Final Piala Dunia 2026 Pecahkan Rekor Harga Tiket, FIFA Untung Besar

Minggu, 19 Jul 2026, 06:00 WIB

NEW YORK – Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya mencatat sejarah di lapangan, tetapi juga di loket penjualan tiket. Turnamen yang berakhir dengan final antara Argentina dan Spanyol di New York New Jersey Stadium menjadi bukti bahwa penggemar sepak bola bersedia membayar harga yang belum pernah terjadi sebelumnya demi menyaksikan ajang terbesar di dunia secara langsung.

Bahkan, laga final disebut-sebut sebagai acara olahraga dengan harga tiket termahal yang pernah digelar di Amerika Serikat, mempertemukan Argentina yang dipimpin Lionel Messi dengan Spanyol yang diperkuat pemain muda sensasional Lamine Yamal.

Ket. Foto: Ilustrasi suporter Piala Dunia 2026. — Sumber: FIFA

Keberhasilan FIFA menjual tiket dengan harga tinggi sekaligus mematahkan berbagai keraguan yang sempat muncul sebelum turnamen dimulai. Kekhawatiran mengenai pembatasan visa, situasi politik domestik Amerika Serikat, hingga tingginya harga tiket ternyata tidak mengurangi minat penonton.

Pakar industri tiket olahraga asal Amerika Serikat, Scott Friedman, menilai FIFA berhasil menghitung tingkat permintaan pasar secara akurat.

Menurutnya, banyak pihak setahun lalu meragukan antusiasme suporter untuk datang ke Amerika Serikat. Namun kenyataannya, hampir seluruh pertandingan dipenuhi penonton meski harga tiket tergolong sangat mahal.

"FIFA melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam memperkirakan permintaan. Orang-orang tetap bersedia membayar harga yang luar biasa mahal untuk hampir seluruh 104 pertandingan."

Ia menambahkan bahwa popularitas Piala Dunia sebagai turnamen olahraga terbesar di dunia membuat strategi harga tinggi FIFA akhirnya terbukti berhasil.

Data kehadiran penonton menunjukkan keberhasilan tersebut. Lebih dari setengah dari 72 pertandingan fase grup berlangsung dengan kapasitas stadion penuh. Sementara pertandingan lainnya hanya menyisakan beberapa ratus kursi kosong.

Secara keseluruhan, FIFA mencatat 99,7 persen kursi yang tersedia pada fase grup berhasil terisi.

Angka tersebut sekaligus menghapus kekhawatiran yang sempat muncul pada awal turnamen ketika sejumlah kursi kosong terlihat dalam laga Korea Selatan melawan Republik Ceko di Stadion Guadalajara.

Meski FIFA melaporkan kehadiran 44.985 penonton di stadion berkapasitas hampir 46.000 kursi itu, tayangan televisi dan pengamatan langsung sempat memunculkan kritik mengenai tingginya harga tiket. Namun seiring berjalannya turnamen, permintaan terus meningkat hingga hampir seluruh pertandingan berlangsung di depan stadion yang penuh.

Sejak awal, FIFA menetapkan harga tiket fase grup mulai dari 575 dolar AS, atau sekitar 9,4 juta rupiah. Nominal tersebut lebih dari dua kali lipat harga tiket kategori tertinggi pada fase grup Piala Dunia 2022.

Namun, harga sebenarnya yang dibayar banyak suporter jauh lebih mahal karena FIFA untuk pertama kalinya menerapkan sistem dynamic pricing, yakni harga tiket berubah mengikuti permintaan pasar secara real time.

Menjelang final, sempat tersedia ratusan tiket resmi dengan harga lebih dari 7.000 dolar AS, atau sekitar 114,8 juta rupiah per lembar.

Dua hari kemudian, hampir seluruh tiket telah terjual. Tiket yang masih tersisa di platform resmi FIFA dibanderol sekitar 32.000 dolar AS, setara hampir 525 juta rupiah per kursi.

Scott Friedman menjelaskan bahwa kondisi tersebut kemungkinan merupakan bagian dari strategi yang dikenal sebagai slow ticketing.

Dalam metode ini, penyelenggara tidak langsung melepas seluruh stok tiket ke pasar, melainkan mendistribusikannya secara bertahap untuk menjaga permintaan tetap tinggi.

"Mereka bisa memberi kesan tiket hampir habis, lalu melepas sedikit demi sedikit agar calon pembeli terdorong segera membeli karena takut kehabisan."

Strategi seperti itu lazim digunakan pada berbagai ajang olahraga berskala besar.

Penerapan dynamic pricing juga memicu perdebatan. Sistem tersebut membuat harga tiket naik atau turun sesuai tingkat permintaan, mirip dengan mekanisme yang digunakan maskapai penerbangan atau industri perhotelan.

Profesor Teknik Industri dan Riset Operasi Universitas Columbia, Adam Elmachtoub, menilai publik sebenarnya sudah terbiasa dengan sistem tersebut. Namun, menurutnya, FIFA perlu lebih transparan mengenai mekanisme penentuan harga.

"Orang-orang bisa menerima dynamic pricing. Kita mengalaminya saat membeli tiket pesawat atau produk lainnya. Tetapi untuk ajang sebesar Piala Dunia, transparansi akan sangat membantu."

Sebagai respons atas kritik, FIFA kemudian menyediakan sejumlah tiket dengan harga lebih terjangkau setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak, termasuk Wali Kota New York Zohran Mamdani, yang meminta agar warga lokal tetap memiliki kesempatan menyaksikan pertandingan secara langsung.

Fenomena harga tinggi juga diperparah oleh pasar penjualan kembali (resale) di Amerika Serikat.

Berbeda dengan Meksiko yang melarang tiket dijual di atas harga pembelian, aturan di AS memberikan keleluasaan kepada pemilik tiket untuk menentukan harga sendiri.

Platform penjualan tiket SeatGeek mencatat harga rata-rata tiket final mencapai lebih dari 11.000 dolar AS, atau sekitar 180 juta rupiah.

Angka itu menjadikan final Piala Dunia 2026 sebagai acara dengan harga tiket tertinggi yang pernah dijual SeatGeek, bahkan sekitar 8 persen lebih mahal dibandingkan Super Bowl 2024.

Direktur Senior Pemasaran SeatGeek, Chris Leyden, mengatakan minat publik tetap luar biasa sejak fase grup hingga babak gugur.

"Permintaan terus berubah setiap kali pertandingan dan lawan baru diumumkan. Antusiasme terhadap turnamen ini bertahan dengan sangat baik dari fase grup hingga fase gugur."

Di balik kesuksesan komersial tersebut, sejumlah organisasi hak asasi manusia menilai Piala Dunia 2026 masih sulit diakses oleh banyak suporter.

Sport & Rights Alliance menyebut banyak pendukung dari berbagai negara gagal memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat.

Direktur Eksekutif Football Supporters Europe, Ronan Evain, bahkan menyebut turnamen ini lebih banyak dinikmati kelompok tertentu.

"Ini adalah Piala Dunia untuk segelintir orang yang beruntung. Mereka yang memiliki daya beli tinggi, tidak membutuhkan visa untuk masuk ke Amerika Serikat, dan mampu membayar harga tiket yang sangat mahal."

Meski menuai kritik soal aksesibilitas, satu hal tidak terbantahkan: strategi bisnis FIFA berhasil. Dengan stadion yang hampir selalu penuh dan tiket final yang menembus ratusan juta rupiah per kursi, Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa daya tarik sepak bola terbesar di dunia masih sanggup mengalahkan mahalnya harga yang harus dibayar para penggemarnya.

  • FIFA
  • tiket piala dunia 2026
  • Final Piala Dunia 2026

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.