Zverev Percaya Diri Menghadapi Ujian Terberat Lawan Sinner di Final Wimbledon 2026
Minggu, 12 Jul 2026, 10:23 WIBLONDON â Alexander Zverev datang ke final Wimbledon 2026 dengan kepercayaan diri yang sedang berada di puncaknya. Namun, petenis Jerman itu harus menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya ketika berjumpa unggulan pertama dunia, Jannik Sinner, pada partai puncak yang digelar Minggu (12/7) malam WIB.
Zverev berharap keberhasilannya menjuarai Prancis Open beberapa pekan lalu menjadi awal dari rangkaian kesuksesan berikutnya. Ia kini berpeluang mencatat sejarah dengan meraih gelar Grand Slam kedua secara beruntun sekaligus mengakhiri dominasi Sinner di lapangan rumput All England Club.
Meski demikian, statistik tidak berpihak kepada petenis berusia 29 tahun tersebut. Sinner selalu menang dalam sembilan pertemuan terakhir mereka, bahkan menyapu bersih 14 set secara beruntun. Rekor itu menjadi modal besar bagi petenis Italia tersebut untuk mempertahankan gelar Wimbledon.
Di sisi lain, Zverev memiliki alasan kuat untuk optimistis. Ia menjadi petenis putra Jerman pertama yang menembus final Wimbledon sejak Boris Becker melakukannya pada 1995. Keberhasilan itu melanjutkan performa impresifnya setelah merebut gelar French Open, turnamen yang dimenanginya setelah juara bertahan Carlos Alcaraz absen akibat cedera pergelangan tangan, sementara Sinner tersingkir lebih awal setelah mengalami penurunan performa di Roland Garros.
Pada final Prancis Open, Zverev mengatasi tekanan untuk mengalahkan petenis Italia Flavio Cobolli. Gelar tersebut sekaligus menghentikan dominasi Alcaraz dan Sinner yang sebelumnya bergantian menguasai sembilan gelar Grand Slam terakhir.
Selama ini Wimbledon bukan turnamen yang bersahabat bagi Zverev. Padahal, ia dikenal memiliki servis keras dan pukulan backhand yang menjadi senjata utama. Namun musim ini situasinya berubah. Kepercayaan diri yang dibawanya dari Paris membuat permainannya di lapangan rumput meningkat drastis.
Perjalanan menuju final menjadi bukti nyata. Zverev menyingkirkan Jiri Lehecka dari Republik Ceko pada babak kedua, mengalahkan petenis Amerika Serikat Taylor Fritz yang memiliki servis eksplosif di perempat final, sebelum menundukkan wildcard tuan rumah Arthur Fery pada semifinal.
Rangkaian kemenangan tersebut memperlihatkan seorang Zverev yang tampil jauh lebih percaya diri dibandingkan musim-musim sebelumnya.
"Begitu Anda memenangkan gelar Grand Slam, Anda tahu bagaimana cara melakukannya dan merasa bisa mengulanginya lagi. Perasaan itu muncul dari dalam diri," kata Zverev.
Perubahan paling mencolok dalam permainan Zverev sepanjang Wimbledon tahun ini adalah peningkatan kualitas forehand. Jika sebelumnya pukulan itu kerap menjadi kelemahannya, kini justru berubah menjadi senjata mematikan.
Saat menghadapi Arthur Fery di semifinal, Zverev menghasilkan 22 winner melalui forehand, jauh lebih banyak dibanding delapan winner dari backhand yang selama ini menjadi andalannya.
"Saya memang berusaha memainkan gaya permainan yang lebih agresif. Saya ingin lebih banyak mengambil inisiatif dalam setiap reli. Forehand menjadi bagian yang sangat penting dari perubahan itu," ujar Zverev.
Apabila mampu mengalahkan Sinner di final, Zverev akan menjadi petenis ketujuh dalam sejarah yang sukses menyapu bersih gelar Prancis Open dan Wimbledon pada musim yang sama.
Meski Zverev tengah menikmati momentum terbaiknya, Sinner tetap menjadi favorit kuat.
Petenis nomor satu dunia itu menunjukkan performa luar biasa ketika menghentikan juara tujuh kali Wimbledon Novak Djokovic dalam tiga set langsung di semifinal. Kemenangan tersebut menjadi pernyataan tegas bahwa dirinya tetap berada di level tertinggi meski sempat diragukan sebelum turnamen dimulai.
Sinner sebelumnya dipertanyakan kemampuannya bermain di tengah suhu panas London yang mengalami gelombang panas ketiga musim panas ini. Namun keraguan tersebut berhasil dijawab dengan performa konsisten sepanjang turnamen.
Sempat dipaksa bermain lima set saat menghadapi Miomir Kecmanovic pada putaran pertama, Sinner terus berkembang di setiap pertandingan. Saat menghadapi Djokovic, kekuatan pukulan dan akurasi khasnya kembali terlihat. Ia juga tampil luar biasa di belakang garis servis dengan mencatatkan 16 ace serta hanya kehilangan enam poin dari servis pertamanya.
Sinner terakhir kali kalah dari Zverev pada US Open 2023. Sejak saat itu, petenis Italia tersebut selalu keluar sebagai pemenang. Bahkan, pertemuan mereka di final Australian Open 2025 berakhir dengan kemenangan telak Sinner dalam tiga set langsung, hasil yang sempat mengguncang mental Zverev.
Meski memiliki rekor pertemuan yang sangat dominan, Sinner menilai lawannya kali ini akan tampil berbeda karena datang dengan kepercayaan diri baru setelah akhirnya merasakan gelar Grand Slam pertamanya.
"Dia sudah berusaha sangat lama. Ketika akhirnya berhasil menjadi juara, perasaan itu luar biasa dan memberi tambahan kepercayaan diri. Kita bisa melihatnya lagi di Wimbledon. Dia bermain sangat agresif, servisnya sangat kuat, dan dia selalu menjadi lawan yang sulit dihadapi," kata Sinner.
Final Wimbledon kali ini diperkirakan menjadi pertarungan menarik antara dominasi Sinner sebagai petenis nomor satu dunia dan kebangkitan Zverev yang tengah menikmati momentum terbaik dalam kariernya. Selain memperebutkan trofi paling bergengsi di lapangan rumput, duel ini juga menjadi pembuktian apakah Zverev mampu mematahkan kutukan atas Sinner atau justru sang juara bertahan kembali menegaskan dominasinya di panggung Grand Slam.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Jannik Sinner Siap Catatkan Career Grand Slam di Roland Garros
-
Ledakan Tambang di Tiongkok, 90 Tewas
-
Pecahkan Rekor Roger Federer, Djokovic Melaju Perempat Final Wimbledon
-
Manchester United Percayakan Kursi Pelatih Permanen kepada Carrick
-
Persib VS Persijap: Babak Pertama Laga Tanpa Gol, Maung Bandung Ketar Ketir
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.