- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Lancarkan Serangan Baru...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran Setelah Kapal Kontainer Dihantam di Selat Hormuz
Minggu, 12 Jul 2026, 10:10 WIBDUBAI - Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada hari Minggu (12/7) "sampai pemberitahuan lebih lanjut" setelah menembaki sebuah kapal yang menurut mereka mengambil rute yang tidak sah, memicu serangan balasan AS.
Penutupan jalur air strategis ini menandai eskalasi terbaru dalam perselisihan yang telah menjadi salah satu hambatan utama menuju kesepakatan akhir antara AS dan Iran.
Teheran bersikeras akan mengatur pelayaran melalui Hormuz, sementara Washington menuntut navigasi tanpa batasan melalui jalur yang mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan pada hari Minggu, mereka menyerang dan menghentikan sebuah kapal yang berulang kali mengabaikan instruksi untuk menggunakan koridor pelayaran yang telah disetujui, menurut pernyataan yang dimuat kantor berita negara IRNA.
"Menyusul insiden ini ... Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan hingga berakhirnya intervensi Amerika di wilayah ini dan tidak ada kapal yang diizinkan untuk melewatinya," kata Garda Revolusi.
Meskipun Iran menyebut serangan terhadap kapal itu sebagai "tembakan peringatan", militer AS mengatakan Teheran "secara terang-terangan menyerang" sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz.
Seorang anggota kru hilang dan kapal tersebut lumpuh akibat kebakaran dan kerusakan di ruang mesinnya, kata Komando Pusat AS (CENTCOM).
"Sebagai tanggapan, Amerika Serikat memberikan konsekuensi berat dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal dagang yang bebas melintasi selat tersebut," demikian pernyataan di X.
Serangan yang dimulai pukul 19.15 Sabtu malam waktu Washington itu merupakan putaran ketiga yang dilakukan minggu ini dan berlangsung atas arahan Presiden Donald Trump, kata CENTCOM.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth hanya mengatakan: "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka menanggung akibatnya."
Situasi Kritis
Serangan-serangan sebelumnya yang dilancarkan Teheran terhadap kapal-kapal di selat tersebut telah memicu baku tembak antara Iran dan Amerika Serikat, yang menyulut retorika panas antara kedua pihak yang berseteru.
Ketegangan tersebut mengancam kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri perang Timur Tengah, yang meletus pada akhir Februari dengan serangan besar-besaran AS-Israel yang menewaskan mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei.
Kendala utama untuk mencapai kesepakatan akhir adalah masa depan Selat Hormuz, yang ditutup Iran untuk pelayaran komersial selama perang.
Jalur air ini merupakan jalur utama untuk ekspor minyak dan gas dari Teluk yang kaya energi, dan penutupannya telah berdampak besar pada perekonomian dunia.
Iran bersikeras mengendalikan lalu lintas kapal dan telah mengumumkan rencana untuk mengenakan biaya, dengan mengatakan bahwa tidak akan ada kembali ke navigasi bebas seperti era sebelum perang - sebuah sikap yang ditolak Washington.
Berdasarkan hukum kebiasaan internasional, negara-negara umumnya tidak diperbolehkan memungut biaya tol di selat yang digunakan untuk navigasi internasional.
Balas Dendam
Serangan terbaru ini terjadi ketika pemimpin tertinggi Iran bersumpah akan membalas dendam atas pembunuhan ayahnya dan pendahulunya oleh AS-Israel, beberapa jam setelah Trump mengancam akan melakukan pembalasan keras jika terjadi upaya pembunuhan terhadapnya.
Trump telah menyatakan gencatan senjata mereka berakhir sambil tetap membuka pintu untuk pembicaraan, dan para mediator telah mencoba menyelamatkan solusi diplomatik. Media Iran melaporkan bahwa sebuah delegasi dari Qatar melakukan perjalanan ke Iran pada hari Jumat.
"Pembalasan dendam adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan," kata pemimpin tertinggi baru Mojtaba Khamenei dalam pesan tertulis.
"Masalah ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya maupun pejabat lainnya. Baik kita hadir atau tidak, hal itu akan terjadi," tulisnya dalam pesan pertamanya sejak pemakaman ayahnya pekan ini.
Dia mengatakan Iran telah menyusun daftar individu yang akan menjadi target.
Khamenei belum terlihat di depan umum sejak sebelum perang, dan dilaporkan terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya.
Beberapa jam sebelumnya, Trump telah mengunggah di platform Truth Social miliknya bahwa setiap upaya untuk membunuhnya akan menyebabkan Amerika Serikat "menghancurkan sepenuhnya" Iran.
"1000 rudal telah siap ditembakkan dan diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan rudal lainnya akan segera menyusul, jika Pemerintah Iran bertindak sesuai ancamannya, yang diumumkan di banyak penjuru dunia, untuk membunuh, atau mencoba membunuh, Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, dalam hal ini, SAYA!", tulisnya.
Di tengah ancaman yang beredar, para mediator telah berupaya mengembalikan diplomasi ke jalur yang benar. Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan pada hari Jumat bahwa delegasi Qatar mengunjungi Iran untuk "berupaya memperkuat peran Qatar sebagai mediator".
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran telah mematuhi bagiannya dalam kesepakatan berdasarkan nota kesepahaman yang dicapai antara pihak-pihak yang bertikai bulan lalu, tetapi menambahkan: "Hanya ada kepatuhan timbal balik."
- Perang AS-Iran
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Kemenkes Gercep Antisipasi Ancaman Virus Ebola
-
Memanas Lagi, Iran Serang Bahrain dan Kuwait Balas Serangan Baru AS, Ancam Hentikan Perundingan
-
Serangan Udara AS Menghantam 10 Target Militer Iran
-
Belajar dari 20 Tahun Gempa Yogya, Pendidikan Tangguh Bencana Diperkuat
-
Media AS: Amerika Serikat dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, akan Bertemu di Qatar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.