Menyadap Harapan dari Tetesan Getah Damar
Kamis, 09 Jul 2026, 17:50 WIBJAKARTA â Di tengah rimbunnya hutan Negeri Neniari, Kabupaten Seram Bagian Barat, tetesan getah damar menjadi lebih dari sekadar komoditas.
Bagi masyarakat setempat, damar adalah sumber penghidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa harus menebang satu pun pohon.
Dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, warga membuktikan bahwa hutan dapat terus memberi manfaat ekonomi sekaligus tetap lestari.
Kisah ini menjadi gambaran bagaimana kearifan lokal mampu menjaga keseimbangan antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam.
Masyarakat setempat telah memanfaatkan getah damar secara turun-temurun dengan menyadap pohon yang tumbuh di kawasan hutan, kemudian menjual hasil panennya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk membiayai pendidikan anak.
Petani damar Maku Rumahsoal mengatakan masyarakat menyebut pohon damar sebagai "ATM", karena dapat menghasilkan pendapatan hampir setiap hari.
"Kalau di sini, damar itu seperti ATM. Kalau sudah turun dari hutan, berarti sebentar ada uang," ujar Maku.
Hutan damar berada sekitar enam jam berjalan kaki dari permukiman warga. Setelah menyadap getah, masyarakat memikul hasil panen menuju kampung untuk dijual kepada pembeli yang kini datang langsung ke Negeri Neniari.
Berbeda dengan komoditas perkebunan seperti pala dan cengkih yang bersifat musiman, getah damar dapat dipanen sepanjang tahun sehingga menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil bagi masyarakat.
"Setiap hari keluar getah, jadi seng (tidak) ada musim," ujar petani damar Leu Sasake.
Getah damar dijual dengan harga sekitar Rp12.500 hingga Rp25.000 per kilogram, bergantung pada kualitas dan lokasi penjualan. Dalam satu keluarga, kepemilikan pohon damar dapat mencapai lebih dari seribu batang.
Ketua Adat Negeri Neniari Meki Lemosol mengatakan masyarakat mampu menghasilkan sekitar tiga ton getah damar setiap bulan.
"Mau ambil banyak bisa, tinggal kuat pikulkah seng (tidak)," ujarnya.
Menurut Meki, hasil penjualan damar telah membantu banyak keluarga memenuhi kebutuhan hidup, termasuk membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi.
Praktik pemanfaatan hasil hutan bukan kayu di Negeri Neniari dinilai menjadi contoh bahwa hutan dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa harus dikonversi atau ditebang.
Potensi serupa juga ditemukan di Distrik Kais Darat, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya. Berdasarkan asesmen Yayasan EcoNusa, kawasan tersebut masih memiliki tegakan damar putih (Agathis spp) yang tersebar di Kampung Hohore dan Kampung Siranggo, sehingga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai komoditas hasil hutan bukan kayu yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat adat.
Pengalaman hutan secara berkelanjutan oleh masyarakat akan menjadi salah satu contoh praktik baik yang dibahas dalam PAPEDA (Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature) Summit 2026 di Sorong, Papua Barat Daya, pada 2-4 September 2026. Forum tersebut akan membahas penguatan ekonomi berbasis sumber daya lokal, pengelolaan hutan lestari, serta peran masyarakat adat dalam menjaga kelestarian hutan.
- Kabupaten Seram Bagian Barat
- Damar
- Negeri Neniari
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.