- Home
-
- Luar Negeri
-
- Tren Positif Pandangan Mas...
Tren Positif Pandangan Masyarakat Dunia terhadap Tiongkok Meningkat, Alasan Ini Dibaliknya!
Minggu, 09 Agu 2026, 21:13 WIBBEIJING - Tiga tahun lalu, hasil jajak pendapat di Kanada menunjukkan kesenjangan tingkat persepsi positif yang sangat lebar antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
Namun, pada musim semi tahun ini, tingkat persepsi positif terhadap Tiongkok di Kanada telah melampaui AS, mencapai 44 persen dibandingkan 33 persen.
Perubahan tersebut menjadi sangat mencolok karena terjadi bukan di negara yang jauh, melainkan di salah satu sekutu dan mitra ekonomi terdekat AS.
Fenomena itu juga menjadi gambaran paling jelas dari perubahan yang jauh lebih luas. Dalam studi Pew Research Center pada Juli yang melibatkan 42.151 responden dewasa, Tiongkok dipandang lebih positif daripada AS di 25 dari 36 negara yang disurvei.
Perubahan ini mencerminkan pergeseran dalam hal apa yang kini diharapkan oleh sebagian besar dunia dari sebuah negara adidaya. Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, survei ini lebih dari sekadar pemeringkatan citra negara. Temuan survei tersebut menunjukkan adanya preferensi yang semakin kuat terhadap kemitraan alih-alih tekanan, prediktabilitas alih-alih ketidakpastian, serta pembangunan bersama alih-alih persaingan yang bermentalitas menang-kalah (zero-sum).
Daya tarik China
Daya tarik Tiongkok berawal dari pencapaiannya di dalam negeri. Selama lebih dari empat dekade, Tiongkok berhasil mengangkat hampir 800 juta penduduk keluar dari kemiskinan. Tiongkok membangun jaringan kereta cepat terbesar di dunia, bertransformasi menjadi kekuatan manufaktur, serta muncul sebagai pemimpin global di bidang kendaraan listrik, energi terbarukan dan layanan digital.
Secara keseluruhan, berbagai pencapaian tersebut menggambarkan kisah yang lebih besar, bahwa Tiongkok berulang kali mengubah rencana pembangunan jangka panjang menjadi perubahan yang dapat dirasakan masyarakat dalam hal pendapatan, mobilitas dan kehidupan sehari-hari.
Rekam jejak tersebut memiliki arti penting di tingkat internasional karena banyak negara sedang berupaya mengatasi masalah-masalah praktis yang sama dengan yang pernah dihadapi Tiongkok, seperti bagaimana membangun infrastruktur, menciptakan lapangan kerja di sektor industri, mengurangi kemiskinan, serta membuat teknologi baru terjangkau.
Wang Lei, profesor di Beijing Normal University, mengatakan semakin banyak akademisi di luar negeri mempelajari rencana pembangunan lima tahunan Tiongkok dan berusaha memahami logika tata kelola negara tersebut.
Menurut Wang, rekam jejak Tiongkok dalam hal pembangunan yang stabil dan peningkatan taraf hidup masyarakat telah menjadi "kartu nama" nasional Tiongkok yang paling meyakinkan. Dalam konteks ini, daya tarik Tiongkok lebih bertumpu pada hasil yang dicapai daripada cara negara itu mendeskripsikan dirinya.
Mitra yang andal
Pew tidak meminta responden menjelaskan alasan di balik pandangan mereka terhadap Tiongkok secara keseluruhan. Namun, di 17 negara berpendapatan menengah, lembaga tersebut menanyakan apakah Tiongkok merupakan mitra yang dapat diandalkan, mempertimbangkan kepentingan negara-negara seperti negara mereka sendiri, serta berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas global.
Di Afrika Selatan, 72 persen responden menyebut Tiongkok sebagai mitra yang andal. Sebanyak 64 persen menilai Tiongkok menghormati kepentingan negara mereka, dan persentase yang sama menyatakan Tiongkok berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas, meningkat dari 47 persen pada 2023.
Wang mengatakan bahwa temuan tersebut mencerminkan keinginan akan mitra yang kebijakannya tetap konsisten dan dapat diprediksi. Namun, keandalan lebih terbentuk bukan melalui retorika diplomatik, melainkan melalui pelaksanaan yang konsisten.
Sizo Nkala, peneliti di Pusat Kajian Afrika-China di Universitas Johannesburg, menyoroti jalur kereta, pelabuhan, pembangkit listrik dan jaringan komunikasi. "Kaum muda melihat semua hal ini."
Jalur Kereta Tiongkok-Laos, Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Indonesia, serta Pelabuhan Chancay di Peru menjadikan kerja sama Tiongkok terlihat nyata dalam skala nasional. Sementara itu, berbagai program berskala lebih kecil, mulai dari teknologi Juncao, Lokakarya Luban, hingga tim medis Tiongkok, memberi manfaat yang lebih langsung bagi masyarakat setempat.
Tiongkok juga terus memperluas kerja sama pembangunan ke bidang teknologi baru.
Dalam Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Conference/WAIC) 2026 di Shanghai, Tiongkok mengumumkan 5.000 peluang pelatihan AI bagi negara-negara berkembang selama lima tahun ke depan.
Tiongkok juga bergabung dengan 28 negara lain dalam mendirikan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization/WAICO).
Langkah tersebut menjawab kekhawatiran yang semakin besar di negara-negara berkembang bahwa negara yang kekurangan keahlian teknologi dan tidak memiliki suara dalam tata kelola AI berisiko semakin tertinggal.
Inisiatif semacam itu juga memperluas makna kemitraan dengan Tiongkok, dari sekadar membangun jalan dan pelabuhan menjadi berbagi pengetahuan yang dibutuhkan untuk tahap pembangunan berikutnya.
Terbuka terhadap wisatawan
Pembukaan Tiongkok yang lebih luas bagi wisatawan asing juga menciptakan jutaan interaksi kecil. Kebijakan transit bebas visa selama 240 jam kini tersedia bagi wisatawan dari 55 negara.
Para pengunjung membanjiri feed media sosial dengan video-video tentang kereta cepat, sistem pembayaran digital, pasar malam, hingga kehidupan sehari-hari di jalanan Tiongkok.
Video-video semacam itu memang tidak dapat menjelaskan sendiri hasil jajak pendapat di 36 negara, tetapi memungkinkan masyarakat dunia untuk membandingkan kesan yang mereka miliki sebelumnya dengan pengalaman secara langsung.
Roger Tan Wei Jian, wakil sekretaris jenderal Asosiasi Interaksi Malaysia-Tiongkok, mengatakan kunjungannya ke Tiongkok memperlihatkan kepadanya sebuah negara yang berbagi pengalamannya dalam transformasi ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan inovasi, sekaligus tetap mendengarkan pendapat negara lain. Hal yang membuatnya terkesan adalah upaya mencapai kemajuan melalui "pertukaran timbal balik, saling belajar, dan penciptaan peluang kerja sama".
Budaya
Film animasi "Ne Zha 2" dan gim video "Black Myth: Wukong" menghadirkan kembali mitologi Tiongkok dalam kemasan kontemporer.
Sementara itu, penetapan Festival Musim Semi oleh UNESCO turut meningkatkan visibilitas tradisi itu di berbagai belahan dunia.
Secara bersama-sama, berbagai ekspresi budaya tersebut menggambarkan Tiongkok yang tidak hanya kuno, tetapi juga kreatif, modern dan terbuka.
Pandangan terhadap suatu negara berubah ketika negara yang semula terasa jauh mulai hadir secara nyata, ketika jalur kereta dibuka, sebuah perjalanan dimulai, teknologi digunakan, atau sebuah kisah diceritakan. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.