Menkes Dorong Pengembangan Vaksin mRNA DBD Buatan Indonesia
Kamis, 09 Jul 2026, 15:55 WIBJAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mendorong pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA. Kolaborasi UI-Tsinghua diharapkan memperkuat kemandirian produksi vaksin nasional Indonesia.
âMudah-mudahan kalau ini bisa selesai, bisa menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia. Karena seperti saya sampaikan tadi, kita butuh 15 antigen, baru empat yang bisa diproduksi dari awal di Indonesia,â kata Budi Gunadi Sadikin saat konferensi pers di kantor Kemenkes Jakarta, Rabu (8/7).
Menurut Menkes Budi, Indonesia masih menghadapi beban penyakit menular yang tinggi. Setiap tahun, sekitar 151 ribu orang terinfeksi dengue yang kini menempati peringkat keempat penyakit menular di Indonesia.
âEmpat penyakit menular utama belum memiliki vaksin produksi Indonesia. Vaksin malaria dan dengue sudah tersedia, tetapi masih diproduksi negara lain,â ujar Menkes.
Menkes menyebut Tuberkulosis menjadi penyebab kematian tertinggi di antara penyakit menular, disusul HIV, dengue, dan malaria. Pemerintah memprioritaskan vaksin bagi penyakit dengan angka kejadian serta kematian tertinggi dalam program imunisasi nasional.
âKalau kebanyakan disuntik, ibu-ibu juga merasa tidak nyaman kalau anaknya kebanyakan disuntik. Jadi kita akan pilih vaksin-vaksin baru yang disuntikkan adalah vaksin-vaksin yang paling banyak insiden dan kematian,â ucap Menkes Budi.
Menkes Budi mengapresiasi dukungan lintas kementerian dan lembaga mempercepat pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA. Kolaborasi melibatkan Kemendiktisaintek, BRIN, serta LPDP sebagai pendukung pendanaan riset nasional.
âSaya mengapresiasi dukungan Kemdiktisaintek, BRIN, dan LPDP dalam pengembangan vaksin ini. Kolaborasi tersebut penting mempercepat riset, inovasi, hingga produksi vaksin nasional,â kata Budi.
Sementara Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisainstek) Stella Christie, menyebut kolaborasi riset vaksin dengue Indonesia-Tiongkok telah dimulai sejak 2023. Saat itu, ia masih menjabat profesor di Tsinghua University sebelum menjadi wakil menteri.
âWaktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan Tiongkok untuk mensupport,â kata Stella.
Menurut Stella, dukungan PT Etana memperkuat implementasi hasil riset vaksin hingga tahap produksi di Indonesia. Stella menilai model kolaborasi tersebut efektif mempercepat inovasi kesehatan berbasis riset dan industri.
âKalau tadi pertanyaannya ke depan kita akan bagaimana, inilah model yang paling bagus. Jadi tidak tanda tangan MoU dulu, tapi justru bekerja sama dahulu, sungguh-sungguh,â ujar Stella. ils/I-1
- Menkes
- Vaksin DBD
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
New York Knicks Unggul 3-2 atas Atlanta Hawks
-
BMKG Imbau Waspadai Gelombang Tinggi 2,5 Meter di Perairan Wakatobi
-
Nuanu Park Tawarkan Perpaduan Seni, Alam, dan Rekreasi di Bali
-
Mengapa Pemain Timnas Spanyol Tidak Pernah Menyanyikan Lagu Kebangsaan?
-
Investor Cari Kepastian Regulasi, Bukan Sekadar Iming-Iming Insentif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.