Indonesia Darurat Kesehatan Mental Anak-anak
Senin, 13 Jul 2026, 03:08 WIBJAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan dibutuhkan langkah nyata dan kolaborasi untuk mengatasi darurat kesehatan mental anak-anak generasi penerus bangsa.
âDibutuhkan langkah nyata bersama dalam mewujudkan generasi penerus yang berdaya saing dengan mendorong agar kesehatan jiwa atau mental anak mendapat perhatian serius semua pihak,â kata Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (12/7).
Rerie mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis yang dirilis Kementerian Kesehatan pada Januari 2026, sebanyak 4,8 persen atau sekitar 363.326 anak berusia 7â17 tahun terindikasi memiliki gejala depresi.
Selain itu, Polri sebelumnya juga mencatat kasus bunuh diri pada kelompok usia anak 0â15 tahun meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun, dari 604 kasus pada 2022 menjadi 1.498 kasus pada 2024.
Menurutnya, catatan tersebut menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan. Masalah kesehatan mental anak seringkali erat kaitannya dengan pengalaman kekerasan yang pernah dialami anak.
Guna mengatasi masalah tersebut, Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu, menekankan pentingnya pelibatan anak dan pihak-pihak terkait lainnya dalam proses mencari solusi.
Dengan begitu, kebijakan yang lahir memiliki perspektif anak sehingga upaya yang dilakukan dapat lebih komprehensif dalam meningkatkan kesehatan mental anak.
Dia juga mendorong agar penanganan kasus kekerasan dan masalah kesehatan mental anak mendapatkan dukungan serta melibatkan semua pihak terkait sebab kesehatan mental anak yang baik merupakan fondasi penting menuju visi Indonesia Emas 2045.
âTanpa kesiapan mental dan psikologis yang sehat, generasi penerus akan kesulitan menghadapi tantangan global dan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa,â ucapnya.
Generasi Unggul
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mendukung pelaksanaan skrining dan deteksi dini anemia pada ibu hamil dan balita yang disertai edukasi gizi berkala untuk mencegah gangguan kesehatan yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.
âMenyiapkan generasi yang unggul tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga dengan memastikan kesehatan dan pemenuhan gizi sejak awal kehidupan,â kata Menteri PPPA Arifah Fauzi di sela kegiatan Skrining dan Edukasi ÂPencegahan Anemia untuk Generasi Sehat dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2026 di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, pemenuhan zat besi pada perempuan dan anak penting, karena berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi anemia ibu hamil mencapai 27,7 persen, sedangkan balita mencapai 23,08 persen, serta 15,5 persen pada remaja putri.
Ia menegaskan bahwa pemenuhan hak anak atas kesehatan harus dimulai sejak dalam kandungan sebagai fondasi dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
Menurut dia, anemia pada ibu hamil maupun anak dapat menghambat tumbuh kembang anak dan berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Oleh karena itu, upaya menjaga kesehatan ibu hamil, memastikan kecukupan gizi, serta melakukan deteksi dini terhadap berbagai faktor risiko, termasuk anemia, merupakan bagian penting dari upaya melindungi anak sejak awal kehidupannya.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan mengatakan, sebanyak 59.561.278 peserta dilayani dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) per 5 Juli 2026, dari jumlah sekitar 130 juta yang ditargetkan pada 2026 oleh Pemerintah.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Aji Muhawarman mengatakan dari jumlah tersebut kelompok usia dewasa menjadi yang paling banyak diperiksa CKG, yaitu sekitar 35,7 juta orang.
Kemudian, provinsi dengan cakupan tertinggi terhadap sasaran penduduk adalah Gorontalo sebesar 39,8 persen dan terendah adalah Papua Pegunungan sebesar 0,6 persen.
âPenyakit atau faktor risiko yang paling banyak ditemukan yakni pada bayi baru lahir risiko penyakit jantung bawaan sebanyak 20,946 atau 4,3 persen; balita dan anak prasekolah gigi karies 614,427 sebanyak 23,9 persen,â katanya di Jakarta, Sabtu (11/7).
Kemudian, pada anak usia sekolah dan remaja ditemukan 2,994,482 atau 40,9 persen mengalami gigi karies. Sementara itu, pada orang dewasa ditemukan 13,133,414 atau 46,5 persennya kurang aktivitas fisik. Pada lansia, sebanyak 3,211,946 atau 51,5 persen kurang aktivitas fisik.
Dari seluruh peserta tersebut, katanya, sebanyak 753.884 orang dirujuk ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan rawat jalan.
âMeski capaian CKG pada tahun 2026 hingga saat ini berjalan on track, namun pelaksanaan CKG masih menghadapi berbagai tantangan,â kata Aji. Ant/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
12 Sapi Kurban Diserahkan BUMN pangan untuk Bantu Masyarakat Riau
-
Distrik Wari dan Douw Jadi Saksi, Program 1.000 HPK Tolikara Berhasil Guncang Papua
-
Tren Properti Bergeser, Minat Sewa Rumah Lampaui Pembelian
-
41 Mahasiswa Indonesia Timur Ditempa Jadi Calon Pemimpin Lewat Program Beasiswa
-
Menteri Kebudayaan Jajaki Kerja Sama Industri Film dan Pengobatan Tradisional dengan China
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.