Russia Tarik Sistem Pertahanan Udara S-300/S-400 dari Pabrik Kapal Selam Nuklir, Severodvinsk Makin Rentan

Minggu, 26 Jul 2026, 00:10 WIB

MOSKOW – Citra satelit terbaru mengindikasikan Russia telah menarik sebagian besar sistem pertahanan udara S-300 dan S-400 yang selama bertahun-tahun melindungi Severodvinsk, kota strategis di barat laut Rusia yang menjadi pusat pembangunan kapal selam nuklir negara tersebut.

Dari Militarnyi, laporan ini diungkap media Norwegia Barents Observer, berdasarkan analisis citra satelit periode 2024 hingga 2026. Temuan tersebut menunjukkan sedikitnya dua lusin peluncur rudal pertahanan udara telah dipindahkan dari dua posisi pertahanan utama di sekitar Severodvinsk.

Ket. Foto: Severodvinsk memiliki arti sangat penting bagi militer Russia. Di kota inilah berdiri galangan kapal Sevmash, satu-satunya fasilitas di Rusia yang membangun kapal selam bertenaga nuklir, termasuk kapal selam pembawa rudal balistik. — Sumber: Istimewa

Langkah ini dinilai berkaitan dengan kebutuhan Rusia memperkuat pertahanan udara di wilayah lain, sekaligus menghadapi keterbatasan jumlah rudal di tengah perang yang masih berlangsung dengan Ukraina.

Severodvinsk memiliki arti sangat penting bagi militer Russia. Di kota inilah berdiri galangan kapal Sevmash, satu-satunya fasilitas di Rusia yang membangun kapal selam bertenaga nuklir, termasuk kapal selam pembawa rudal balistik. Di lokasi yang sama juga terdapat galangan Zvezdochka, yang bertugas melakukan perawatan, perbaikan, dan modernisasi armada kapal selam nuklir Rusia.

Analisis citra satelit menunjukkan dua posisi pertahanan utama di Pulau Yagry dan Bukit Mironova kini nyaris kosong.

Di Pulau Yagry, enam peluncur rudal, radar, serta kendaraan pendukung yang masih terlihat pada citra tahun 2024 telah menghilang pada citra tahun 2025. Bahkan, pangkalan operasi garis depan yang sebelumnya menampung dua baterai S-300 tampak telah ditinggalkan. Radar pengarah sasaran dan kontainer penyimpanan rudal cadangan juga sudah tidak terlihat.

Kondisi serupa ditemukan di Bukit Mironova, sekitar 12 kilometer dari galangan kapal Sevmash. Pada awal 2024, lokasi ini masih memiliki delapan peluncur S-300/S-400 dalam status siaga tempur beserta radar pengendali tembakan. Namun pada citra satelit 2025 hingga 2026, seluruh sistem tersebut telah lenyap.

Sejak era Perang Dingin, perlindungan wilayah ini menjadi tanggung jawab Resimen Rudal Anti-Pesawat ke-1528 di bawah Distrik Militer Leningrad. Indikasi bahwa satuan tersebut telah dipindahkan juga terlihat dari laporan tewasnya Letnan Kolonel Vladimir Spiridonov, komandan batalion S-400 asal Severodvinsk, yang gugur saat bertugas di Krimea pada April 2024.

Pemindahan sistem pertahanan udara dari wilayah lain menuju kawasan yang lebih aktif sebenarnya bukan hal baru. Pada akhir 2023, investigasi Bellingcat juga mengungkap sejumlah baterai S-400 dipindahkan dari Kaliningrad menuju Rostov-on-Don dan Krimea untuk memperkuat pertahanan menghadapi serangan Ukraina.

Perubahan ini terjadi ketika Ukraina semakin intens melancarkan serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah fasilitas strategis Rusia, termasuk kilang minyak di Omsk yang berjarak sekitar 2.500 kilometer dari perbatasan Ukraina, dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Meski Severodvinsk berada sekitar 1.500 kilometer dari wilayah yang dikuasai Ukraina, perkembangan teknologi drone jarak jauh membuat kawasan yang selama ini dianggap relatif aman kini dinilai memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

  • Kapal Selam Nuklir

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.