Final Piala Dunia 2030 Diperebutkan, Maroko dan Spanyol Bersaing Jadi Tuan Rumah

Minggu, 19 Jul 2026, 04:03 WIB

Madrid/Casablanca - Perebutan status sebagai tuan rumah laga final Piala Dunia 2030 diperkirakan akan menjadi persaingan sengit antara Spanyol dan Maroko. Hingga kini, FIFA belum menetapkan stadion yang akan menjadi lokasi pertandingan puncak turnamen yang akan digelar bersama oleh Maroko, Portugal, dan Spanyol tersebut.

Dilansir dari Channel NewsAsia, Spanyol menegaskan ambisinya untuk menjadi tuan rumah final. Namun, Maroko juga mengajukan Stadion Hassan II yang sedang dibangun di dekat Casablanca sebagai kandidat utama. Persaingan kedua negara kini mulai menghangat di balik layar menjelang keputusan resmi FIFA.

Ket. Foto: Ilustrasi Piala Dunia — Sumber: Antara

Stadion Hassan II diproyeksikan menjadi stadion sepak bola terbesar di dunia dengan kapasitas sekitar 115.000 penonton. Pembangunannya ditargetkan rampung pada akhir 2027 dan menjadi andalan Maroko untuk menggelar partai final.

Sementara itu, Spanyol menawarkan dua stadion ikonik sebagai kandidat, yakni Santiago Bernabeu di Madrid yang kini berkapasitas sekitar 83.000 penonton setelah renovasi besar selesai pada akhir 2024, serta Camp Nou di Barcelona yang tengah direnovasi dengan target kapasitas mencapai 105.000 penonton, meski proyek tersebut masih mengalami keterlambatan.

Lobi Politik

Persaingan memperebutkan hak menjadi tuan rumah final mulai terlihat sejak Januari lalu. Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, Rafael Louzan, secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa laga final akan digelar di Spanyol.

"Spanyol memiliki rekam jejak panjang dalam penyelenggaraan ajang olahraga besar. Karena itu, Spanyol akan memimpin penyelenggaraan Piala Dunia 2030 dan menjadi tuan rumah laga final," ujar Louzan kepada wartawan.

Louzan juga menyinggung sejumlah insiden yang terjadi pada ajang Piala Afrika di Maroko sebagai alasan mengapa Spanyol dinilai lebih layak menjadi tuan rumah final.

"Maroko memang sedang berkembang pesat, tetapi beberapa insiden dalam Piala Afrika tidak hanya merugikan turnamen tersebut, tetapi juga mencoreng citra sepak bola dunia," katanya.

Pada Januari lalu, pertandingan Piala Afrika di Rabat sempat diwarnai kericuhan penonton, aksi tidak sportif dari pemungut bola (ball boy), hingga penghentian pertandingan sesaat ketika Senegal mengalahkan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdallah yang berkapasitas 69.500 penonton.

Maroko Pilih Tunggu Keputusan FIFA

Di sisi lain, Presiden Federasi Sepak Bola Maroko, Fouzi Lekjaa, memilih tidak menanggapi pernyataan tersebut secara langsung.

"Belum ada keputusan mengenai pembagian pertandingan. Penentuan lokasi dilakukan melalui konsultasi antara tiga negara tuan rumah dan FIFA," ujarnya kepada televisi pemerintah Maroko.

Meski demikian, sejumlah sumber di lingkungan sepak bola Afrika menyebut Maroko terus melakukan lobi intensif agar Stadion Hassan II di Casablanca ditetapkan sebagai lokasi final. Persaingan diplomatik diperkirakan akan semakin menghangat menjelang keputusan FIFA.

Apabila Casablanca terpilih, kota tersebut akan menjadi kota kedua di Afrika yang menggelar final Piala Dunia setelah Johannesburg pada 2010, ketika Spanyol meraih gelar juara dunia pertamanya usai mengalahkan Belanda.

Sebaliknya, jika Santiago Bernabeu kembali dipercaya menjadi lokasi final, stadion tersebut akan mengulang sejarah sebagai tuan rumah partai puncak Piala Dunia, setelah sebelumnya menggelar final edisi 1982 yang dimenangkan Italia dengan skor 3-1 atas Jerman Barat.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Andes

Berita Terbaru

Lagu Terbaru Bigbang Sapu Bersih Posisi 1 di Tangga Lagu Korsel

Beasiswa Unggulan Kemendikdasmen 2026 Dibuka: Cek Syarat, Cara Daftar, dan Jadwalnya

MEGA SHOW Hong Kong Kembali Hadir untuk Edisi ke-33, Hadirkan Lebih dari 3.000 Eksibitor Produk Asia pada Oktober 2026.

Final Ideal Piala AFF, Vietnam Bersiap Ngluruk ke Thailand

Kementan Perkuat Mitigasi Kekeringan untuk Akselerasi Swasembada Pangan di Sukabumi

Pemerintah Pusat Pilih Jakarta untuk Operasional PFII, Opsi Bali Masih Dikaji

Dasar Napi Nakal, Si Acil Kabur dari Penjara, Padahal 2 Bulan Lagi Bebas

Pakistan Gencarkan Prinsip Kemanusiaan untuk Lindungi Kelompok Rentan

Pesta Rakyat HUT ke-81 RI Meriah Tanpa Kedip, Menteri Pariwisata Apresiasi PLN.

Pingtar Dorong Model Pembelajaran Berkelanjutan bagi Pekerja lewat WhatsApp

Sapaan Maut El Nino di Honduras: 80 Persen Wilayah Dilanda Kekeringan

Dua Pemuda Diamankan karena Hendak Tawuran di Lubang Buaya

Gubernur Pramono Minta Pemerintah Pusat Turun Tangan Atasi Emisi PLTU Suralaya

Operator Seluler Ikut Bangun Ekosistem AI, Kedaulatan Digital Indonesia Makin Kuat

Anggaran KJMU Dipangkas Rp49 Miliar, 2.899 Mahasiswa Terancam Putus Kuliah

Badan Geologi: Asap di Gunung Raung Bukan Erupsi Tapi Kebakaran

Cegah Warga Hilang Hak Bansos, DPRD DKI Minta Pemprov Sediakan Kanal Sanggah

Gibran Berdialog dengan Sejumlah Ibu yang Baru Melahirkan di Tenda Rawat Pascagempa di Sikka, NTT, Pastikan Kebutuhan Terpenuhi

Babak Baru Diplomasi: Trump Bersiap Jumpa Kim Jong Un Lagi

Wapres Gibran Tinjau Korban Gempa NTT, Pastikan Kebutuhan Warga Terpenuhi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.