Hossam Hassan Kecam Kepemimpinan Wasit Usai Mesir Tersingkir Dramatis dari Argentina

Kamis, 09 Jul 2026, 00:03 WIB

ATLANTA – Pelatih Mesir, Hossam Hassan, melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan wasit setelah tim asuhannya tersingkir secara dramatis dari Piala Dunia 2026. Hassan bahkan mengaku tidak akan lagi mengikuti sisa pertandingan turnamen karena merasa timnya diperlakukan tidak adil.

Mesir harus mengubur mimpi melaju ke perempat final setelah kalah 2-3 dari juara bertahan Argentina pada babak 16 besar. Padahal, The Pharaohs sempat berada di atas angin dengan keunggulan dua gol hingga menit ke-79 sebelum Lionel Messi dan rekan-rekannya bangkit mencetak tiga gol pada penghujung laga.

Ket. Foto: Pelatih Mesir, Hossam Hassan. — Sumber: FIFA

Kekalahan tersebut menjadi salah satu comeback paling dramatis di Piala Dunia 2026. Namun, Hassan menilai hasil akhir tidak mencerminkan jalannya pertandingan dan menyalahkan sejumlah keputusan wasit yang dianggap merugikan timnya.

"Saya akan pulang dan tidak akan menonton lagi pertandingan Piala Dunia ini," kata Hassan dalam konferensi pers seusai laga.

"Apa yang terjadi kepada kami tidak adil. Kami seharusnya mendapatkan penalti, gol kami dianulir, dan saya tidak mengerti mengapa gol itu dibatalkan."

Salah satu momen yang dipersoalkan Mesir terjadi pada menit ke-62 ketika Mostafa Zico sempat mencetak gol yang berpotensi memperbesar keunggulan timnya. Namun, setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR), gol tersebut dianulir karena dianggap terjadi pelanggaran dalam proses serangan.

Tak hanya itu, Mesir juga mengajukan protes atas insiden yang melibatkan Hamdy Fathy di dalam kotak penalti pada menit-menit akhir pertandingan. Hassan menilai anak asuhnya seharusnya memperoleh hadiah penalti setelah terjadi tarikan terhadap sang gelandang.

Alih-alih mendapatkan penalti, Mesir justru harus menerima kenyataan pahit ketika Argentina melancarkan serangan balik yang berujung gol kemenangan pada menit ke-92.

"Mungkin gol-gol yang kami kebobolan berasal dari kesalahan kami sendiri. Tetapi kesalahan terbesar adalah ketika kami tidak mendapatkan hak kami dari mereka yang bertugas mengambil keputusan," ujar Hassan.

Meski kecewa berat terhadap hasil pertandingan, Hassan tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya yang dinilai tampil sesuai rencana.

"Saya adalah orang yang sangat membenci kekalahan. Apalagi jika kekalahan itu terasa tidak adil seperti hari ini. Saya hanya bisa meminta para suporter untuk tidak terlalu kecewa. Kami benar-benar ingin memberikan kebahagiaan kepada mereka."

Menurut mantan striker tim nasional Mesir tersebut, para pemain telah menjalankan instruksi dengan disiplin sepanjang pertandingan.

"Hal yang membuat saya bangga adalah para pemain mampu menjalankan rencana permainan dalam banyak situasi dan bekerja dengan sangat baik."

Berbeda dari karakter permainan Hassan yang biasanya mengandalkan pertahanan rapat dan serangan balik, Mesir tampil lebih ofensif saat menghadapi Argentina.

Strategi itu terbukti efektif pada awal pertandingan. Mesir mampu menekan sang juara bertahan dan mencetak dua gol untuk membuka peluang menciptakan salah satu kejutan terbesar di Piala Dunia 2026.

Selain permainan kolektif yang solid, penampilan gemilang penjaga gawang Mostafa Shoubir juga menjadi faktor penting. Serangkaian penyelamatan krusial yang dilakukannya membuat Mesir mampu mempertahankan keunggulan hingga turun minum.

Namun, pengalaman dan kualitas individu Argentina akhirnya menjadi pembeda. Dipimpin Lionel Messi, Albiceleste mencetak tiga gol pada menit-menit akhir untuk membalikkan keadaan dan memastikan langkah mereka ke babak perempat final.

Bagi Mesir, kekalahan ini memang menyakitkan. Meski demikian, penampilan berani melawan juara bertahan menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan tim-tim elite dunia. Kini, perhatian akan tertuju pada evaluasi federasi sepak bola Mesir, termasuk kemungkinan tindak lanjut atas protes mereka terhadap keputusan perangkat pertandingan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.