

Sebelumnya, Iran mengusulkan agar kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz membayar biaya layanan navigasi. Namun, Amerika Serikat menolak skema tersebut dengan alasan bahwa hak lintas damai di selat internasional tidak boleh dikenakan tarif wajib. Sebagai kompromi, Oman mengajukan sistem biaya layanan sukarela (voluntary service fees) yang didukung sejumlah negara Teluk. Dana tersebut akan digunakan untuk meningkatkan keselamatan pelayaran, pemeliharaan jalur navigasi, dan perlindungan lingkungan, tanpa mewajibkan setiap kapal membayar tarif transit.

Seorang pejabat AS mengatakan kesepakatan yang sedang dirundingkan akan memastikan kapal-kapal dagang dapat melintas tanpa dikenai biaya transit wajib, sehingga arus perdagangan energi global dapat kembali normal.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sebelum krisis pecah, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan ini sempat memicu lonjakan harga energi dan mengganggu rantai pasok global.

Meski menunjukkan kemajuan, negosiasi masih menghadapi sejumlah perbedaan. Iran tetap menginginkan peran lebih besar dalam pengelolaan keamanan Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat dan negara-negara Teluk menolak pemberian hak yang dapat ditafsirkan sebagai kontrol eksklusif Iran atas jalur pelayaran internasional tersebut. Selain itu, pembahasan mengenai pencairan aset Iran yang dibekukan serta pelonggaran sanksi ekonomi juga masih menjadi ganjalan utama.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan terdapat "peluang besar" tercapainya kemajuan dalam perundingan dengan Iran. Namun, ia juga mengingatkan bahwa opsi tekanan militer tetap terbuka apabila diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat. Di sisi lain, Teheran menegaskan komunikasi dengan Washington masih berlangsung secara tidak langsung melalui mediator Oman.

Apabila kesepakatan mengenai Selat Hormuz berhasil dicapai, para analis menilai hal itu dapat menjadi langkah awal menuju stabilitas kawasan sekaligus mengembalikan kepercayaan industri pelayaran internasional yang selama beberapa bulan terakhir mengurangi aktivitasnya di jalur tersebut akibat tingginya risiko keamanan.

  • selat hormuz

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.