B50 Bukan Sekadar Energi, Indef Sebut Penopang Neraca Perdagangan

Senin, 13 Jul 2026, 14:10 WIB

JAKARTA – Penerapan biodiesel B50 menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor solar.

Dengan meningkatkan porsi campuran biodiesel berbasis minyak sawit hingga 50 persen, pemerintah berupaya menciptakan nilai tambah bagi industri sawit domestik, menekan emisi karbon, dan memperbaiki neraca perdagangan.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petugas mengalirkan bahan bakar biodiesel 50% (B50) ke dalam drum penyimpanan di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, Bandung Barat, Jabar. — Sumber: ANTARA FOTO/ Abdan Syakur

Namun, keberhasilan implementasi B50 sangat bergantung pada kesiapan pasokan bahan baku, kualitas bahan bakar, kesiapan teknologi mesin, serta koordinasi antara pemerintah, produsen, dan pelaku industri agar transisi berlangsung efektif tanpa mengganggu kinerja sektor transportasi dan logistik.

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio menilai penerapan B50 membantu neraca perdagangan dengan cara memotong impor BBM.

"B50 membantu neraca perdagangan dengan cara memotong impor BBM. Setiap liter Fatty Acid Methyl Ester (FAME) menggantikan satu liter solar fosil, dan pada harga distilat hari ini yang sekitar 138 dolar AS per barel, penghematannya bernilai sekitar 0,80 dolar AS sampai 0,87 dolar AS per liter," ujar Andry saat dihubungi di Jakarta, Senin (13/7).

Angka ini besar, katanya, justru karena harga solar dunia sedang tidak normal. Minyak mentah sudah turun ke sekitar 72 dolar AS per barel, tetapi harga solar tidak ikut turun akibat gangguan pasokan distilat di Selat Hormuz.

Dengan demikian, selisih harga antara minyak mentah (bahan baku) dan produk olahan yang dihasilkan darinya atau crack spread melonjak ke 70 sampai 75 persen dari nilai satu barel minyak mentah, dari sekitar 27 persen pada awal tahun.

Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto meminta para ilmuwan dan perguruan tinggi terus mengembangkan riset di sektor energi terbarukan agar Indonesia tidak berhenti pada implementasi mandatori biodiesel B50.

Menurut Presiden Prabowo, pengembangan biodiesel harus terus dilanjutkan menuju tingkat campuran yang lebih tinggi sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.

Presiden mengungkapkan bahwa sejak sebelum dilantik hingga resmi menjabat sebagai kepala negara, ia secara konsisten mendorong percepatan terwujudnya kemandirian energi Indonesia.

Ia mengatakan usulan menuju B100 sempat dibahas bersama jajaran menterinya. Namun, pemerintah menilai penerapan B50 sudah mampu memberikan dampak signifikan, termasuk menghilangkan ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.

Menurut Prabowo, keberhasilan mencapai B50 merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memastikan kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.