Tangis Haru Warga Indramayu Pecah, 100 Rumah Akhirnya Nikmati Listrik Tenaga Surya.
Sabtu, 11 Jul 2026, 06:32 WIBÂ Tangis warga Desa Cikawung, Kecamatan Tirisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pecah setelah lampu-lampu bertenaga surya akhirnya menerangi seratusan rumah setelah mereka akrab dengan kegelapan berdekade lamanya.
Selama puluhan tahun, malam di tiga kampung di Desa Cikawung, yakni Kampung Grabyak, Pasir Toroh, dan Cagak Dua, berteman sepi dalam kegelapan. Mereka hidup tanpa aliran listrik. Satu-satunya sumber cahaya yang mereka andalkan adalah cempor atau damar.
Ketiadaan sumber listrik di desa mereka memang beralasan. Desa itu jauh dari ingar-bingar kota dalam arti sebenernya. Untuk masuk ke dalam perkampungan itu mesti melewati jalan batu berdebu nan panjang. Ketika hujan turun, perjalanan ke sana semakin menunjukkan potret keterisolasian mereka.
Masyarakat yang tinggal di tiga desa itu mayoritas adalah penggarap lahan di kawasan milik Perhutani. Mereka adalah para petani padi dan mangga yang menggantungkan hidupnya hanya pada musim panen.
Saat musim kemarau, para ibu hanya berharap pada nasib suami yang setiap hari berusaha keluar rumah meski tak pasti ada kerja dan pulang membawa upah.
Selain itu, posisi satu rumah dengan rumah llainnya pun berjarak cukup jauh. Maka tak heran jika sumber energi listrik susah untuk menembus lapangnya perkampungan di tiga desa tersebut.
Kini, cahaya mulai mengisi hidup mereka, harapan mulai disusun, dan mimpi kembali dipupuk serupa tanah yang merindukan hujan.
Berkat program Rumah Terang yang digagas Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, sebanyak 102 kepala keluarga di tiga kampung itu akhirnya dapat menikmati cahaya lampu melalui instalasi panel surya.
Berkah
Bagi Onoh (45), cahaya lampu yang menerangi rumahnya serupa kemewahan yang tak henti-hentinya ia syukuri. Bahkan ketika prosesi penyalaan lampu, sorot matanya melukiskan kebahagiaan tiada tara. Bukan tanpa alasan, sebab selama 25 tahun ia akrab dengan kegelapan.
"Biasanya kalau malam hanya mengandalkan cempor. Cahayanya redup, asapnya banyak, dan minyaknya juga harus dibeli," ujar Onoh sembari menatap lampu yang kini menerangi ruang tamunya.
Selama bertahun-tahun, aktivitas keluarganya selalu dibatasi oleh matahari. Begitu senja tiba, pekerjaan rumah harus segera diselesaikan. Anak-anak belajar dengan penerangan seadanya, sementara waktu berkumpul bersama keluarga pun menjadi singkat karena gelap segera menyelimuti rumah.
Kini, keadaan itu perlahan berubah. Lampu-lampu bertenaga surya itu tidak hanya menghadirkan terang, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman. Anak-anak dapat belajar pada malam hari, orang tua dapat beraktivitas lebih lama, dan rumah-rumah yang sebelumnya tenggelam dalam gelap kini memancarkan kehidupan.
Hal serupa dirasakan warga lainnya. Emik (52) memandang kehadiran lampu panel surya menjadi awal dari perubahan yang selama ini mereka nantikan. Bagi Emik, terang bukan sekadar cahaya, melainkan harapan yang lebih baik.
Program Rumah Terang yang diinisiasi Baznas RI menjadi jawaban atas keterbatasan akses listrik yang selama ini mereka hadapi. Melalui pemanfaatan energi surya, keluarga-keluarga di wilayah terpencil itu kini memperoleh sumber energi yang ramah lingkungan sekaligus berkelanjutan.
Bagi warga Cikawung, malam kini tak lagi identik dengan keterbatasan. Rumah-rumah yang dulu hanya diterangi nyala damar, kini memancarkan cahaya dari panel surya yang terpasang di atap-atap mereka.
Kolaborasi
Program Rumah Terang di Desa Cikawung ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI dengan gerakan Listrik Mandiri Rakyat (Limar) demi menyediakan kebutuhan penerangan bagi masyarakat prasejahtera.
Kolaborasi tersebut memanfaatkan inovasi Limar yang diinisiasi oleh pria asal Bandung, Ujang Koswara, untuk menghadirkan akses penerangan yang lebih layak bagi masyarakat yang masih memiliki keterbatasan terhadap fasilitas listrik.
Program Rumah Terang Baznas ini menjadi satu dari 13 program prioritas Baznas dalam menjangkau kebermanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah demi kemaslahatan masyarakat tidak mampu.
Lampu Limar dikembangkan sebagai upaya mengatasi persoalan "tuna cahaya", yakni kondisi masyarakat yang belum memperoleh akses penerangan memadai karena belum terjangkau jaringan listrik, terutama di wilayah terpencil.
Setiap rumah tangga mendapatkan satu paket instalasi pencahayaan yang terdiri dari panel surya, lima lampu, accu, dan perkabelan.
Memang lampu yang digunakan dalam program tersebut hanya berkapasitas daya 1 watt, namun menghasilkan tingkat pencahayaan yang diklaim setara lampu 10 watt dengan usia pakai lebih dari 10 tahun.
Lampu LED tersebut mulai dikembangkan sejak 2008 dan telah dimanfaatkan di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan untuk perawatannya pun tergolong mudah, hanya cukup membersihkan panel surya per tiga bulan sekali.
Selain membantu penyediaan penerangan, produksi lampu Limar juga melibatkan kalangan santri di sejumlah pondok pesantren, pemuda, serta mantan narapidana yang telah mengikuti program pembinaan keterampilan.
Zakat yang menerangi
Ketua Baznas RI Sodik Mujahid mengatakan Program Rumah Terang merupakan bagian dari ikhtiar Baznas dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah terpencil. Menurut dia, akses terhadap energi merupakan kebutuhan dasar yang dapat membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk berkembang.
"Listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan, meningkatkan produktivitas ekonomi keluarga, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat," ujarnya.
Ia berharap hadirnya listrik di Desa Cikawung dapat menjadi pemantik semangat warga untuk terus membangun kehidupan yang lebih sejahtera dan mandiri.
Program dengan target nasional penerima mencapai 452 kepala keluarga (KK) ini secara bertahap mulai difokuskan bagi 102 KK di Indramayu. Namun bukan tidak mungkin program tersebut dapat menyasar ribuan rumah lainnya yang belum merasakan akses listrik.
Sodik berharap kehadiran program bantuan ini dapat memberikan dampak nyata yang terlihat langsung oleh masyarakat, sekaligus menjadi cerminan dari pemanfaatan dana zakat yang dihimpun secara nasional.
Melalui program Rumah Terang, dana zakat yang dititipkan kepada Baznas diharapkan dapat membantu lebih banyak warga memperoleh penerangan yang layak.
Maka dari itu, ia mengajak para muzaki untuk sama-sama menghadirkan cahaya bagi keluarga-keluarga yang hingga kini masih mengalami keterbatasan terhadap akses listrik.
Karena bagi Baznas, terang bukan sekadar mengusir gelap. Ia membawa harapan baru, menghadirkan rasa percaya bahwa kehidupan dapat berubah, meski dimulai dari sebuah lampu yang akhirnya menyala setelah puluhan tahun penantian.
- Lampu Tenaga Surya
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.