Lewat Metode Hunting, Kementerian ESDM Jaga Stok BBM Nasional
Senin, 05 Okt 2026, 12:38 WIBJAKARTA â Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan melakukan metode âhuntingâ atau mencari negara-negara yang memiliki stok bahan bakar minyak (BBM) berlebih, untuk menjaga stok BBM nasional.
âYang kami lakukan sekarang adalah âhuntingâ untuk menjaga agar stok nasional itu ada,â ucap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, dalam acara Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, dipantau dari kanal resmi Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Senin (05/10).
Laode menjelaskan metode tersebut berbeda dengan metode pengadaan BBM sebelumnya, yakni dengan lelang. Adapun yang melatarbelakangi perubahan metode adalah ketiadaan peserta lelang sejak terjadinya konflik di Timur Tengah.
Ia mengatakan Indonesia kehilangan 25 persen sumber impor sejak perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran pecah pada awal 2026.
âSebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada. Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok,â kata Laode.
Imbasnya, Laode mengatakan harga BBM yang dibeli berpotensi menjadi lebih tinggi daripada harga BBM ketika melakukan pengadaan biasa.
âKita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok. Kita beli dengan harga yang akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa,â ucap Laode.
Meskipun demikian, Laode menegaskan metode âhuntingâ memungkinkan Indonesia untuk menjaga ketahanan stok BBM untuk 18â20 hari ke depan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) masih terjaga di standar minimal, yakni 18â21 hari, di tengah gejolak geopolitik.
Selain itu, lanjut Bahlil, pemerintah juga memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik sampai dengan akhir tahun. Kedua hal tersebut merupakan perintah dari Presiden Prabowo Subianto.
Sementara itu, Bahlil menjelaskan harga BBM nonsubsidi tentu akan mengalami penyesuaian harga. Perubahan harga yang terjadi pada BBM nonsubsidi disebabkan oleh sifatnya yang mengikuti harga pasar.
âHarga BBM nonsubsidi itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu naik, ICP (Indonesian Crude Price)-nya otomatis dia akan naik. Tetapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi,â kata Bahlil.
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bantu Warga Terdampak Gempa, Pekerja PLN Sumbang 25 Rumah Untuk Korban Bencana di Flores
-
Bahaya, Skor RI Jauh dari Ambang untuk Lolos “Middle Income Trap”
-
BPOM Dorong Pergeseran Paradigma Kesehatan pada Pencegahan Penyakit
-
Sisir Titik Nol Hilangnya KM Virgo Transport 8, Polda Kalsel Kerahkan 3 Kapal Patroli Utama
-
Polda Metro Jaya Ungkap Dugaan Impor Kacang Tanah Ilegal, 49,85 Ton Disita
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.