Mencermati Risalah The Fed, 9 Juli 2026

Kamis, 09 Jul 2026, 08:20 WIB

JAKARTA – Rupiah berpotensi kembali melanjutkan pelemahannya apabila risalah rapat dewan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed menguat­kan sinyal kebijakan moneter yang tetap hawkish, sehingga memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Kondisi tersebut dapat mendorong penguatan dollar AS dan memicu aliran modal keluar dari pasar negara ber­kembang, termasuk Indonesia.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi melihat perhatian pasar akan tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis pada Kamis (9/7) dini hari. Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah ter­hadap dollar AS dalam pada perdagangan di pasar uang an­tarbank, Kamis (9/7) bergerak fluktuatif di kisaran 18.010-18.060 rupiah per dollar AS.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan Rabu (8/7) sore, melemah 34 poin atau 0,19 persen dari sehari sebelumnya menjadi 18.014 ru­piah per dollar AS.

Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipicu serangan AS terhadap Iran. “Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran, yang bertujuan untuk memberikan apa yang digambarkan seba­gai ‘biaya berat’ atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Eskalasi yang terus berlanjut memunculkan masalah pelayaran yang lebih besar di Selat Hormuz, sehingga me­micu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah. Serangan tersebut juga terjadi tak lama setelah AS menarik konsesi penting yang memungkinkan Iran untuk menjual minyak secara internasional, sebuah langkah yang menandai pasar minyak lebih ketat dalam beberapa pekan mendatang.

Sebelumnya, Iran dilaporkan telah menyerang kapal-kapal yang mencoba menyeberangi Selat Hormuz pekan ini, meningkatkan ketegangan dengan AS dan memicu le­bih banyak ketidakpastian tentang status jalur air penting tersebut. “Babak permusuhan terbaru berpotensi merusak kesepakatan tersebut, dengan pembicaraan perdamaian di masa depan antara kedua negara kini tampak tidak pasti,” ujar dia.

Sentimen lain berasal dari kenaikan imbal hasil obligasi pe­merintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun te­lah naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.