Waspada Musim Kering, 25 Kecamatan Tangerang Rawan Kebakaran

Rabu, 15 Jul 2026, 01:10 WIB

TANGERANG - Musim kemarau panjang berdampak kekeringan di sedikitnya 25 kecamatan Kabupaten Tangerang, sehingga mengakibatkan rawan kebakaran

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Banten, mencatat sebanyak 25 wilayah kecamatan masuk dalam zona rawan terjadinya musibah kebakaran lahan, gedung hingga kekeringan selama musim kemarau.

Ket. Foto: Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik memberikan keterangan resmi di Tangerang, Banten pada Selasa (30/6). — Sumber: ANTARA/Azmi Samsul M

“Sekitar 25 kecamatan potensi kebakaran, baik lahan ilalang, gedung, maupun lapak limbah-limbah yang dikoordinir oleh pengusaha limbah,” kata Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik, di Tangerang, Selasa.

Ia mengatakan, berdasarkan hasil pemetaan pada riwayat kejadian kebakaran di puluhan kecamatan itu terdapat kawasan industri, pergudangan dan lapak limbah. Mereka ada di Kosambi, Teluknaga, Curug, Tigaraksa, Cikupa dan sekitarnya. Lokasi tersebut sangat rentan terbakar akibat suhu panas ekstrem pada musim kemarau ini.

“Terutama wilayah-wilayah industri dan pergudangan, serta wilayah yang banyak limbah, di antaranya di Kosambi, Teluknaga, Cikupa, Curug, Tigaraksa. Itu wilayah-wilayah industri rawan kebakaran,” tuturnya.

Achmad menjelaskan, selain ancaman kebakaran, dampak kemarau ekstrem pada tahun ini atau kerap diistilahkan sebagai El Nino Godzilla yang akan melanda wilayah kecamatan juga memicu terjadinya kekeringan, baik untuk kepentingan warga maupun pertanian. Meskipun demikian, hingga saat ini baru satu kecamatan di Kabupaten Tangerang yang secara resmi dilaporkan mengalami krisis air bersih dan telah mendapatkan penanganan.

“Yang kelihatan saat ini kekurangan air bersih itu baru di Kecamatan Curug dan kita sudah bantu distribusi air bersih di wilayah itu. Kita selalu stay petugas-petugas dengan armadanya,” ujarnya.

Untuk mengoptimalkan penyaluran bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan yang tidak bisa ditangani sendiri, BPBD Kabupaten Tangerang memastikan sinergi lintas instansi akan dilakukan sebagaimana peran dan kewajiban dari lembaga masing-masing.

Apabila ada kekeringan, kita bantu suplai air bersih. Kemudian koordinasi dengan PDAM dan Perkim (Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pemakaman). Jadi bukan BPBD sendiri, ada PDAM dan Perkim untuk suplai air apabila tidak bisa ditangani sendiri oleh BPBD.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada bulan Juli hingga September 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resminya menyebut bahwa kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk memastikan ketersediaan air, kondisi kesehatan, serta kebutuhan multisektor yang terdampak dapat terkendali.

Pada puncak kemarau yang dimulai Juli mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia. Sedangkan, puncak kemarau terjadi di 369 ZOM (48,84 persen luas daratan) pada Agustus dan 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) pada September.

Faisal mengungkapkan, wilayah yang diprediksi mengalami puncak kemarau Juli meliputi sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, dan Sulawesi Tengah bagian barat. Kemudian sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur.

Pada bulan Agustus puncak musim kemarau terjadi di Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan sebagian Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

Sebanyak 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) memasuki puncak kemarau pada bulan September. Ini meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

Jangan Bakar

Sementara itu, Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid minta warga agar berhenti membakar sampah secara ilegal di pekarangan maupun lahan terbuka. Ini untuk mencegah terjadinya kebakaran selama musim kemarau.

“Sebetulnya kemarin juga sudah kita beritahukan atau diimbau kepada masyarakat. Jangan lagi membakar sampah di area atau wilayah sekitar,” ujar Bupati Maesyal di Tangerang, Selasa.

  • antisipasi kebakaran

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.