Riset Ungkap Potensi Kendalikan El Nino

Jumat, 10 Jul 2026, 01:05 WIB

WASHINGTON DC – Siklus Super El Nino yang diperkirakan segera terbentuk berpotensi memicu gelombang panas, banjir, dan kekeringan di berbagai belahan dunia. Dampaknya diperkirakan semakin parah akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Namun, bagaimana jika fenomena pemanasan Samudra Pasifik itu dapat dihentikan sejak mulai terbentuk?

Ket. Foto: Orang-orang menunggu untuk menyeberang jalan saat cuaca panas di Tokyo, beberapa waktu lalu. — Sumber: AFP/Yuichi YAMAZAKI

Dikutip dari The Straits Times, gagasan tersebut menjadi dasar studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada Rabu (8/7). Melalui pemodelan komputer, para peneliti menunjukkan bahwa pencerahan awan (cloud brightening) secara artifisial di atas Samudra Pasifik, jika dilakukan pada waktu yang tepat, berpotensi menetralkan pembentukan El Nino dan mengurangi dampak cuaca ekstremnya.

Berbeda dengan penelitian geoengineering sebelumnya yang berfokus pada pendinginan Bumi secara keseluruhan, studi ini menawarkan pendekatan yang lebih terarah dengan menargetkan langsung sumber terbentuknya El Nino.

"Jangka waktu intervensi yang lebih pendek ini bisa menjadi cara yang sangat ampuh bagi geoengineering untuk masuk ke dalam portofolio respons terhadap perubahan iklim," ujar penulis utama studi, Jessica Wan, peneliti pascadoktoral di Universitas Chicago.

Penelitian tersebut terinspirasi dari fenomena kebakaran hutan Black Summer di Australia pada 2019–2020 yang berkontribusi terhadap terbentuknya La Nina. Saat partikel asap memasuki awan, awan menjadi lebih cerah sehingga memantulkan lebih banyak energi Matahari kembali ke luar angkasa dan menurunkan suhu permukaan.

Berdasarkan fenomena alami itu, Wan dan timnya menguji dampak pencerahan awan laut di wilayah Samudra Pasifik khatulistiwa terhadap dua peristiwa El Nino besar, yakni 1997–1998 dan 2015–2016.

Secara teori, teknologi ini menggunakan kapal yang dilengkapi nosel untuk menyemprotkan partikel garam laut ke atmosfer bawah sehingga meningkatkan kecerahan awan.

Hasil simulasi menunjukkan intervensi paling efektif jika dimulai sejak Juni hingga Februari tahun berikutnya.

"Alasan orang-orang peduli tentang hal ini bukanlah suhu di dalam sebuah ruangan di Pasifik, tetapi juga bagaimana dampaknya terasa di daratan," kata Wan.

Kerugian Ekonomi

Menurut penelitian tersebut, El Nino telah menyebabkan korban jiwa dan kerugian ekonomi hingga triliunan dolar AS.

Pemodelan menunjukkan pencerahan awan mampu membalikkan sebagian besar perubahan suhu dan curah hujan akibat El Nino sehingga wilayah yang lebih panas menjadi lebih sejuk, sementara daerah yang lebih basah atau lebih kering cenderung kembali mendekati kondisi normal. Meski demikian, teknologi tersebut masih jauh dari siap diterapkan.

Para peneliti memperkirakan dibutuhkan sekitar 2.400 kapal untuk menghasilkan dampak yang diharapkan, sementara teknologi nosel penyemprot garam laut juga masih terus dikembangkan.

 Selain tantangan teknis, terdapat risiko yang belum dipahami sepenuhnya. Model penelitian menunjukkan pelemahan El Nino dapat memicu konsekuensi lain, seperti peningkatan suhu di Eropa dan sebagian Asia.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.