VAR-gentina? Teori Konspirasi Menggema Jelang Semifinal Piala Dunia
Rabu, 15 Jul 2026, 07:00 WIBATLANTA â Penampilan gemilang Lionel Messi kembali menjadi motor utama keberhasilan Argentina melaju ke semifinal Piala Dunia. Tim juara bertahan kini bersiap menghadapi Inggris dalam laga akbar di Atlanta, Kamis (16/7) dini hari WIB.
Namun, perjalanan Albiceleste menuju empat besar tak hanya diwarnai pujian. Di media sosial, bermunculan berbagai teori konspirasi yang menuding Argentina mendapat perlakuan istimewa sepanjang turnamen, meski hingga kini tidak ada bukti yang mendukung tuduhan tersebut.
Video hasil kecerdasan buatan (AI), meme, hingga berbagai unggahan viral ramai menyebarkan narasi bahwa FIFA sengaja memuluskan langkah Argentina. Salah satu yang paling banyak dibagikan adalah video editan Presiden FIFA Gianni Infantino dan Lionel Messi berpelukan mesra di atas kapal Titanic, meniru adegan ikonik Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet. Ada pula gambar bendera Argentina yang dimodifikasi dengan wajah Infantino menggantikan simbol Matahari Mei di bagian tengah.
Mulai dari keputusan wasit yang diperdebatkan, penggunaan Video Assistant Referee (VAR), hingga anggapan Argentina memperoleh jalur undian yang lebih ringan menuju semifinal, semuanya menjadi bahan bakar berkembangnya teori konspirasi tersebut.
Berikut sejumlah momen yang menjadi sorotan.
Messi Lolos dari Kartu Merah
Kontroversi pertama muncul saat Argentina mengalahkan Aljazair pada fase grup.
Ketika Argentina unggul 1-0, Lionel Messi terlihat menginjak betis hingga tendon Achilles kapten Aljazair, Aissa Mandi, pada menit ke-30. Wasit asal Polandia, Szymon Marciniak, hanya memberikan tendangan bebas kepada Aljazair tanpa menjatuhkan hukuman kartu kepada Messi.
Messi kemudian melanjutkan pertandingan dan mencetak hattrick.
Keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah analis. Mantan bek Manchester City yang kini menjadi analis ESPN, Nedum Onuoha, menilai tindakan Messi seharusnya diganjar kartu merah karena memenuhi unsur pelanggaran serius. "Menurut saya itu seharusnya kartu merah. Messi tahu tindakannya bisa membuatnya bermasalah."
Pendapat serupa disampaikan mantan wasit Bundesliga, Patrick Ittrich. "Bagi saya itu kartu merah. Kami sudah melihat banyak kasus serupa di Bundesliga yang dihukum kartu merah. Jika saya melihatnya langsung di lapangan, saya akan mengeluarkan kartu merah."
Federasi Sepak Bola Aljazair kemudian mengajukan protes resmi kepada FIFA dengan alasan terjadi "ketidakadilan dalam kepemimpinan wasit".
Mesir Pertanyakan Keputusan VAR
Drama berikutnya terjadi pada babak 16 besar ketika Argentina bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk mengalahkan Mesir 3-2.
Usai pertandingan, kubu Mesir melontarkan protes keras terhadap sejumlah keputusan wasit asal Prancis, François Letexier.
Kontroversi terbesar terjadi saat Mesir mencetak gol pada babak kedua. Gol tersebut dianulir setelah VAR meninjau sebuah pelanggaran terhadap pemain Argentina yang terjadi beberapa fase sebelum Mostafa Zico mencetak gol.
Sejumlah pengamat menilai VAR telah melampaui kewenangannya. Mantan wasit FIFA Mark Clattenburg mengatakan VAR tampak "mencari-cari alasan" untuk membatalkan gol Mesir.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, bahkan mengklaim timnya layak memperoleh penalti sebelum gol kemenangan Enzo Fernández tercipta.
"Sepertinya ada tekanan dari kubu Argentina terhadap wasit hingga menghasilkan keputusan seperti ini."
Ia juga mempertanyakan apakah ada keinginan mempertahankan juara bertahan dan menjaga peluang Messi tetap tampil di turnamen.
Namun, Kepala Departemen Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, menolak seluruh tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar.
VAR Kembali Jadi Sorotan
Kontroversi lain terjadi pada perempat final saat Argentina mengalahkan Swiss 3-1 setelah perpanjangan waktu.
Pada menit ke-70, wasit João Pinheiro sempat memberikan kartu kuning kepada gelandang Argentina Leandro Paredes karena dianggap melanggar Breel Embolo.
Namun setelah peninjauan VAR menggunakan aturan baru FIFA mengenai mistaken identity, diputuskan bahwa Embolo justru melakukan aksi simulasi.
Keputusan tersebut dibalik. Karena Embolo sebelumnya telah menerima kartu kuning, ia akhirnya mendapat kartu kuning kedua yang berujung kartu merah.
Swiss harus bermain dengan 10 orang dan kehilangan momentum. Argentina kemudian memastikan kemenangan pada babak tambahan.
Pelatih Swiss Murat Yakin mengecam aturan tersebut. "Kami dihukum oleh aturan yang menurut saya sama sekali tidak bisa diterima."
Meski demikian, tidak sedikit pengamat yang menilai keputusan VAR sudah tepat karena Embolo memang melakukan diving.
Kolumnis USA Today, Nancy Armour, bahkan menyindir para pendukung teori konspirasi.
"Jika ingin mengatakan FIFA mengatur Piala Dunia demi Lionel Messi dan Argentina, Anda harus memiliki bukti yang jauh lebih kuat daripada ini."
Jalur Argentina Dinilai Lebih Ringan
Selain keputusan wasit, jalur pertandingan Argentina menuju semifinal juga menjadi sasaran kritik.
Sejauh ini, lawan dengan peringkat FIFA tertinggi yang dihadapi Argentina hanyalah Swiss yang berada di posisi ke-19 dunia.
Setelah lolos dari grup yang dihuni Aljazair, Yordania, dan Austria, Argentina kemudian menghadapi Tanjung Verde, Mesir, dan Swiss di fase gugur sebelum akhirnya bertemu Inggris di semifinal.
Namun, kondisi tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi dari sistem unggulan FIFA yang menempatkan empat tim terbaik dunia di bagan berbeda agar baru dapat bertemu pada semifinal.
Inggris sendiri belum menghadapi tim penghuni 10 besar dunia sepanjang turnamen. Sementara Prancis harus menyingkirkan Maroko yang menempati peringkat ketujuh dunia pada perempat final.
Adapun Spanyol dianggap menjalani jalur tersulit karena harus mengalahkan Portugal (peringkat kelima dunia) dan Belgia (peringkat kesembilan) sebelum memastikan tiket ke semifinal.
Meski teori konspirasi terus berkembang di media sosial, hingga kini belum ada bukti konkret yang menunjukkan FIFA sengaja menguntungkan Argentina. Sebagian besar kontroversi yang muncul masih berkutat pada interpretasi keputusan wasit dan penggunaan VAR, dua aspek yang memang kerap memicu perdebatan dalam sepak bola modern.
- Piala Dunia 2026
- Lionel Messi
- Timnas Argentina
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Piala Dunia, Tendangan Jarak Dekat Bellingham Serukan Laga Inggris Melawan Norwegia
-
Piala Dunia, Bawa Prancis Unggul Sementara, Mbappe Samai Messi dalam Mencetak Gol
-
Piala Dunia, Bellingham Bawa Inggris Unggul Sementara 2-1 Lawan Norwegia
-
Masa Depan Leandro Trossard di Arsenal Masih Abu-Abu, Besiktas Ajukan Tawaran Verbal 322 Miliar Rupiah
-
Piala Dunia, Spanyol Lolos ke Babak 8 Besar, Tundukkan Portugal 1-0
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.