Peneliti UI Temukan Lumut Epifit Berpotensi Jadi Indikator Kualitas Lingkungan Perkotaan

Kamis, 16 Jul 2026, 04:00 WIB

Depok - Akademisi jenjang doktoral dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), Afiatry Putrika menyatakan bahwa lumut epifit memiliki potensi luar biasa untuk dimanfaatkan sebagai indikator kualitas lingkungan di kawasan urban.

Temuan tersebut disampaikan Afiatry dalam disertasinya yang berjudul “Studi Keanekaragaman dan Adaptasi Lumut Epifit pada Kawasan Urban Selatan Jakarta yang Berpotensi sebagai Indikator Kualitas Lingkungan”.

Afiatry di Kampus UI Depok, Rabu (15/7), menjelaskan bahwa struktur komunitas, tingkat keanekaragaman, dan kemampuan adaptasi lumut epifit berkaitan erat dengan kondisi lingkungan perkotaan yang dipengaruhi polusi udara dan peningkatan suhu.

Berkat temuan tersebut, Afiatry secara resmi meraih gelar doktor dengan raihan IPK 3,88 dalam sidang promosi.

Lumut epifit merupakan lumut yang hidup menempel pada batang atau cabang pohon. Berbeda dengan tumbuhan parasit, lumut ini tidak mengambil nutrisi dari tanaman inangnya, melainkan dari udara dan air hujan.

Karena itu, lumut epifit sangat peka terhadap perubahan kualitas lingkungan sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bioindikator.

“Lumut memang terlihat sederhana, tetapi keberadaannya dapat menjadi penanda kondisi lingkungan. Keanekaragaman lumut epifit dapat dimanfaatkan untuk memantau kualitas lingkungan di kawasan urban,” kata Afiatry.

Penelitian dilakukan di berbagai ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah selatan Jakarta dengan mengkaji hubungan struktur komunitas lumut epifit dengan faktor lingkungan, karakter adaptasi morfologi dan anatomi, serta respons molekuler melalui ekspresi gen heat shock protein 70 (hsp70) terhadap cekaman suhu.

Menurut Afiatry, kajian mengenai lumut sebagai bioindikator kualitas lingkungan masih terbatas di Indonesia, terutama yang menghubungkan aspek keanekaragaman, faktor lingkungan, dan mekanisme adaptasinya secara terpadu.

“Harapannya, penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan biomonitoring kualitas lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan ruang terbuka hijau yang lebih berkelanjutan di kawasan perkotaan,” ujarnya.

Temuan ini membuka peluang pemanfaatan lumut epifit sebagai indikator alami kualitas lingkungan di kawasan perkotaan.

Dengan memantau keberadaan dan keanekaragaman lumut epifit, pemerintah maupun pengelola ruang terbuka hijau dapat memperoleh gambaran awal mengenai dampak polusi udara dan peningkatan suhu sehingga upaya pengelolaan lingkungan dapat dilakukan lebih tepat sasaran.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.