Era Baru Les Bleus: Zidane Kembali, Prancis Siap Melesat dengan Generasi Emas

Rabu, 29 Jul 2026, 00:03 WIB

PARIS – Misi besar menanti Zinedine Zidane. Setelah bertahun-tahun dikaitkan dengan kursi pelatih Tim Nasional Prancis, legenda yang mengantarkan Les Bleus menjuarai Piala Dunia 1998 itu akhirnya resmi dipercaya melatih timnas negaranya. Targetnya jelas: mengakhiri rentetan kegagalan di turnamen besar dan mengembalikan Prancis ke singgasana sepak bola dunia.

Pengumuman Federasi Sepak Bola Prancis pada hari Selasa (28/7) waktu setempat, menandai dimulainya babak baru bagi Les Bleus. Zidane datang bukan sekadar sebagai ikon sepak bola Prancis, tetapi juga sebagai pelatih bertangan dingin yang telah membuktikan kualitasnya bersama Real Madrid, termasuk mempersembahkan tiga gelar Liga Champions secara beruntun, sebuah pencapaian yang belum pernah disamai pelatih lain pada era modern kompetisi tersebut.

Ket. Foto: Zinedine Zidane. — Sumber: Istimewa

Reputasi Zidane dibangun lewat kepemimpinan yang tenang, kemampuan mengelola pemain-pemain bintang, serta filosofi permainan yang memberikan kebebasan kepada para pemain terbaik untuk menentukan jalannya pertandingan. Di bawah arahannya, Real Madrid tampil efektif dalam transisi, fleksibel mengubah pola permainan, sekaligus tetap dingin menghadapi tekanan pada laga-laga terbesar.

Kini, pendekatan itulah yang diharapkan mampu membawa Prancis melangkah lebih jauh menuju target utama berikutnya, yakni menjuarai Piala Eropa 2028.

"Ketika saya bertemu Zinedine pada Februari 2025, dia berkata kepada saya, 'Presiden, saya tahu bagaimana cara menang.' Saat itu saya melihat seseorang yang memiliki ambisi dan keyakinan untuk membawa Les Bleus kembali meraih kemenangan," ujar Presiden Federasi Sepak Bola Prancis, Philippe Diallo.

Penunjukan Zidane langsung memunculkan optimisme terhadap perubahan wajah permainan Prancis. Pasalnya, Les Bleus saat ini memiliki salah satu lini serang paling bertalenta di dunia dengan hadirnya Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, Michael Olise, dan Désiré Doué, yang seluruhnya tengah memasuki masa keemasan karier.

Selama beberapa tahun terakhir, Prancis tidak pernah kekurangan kualitas individu. Namun, mereka kerap gagal memaksimalkan potensi tersebut ketika menghadapi pertandingan-pertandingan penentuan. Kondisi itu memunculkan anggapan bahwa Les Bleus membutuhkan pelatih yang mampu menghadirkan kreativitas lebih besar tanpa menghilangkan keseimbangan tim.

Zidane diyakini memiliki formula tersebut. Saat menangani Real Madrid, ia memang tak ragu bermain pragmatis ketika diperlukan. Namun, kekuatan utama timnya justru lahir dari kebebasan yang diberikan kepada pemain-pemain kelas dunia seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Luka Modric untuk berimprovisasi dan mengambil keputusan di lapangan. Filosofi itulah yang diharapkan dapat memaksimalkan potensi generasi emas Prancis saat ini.

Tugas Zidane bukan dimulai dari nol. Ia mewarisi fondasi kuat yang dibangun Didier Deschamps, sosok yang berhasil mengangkat kembali kehormatan sepak bola Prancis setelah keterpurukan di Piala Dunia 2010.

Di bawah kepemimpinan Deschamps, Prancis bangkit menjadi juara dunia pada 2018 dan kembali menjadi salah satu kekuatan dominan sepak bola internasional. Namun, periode terakhir kepemimpinannya diwarnai sejumlah kegagalan menyakitkan. Les Bleus kalah dramatis dari Argentina pada final Piala Dunia 2022, kemudian kembali tersingkir dalam tiga turnamen besar secara beruntun setelah selalu dihentikan Spanyol di fase gugur, termasuk pada semifinal Piala Dunia bulan ini.

Dalam laga tersebut, Spanyol mampu mengendalikan tempo permainan, mematikan transisi cepat Prancis, serta meredam kreativitas lini depannya sebelum menang 2-0. Mereka kemudian menutup turnamen dengan mengalahkan Argentina pada partai final.

Pendekatan Deschamps yang disiplin dan terstruktur terbukti menjadi fondasi penting bagi kebangkitan Prancis. Namun, kini publik berharap Zidane dapat membawa evolusi berikutnya: tim yang tetap solid, tetapi bermain lebih berani, lebih atraktif, dan lebih memaksimalkan kualitas individu para pemainnya.

Bagi Zidane, tantangan itu justru menjadi alasan utama menerima jabatan bergengsi tersebut.

"Melatih tim nasional tentu berbeda dibanding menangani klub. Namun, itu sama sekali tidak membuat saya takut. Justru itulah yang ingin saya lakukan," ujar Zidane.

Dengan skuad bertabur bintang dan pelatih yang telah membuktikan diri di level tertinggi, Prancis memasuki era baru dengan ekspektasi besar. Kini, seluruh mata tertuju kepada Zidane untuk menjawab satu pertanyaan: mampukah ia mengubah generasi emas Les Bleus menjadi generasi juara?

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.