- Home
-
- Megapolitan
-
- Kongres Wanita Indonesia (...
Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Panen Perdana Sorgum di Bogor
Sabtu, 22 Agu 2026, 06:11 WIBJAKARTA â Kongres Wanita Indonesia (Kowani) memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pengembangan demplot pertanian dan panen perdana sorgum di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
"Ketahanan pangan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, keluarga, dan seluruh warga, sehingga kehidupan kita menjadi aman, sejahtera, tenteram, dan damai. Semua itu dapat terwujud berkat tanah yang subur, tanah yang dimanfaatkan dengan baik, serta memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat," kata Ketua Umum Kowani, Nannie Hadi Tjahjanto, dalam keterangan di Jakarta, Jumat (21/8).
Menurut dia, kegiatan tersebut bukan sekadar aktivitas budidaya dan panen.Pengembangan lahan diarahkan menjadi bagian dari ekosistem ketahanan pangan yang terintegrasi, mulai dari produksi, pengolahan, pemberdayaan perempuan dan petani, penguatan UMKM serta koperasi, hingga perluasan akses pasar.
Ia menegaskan pemanfaatan setiap jengkal lahan secara produktif dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Dikatakannya, pengembangan program tersebut merupakan bagian dari langkah Kowani dalam mendukung implementasi Asta Cita melalui kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
"Program Asta Cita terus kita lanjutkan dan wujudkan melalui berbagai kegiatan Kowani, termasuk upaya mencegah stunting dan penyalahgunaan narkoba. Insya Allah, melalui langkah-langkah nyata ini, kita dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan bangsa," kata Nannie Hadi Tjahjanto.
Sementara Direktur PT DASS sekaligus Staf Ahli Kowani, Anneke Runtulalo, menjelaskan bahwa demplot tersebut dikembangkan dengan konsep pemanfaatan lahan secara produktif dan berkelanjutan.
Berbagai komoditas ditanam di lokasi tersebut, mulai dari sawi, singkong, cabai, melon, timun, hingga tanaman buah seperti durian.
Menurut Anneke, keberhasilan demplot tidak cukup diukur dari hasil panen.
Pihaknya juga mendorong agar hasil pertanian dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Ini adalah salah satu program kami ke depan. Bukan hanya cabai seperti ini, tetapi cabai ini akan kami kembangkan menjadi produk Kowani yang memiliki nilai tambah, salah satunya melalui produk rica roa," katanya.
Pengembangan produk olahan tersebut, lanjut Anneke, membuka peluang pasar yang lebih luas.
Ia menyebut adanya permintaan terhadap produk rica roa dari Singapura dan Malaysia.
"Singapura meminta rica roa menggunakan cabai seperti yang kita tanam di sini. Rica roa ini harganya cukup mahal. Untuk kemasan kecil saja bisa mencapai sekitar Rp50 ribu," kata Anneke.
Karena itu, pihaknya akan menghubungkan produksi di demplot dengan kebutuhan bahan baku produk olahan.
Dengan pola tersebut, petani tidak hanya menghasilkan komoditas pertanian, tetapi juga memiliki peluang untuk mendapatkan nilai tambah melalui proses hilirisasi.
Berita Terkait:
-
Kejari Tangsel Kembalikan Uang Rp14,2 Miliar Hasil Perkara Pinjol Ilegal ke Kas Negara
-
Operasi Bibir Sumbing Gratis Dukung Tumbuh Kembang Anak Sejak Usia Dini
-
Pemerintah Kota Padang Siapkan 15.586 Kursi SMP untuk Tampung Lulusan SD
-
Jalan Trans Kalimantan Kasongan-Kereng Pangi Kalteng Sudah Bisa Dilewati
-
Veda Melompat Jauh
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.