Siang Panas Terik, Malam Dingin Menggigil saat Kemarau, Begini Penjelasan IPB
Kamis, 23 Jul 2026, 05:41 WIBKABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT - Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University Dr Givo Alsepan menjelaskan suhu udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari saat musim kemarau merupakan fenomena alam yang dikenal sebagai bediding.
Givo dalam keterangannya, di Bogor, Rabu (22/7), mengatakan fenomena bediding bukan dampak langsung perubahan iklim, melainkan bagian dari dinamika iklim musiman yang hampir selalu terjadi pada periode Juni hingga September.
"Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif," katanya lagi.
Dia menjelaskan, fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah kondisi atmosfer yang lazim terjadi selama musim kemarau. Salah satu penyebab utamanya ialah langit yang cenderung cerah pada malam hari, sehingga panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa.
Selain itu, udara pada musim kemarau umumnya lebih kering dibandingkan musim hujan. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer membuat panas tidak banyak tertahan sehingga proses pendinginan berlangsung semakin efektif.
"Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin," ujarnya.
Menurut Givo, kondisi tersebut lebih terasa di daerah pegunungan dan dataran tinggi, karena dipengaruhi elevasi yang lebih tinggi serta aliran udara dingin yang cenderung berkumpul di lembah. Di kawasan seperti Dataran Tinggi Dieng, kondisi itu bahkan dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.
Ia menambahkan, angin monsun Australia turut memperkuat fenomena bediding. Pada musim kemarau, Australia sedang mengalami musim dingin, sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia membawa karakter udara yang lebih sejuk dan kering, terutama ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Menurut dia, fenomena El Nino yang sedang berkembang juga berpotensi memperkuat kondisi kemarau melalui penurunan curah hujan, kelembapan udara yang lebih rendah, serta langit yang lebih sering cerah pada malam hari sehingga proses pendinginan radiasi berlangsung lebih optimal.
Givo mengimbau masyarakat menjaga kesehatan selama fenomena tersebut berlangsung, terutama anak-anak, lanjut usia, dan penderita penyakit pernapasan karena udara yang dingin dan kering dapat memperburuk gejala influenza, asma, maupun infeksi saluran pernapasan.
Ia juga mengingatkan masyarakat tetap mencukupi kebutuhan cairan tubuh meski cuaca terasa dingin serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang cenderung meningkat pada musim kemarau.
Menurut dia, fenomena bediding diperkirakan masih berlangsung hingga puncak musim kemarau pada akhir Juli hingga Agustus, bahkan di beberapa wilayah dapat berlanjut hingga awal September bergantung pada perkembangan kondisi atmosfer.
"Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik," katanya. Ant
- Fenomena Bediding
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Libur Lebaran 2026, Wisata Wonosobo Makin Ramai dari Tahun Lalu
-
Harga Emas Antam Naik Rp5.000 Menjadi Rp2,743 Juta/Gr pada Senin Pagi
-
Mengapa Kemarau Telat Datang Tapi Fenomena Bediding Tetap Terasa?
-
Menko Perekonomian Sebut Harga Tiket Pesawat Domestik akan Naik hingga 13 Persen
-
"Bediding" Menerpa Malang Raya Capai Suhu 17-18 Derajat Celsius, BMKG Ungkap Penyebabnya!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.