Kemenkes Sebut 60 Persen Lebih Penduduk RI Masih Rentan Hepatitis B

Selasa, 28 Jul 2026, 18:02 WIB

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut lebih dari 60 persen penduduk Indonesia masih rentan terinfeksi hepatitis B. Meskipun, program imunisasi nasional yang dimulai sejak 1997 telah berhasil menekan penularan penyakit tersebut pada anak-anak.

Ketua Komite Ahli Hepatitis Kemenkes, dr David H Muljono, mengatakan Indonesia kini tengah mengalami perubahan epidemiologi hepatitis B. Penularan pada generasi yang mendapatkan imunisasi sejak bayi menurun drastis, sementara beban penyakit pada kelompok usia dewasa masih mencerminkan tingginya penularan yang terjadi sebelum imunisasi universal diterapkan.

Ket. Foto: — Sumber: Bio Farma

"Indonesia sedang mengalami perubahan epidemiologi hepatitis B, penularan pada generasi yang memperoleh imunisasi sejak bayi telah menurun secara drastis. Sedangkan beban penyakit pada kelompok usia dewasa masih mencerminkan tingginya penularan yang terjadi pada masa sebelum imunisasi universal diperkenalkan," kata David di Jakarta, Senin (27/7).

Menurut dia, distribusi antibodi pelindung atau anti-HBs menunjukkan pola bimodal. Angkanya tinggi pada anak-anak sebagai dampak keberhasilan imunisasi, kemudian menurun pada usia remaja dan dewasa muda, sebelum kembali meningkat pada kelompok usia lebih tua akibat terbentuknya kekebalan setelah infeksi alami.

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hepatitis B aktif yang ditandai dengan HBsAg pada anak usia 1–4 tahun hanya 0,1 persen. Angka tersebut jauh di bawah target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk eliminasi hepatitis B pada anak.

David menilai capaian tersebut menunjukkan imunisasi hepatitis B menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif yang pernah diterapkan di Indonesia. Namun, data SKI 2023 juga menunjukkan tantangan yang masih harus dihadapi.

Pada seluruh kelompok umur, prevalensi hepatitis B aktif atau HBsAg mencapai 2,4 persen. Sebanyak 19,7 persen penduduk memiliki bukti pernah terpapar virus hepatitis B yang ditandai dengan anti-HBc positif.

Sementara itu, hanya 24,3 persen penduduk yang memiliki antibodi pelindung terhadap hepatitis B atau anti-HBs positif. Temuan lainnya menunjukkan lebih dari 60 persen penduduk Indonesia tidak memiliki ketiga penanda serologi hepatitis B, yakni HBsAg, anti-HBc, maupun anti-HBs.

Kelompok tersebut belum pernah terinfeksi hepatitis B, tetapi juga belum memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut.

"Temuan ini menunjukkan bahwa penularan hepatitis B telah menurun secara bermakna dibandingkan dua dekade sebelumnya, tetapi masih terdapat proporsi masyarakat yang besar yang belum memiliki kekebalan terhadap infeksi hepatitis B," ujar David.

Ia menegaskan, selama penularan horizontal masih berlangsung, kelompok yang belum memiliki kekebalan tetap berisiko terinfeksi ketika memasuki usia remaja maupun dewasa. Karena itu, upaya pencegahan hepatitis B tidak dapat hanya mengandalkan imunisasi bayi. Strategi tersebut perlu dilengkapi dengan perlindungan bagi kelompok usia yang lebih tua.

David mengatakan strategi eliminasi hepatitis di Indonesia perlu berkembang dari pendekatan yang semata-mata berfokus pada imunisasi menjadi pendekatan yang mencakup seluruh perjalanan penyakit. Upaya tersebut mencakup pencegahan infeksi baru hingga pencegahan komplikasi berupa sirosis dan kanker hati.

"Upaya tersebut meliputi perluasan skrining berbasis risiko, peningkatan akses terhadap pemeriksaan laboratorium, diagnosis dini, tata laksana yang sesuai dengan pedoman nasional dan WHO, pencegahan penularan dalam keluarga. Serta pemberian vaksinasi catch-up bagi individu yang belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B," kata dia.

Perkembangan ilmu pengetahuan juga memberikan harapan baru dalam penanganan hepatitis B kronis. David menyebut pedoman WHO 2024 telah memperluas rekomendasi terapi antivirus sehingga lebih banyak pasien dapat memperoleh pengobatan sebelum penyakit berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.

Ia menambahkan, kontribusi pemerintah, akademisi, organisasi profesi, dan media diperlukan. Guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengendalian hepatitis B.

"Indonesia telah membuktikan bahwa eliminasi hepatitis bukanlah cita-cita yang mustahil. Keberhasilan mencapai target WHO pada anak menunjukkan bahwa kebijakan yang didukung bukti ilmiah dapat mengubah epidemiologi suatu penyakit dalam satu generasi," kata dia. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.