Rahasia para Atlet Tua yang Masih Tampil Luar Biasa

Minggu, 05 Jul 2026, 14:38 WIB

JAKARTA – Gelaran Piala Dunia 2026 seolah-olah menjadi panggung bagi pesepakbola tua yang kini berusia 39 tahun. Bagaimana tidak, di usianya itu dia bahkan masih memimpin daftar top skor dengan tujuh gol. Dialah Lionel Messi, kapten Timnas Argentina.

Di turnamen yang sama, Cristiano Ronaldo yang telah berusia 41 tahun masih mengenakan ban kapten Portugal dan membawa negaranya melangkah ke babak 16 besar. Di Amerika Serikat, LeBron James juga bersiap menyambut musim NBA berikutnya pada usia yang sama. Ia memang tidak lagi berseragam Los Angeles Lakers, tetapi belum juga bersedia mengucapkan selamat tinggal kepada bola basket.

Ket. Foto: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo — Sumber: istimewa

Sementara itu di lapangan rumput Wimbledon, Novak Djokovic yang juga telah menginjak usia 39 tahun kembali melangkah ke babak 16 besar. Kemenangan itu sekaligus menyamai rekor Roger Federer sebagai pemilik kemenangan terbanyak di Wimbledon.

Kedengarannya, atau kelihatannya, seperti tidak masuk akal. Tapi mereka benar-benar masih ada.

yang lebih mengherankan, mereka bukan sekadar hadir untuk mengisi bangku cadangan atau dijadikan sebagai mentor bagi pemain muda. Tapi masih menentukan jalan dan hasil pertandingan. Mereka masih mencetak skor, melawan atlet yang usianya belasan hingga puluhan tahun lebih muda, tapi tetap lebih unggul.

Dunia olahraga dulu memiliki pandangan di mana usia 30 tahun adalah puncak performa. Usia 33 mulai menurun. Memasuki 35 tahun, sebagian besar atlet mulai menghitung musim terakhir mereka. Klub mulai berpikir mencari pengganti. Kontrak menjadi lebih pendek. Pemulihan dari cedera semakin lebih lama. Kecepatan berkurang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya pensiun terasa sebagai jalan yang paling masuk akal.

Semua orang menerima kenyataan itu. Karena semua tubuh manusia sepertinya mengalami hal yang serupa.

Seiring bertambahnya usia, massa otot perlahan berkurang. Kapasitas jantung dan paru-paru menurun. Pemulihan membutuhkan waktu lebih lama. Ledakan tenaga yang dulu muncul begitu saja kini harus dicari dengan usaha yang jauh lebih besar. Ilmu pengetahuan olahraga telah lama memahami bahwa proses itu adalah bagian alami dari penuaan, meskipun, latihan yang konsisten mampu memperlambat laju penurunannya secara signifikan.

Cara Menua yang Beda

Apa yang sedang dilakukan Messi, Ronaldo, LeBron, dan Djokovic terasa seperti sesuatu yang ganjil.

Mereka memang ikut menua, tetapi dengan cara yang berbeda.

Yang pasti, mereka tidak lagi bermain seperti masa mudanya. Cristiano Ronaldo tidak lagi menggiring bola melewati empat pemain dari tengah lapangan seperti yang sering ia lakukan saat masih mengenakan seragam Manchester United untuk pertama kalinya. Lionel Messi juga tidak lagi melakukan slalom sejauh 60 meter dalam pertandingan.

LeBron tidak selalu mendobrak pemain bertahan lawan lalu melakukan dunk esplosif. Dan Djokovic pun menghindari reli panjang serta mengambil jarak lari yang lebih pendek dengan bermain di dekat net.

Yang menentukan daya tahan mereka berasal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang diulang setiap hari selama puluhan tahun. Tidur. Makan. Latihan. Pemulihan. Ulangi.

Cristiano Ronaldo mungkin adalah contoh paling ekstrem mengenai bagaimana disiplin dapat mengalahkan kalender.

Ia mengatur makanan dengan ketat, membagi asupan menjadi beberapa porsi kecil, menghindari alkohol, membatasi gula, menjaga kualitas protein, hingga memastikan tubuh memperoleh waktu pemulihan yang cukup. Rutinitas latihannya dilakukan untuk menjaga daya ledak, fleksibilitas, dan kesehatan sendi agar tetap mampu bersaing pada usia kepala empat.

Ia juga mengelola tidurnya dengan bukan delapan jam dalam satu blok malam, tapi lima sesi berdurasi sembilan puluh menit sepanjang hari. Dia melakukannya di bawah pengawasan seorang konsultan tidur yang khusus didatangkan untuk itu. Tujuannya adalah menjaga sekresi hormon pertumbuhan tetap berdenyut teratur dan meredam lonjakan kortisol yang biasa muncul kalau tidur cuma sekali semalam.

Lain lagi LeBron James. Kisah yang sudah berulang kali diceritakan media Amerika Serikat, LeBron disebut mengeluarkan dana sekitar 1,5 juta dolar AS hanya untuk merawat tubuhnya dalam satu tahun. Uang sebanyak itu dianggarkan untuk koki pribadi, fisioterapis, pakar kebugaran, terapi pemulihan, pemantauan kondisi tubuh, dan tidur. Ya, tidur.

Tidur bagi LeBron menjadi bagian dari pekerjaannya. Ia berusaha mendapatkan waktu istirahat delapan hingga sepuluh jam setiap hari, bahkan masih menyempatkan tidur siang menjelang pertandingan jika memungkinkan.

Proses Merusak Otot

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa latihan sebenarnya hanyalah proses merusak otot dalam skala kecil. Perkembangannya justru terjadi ketika tubuh memperbaiki kerusakan itu saat beristirahat. Tanpa pemulihan yang cukup, latihan tambahan sering kali hanya menghasilkan tubuh yang semakin lelah, bukan semakin kuat. Bahkan latihan berlebihan tanpa jeda dapat mempercepat proses penuaan biologis.

Para atlet veteran ini pula yang tampak lebih "cerdas" dalam menggunakan tenaga mereka. Ronaldo, LeBron, Djokovic, Messi, semuanya mengubah gaya permainannya dibandingkan saat mereka muda.

Contoh paling jelas adalah jalan kakinya Messi. Berdasarkan laporan The Athletic, Messi adalah pemain sepak bola yang paling sering jalan kaki di lapangan, bahkan itu sudah dilakukannya sejak Piala Dunia 2022. Ketika akhirnya ia mencium trofi Piala Dunia.

Penelitian mengenai gaya permainan Messi menjabarkan bahwa jalan kakinya kapten Timnas Argentina itu adalah cara menghemat energi sekaligus membangun peta permainan di kepalanya. Ia terus memindai posisi rekan setim dan lawan sebelum bola datang. Ia tahu kapan harus berlari dan ke mana arahnya. Sehingga ketika akhirnya menerima umpan, seringnya, ujungnya adalah gol.

Di lapangan tenis, Novak Djokovic dikenal karena kemampuannya mengejar bola yang tampaknya mustahil dijangkau. Ia meluncur dari satu sudut lapangan ke sudut lain, meregangkan tubuhnya, merentangkan kaki selebar-lebarnya.

Kini, pada usia 39 tahun, Djokovic memang masih mampu melakukan split yang sama. Tetapi ia tidak lagi melakukannya sesering dulu. Yang berubah adalah efisiensinya dalam bermain. Jika dulu ia mampu berlari lebih sering, kini poin yang diincar sebisa mungkin didapat lewat dua atau tiga pukulan. Bahkan hanya bermodal servis.

Titik balik karier Djokovic terjadi pada tahun 2010 ketika ia mengalami kelelahan fisik parah di Australian Open. Setelah berkonsultasi dengan ahli nutrisi, ia menemukan bahwa tubuhnya intoleran terhadap gluten dan produk susu. Ia pun merombak total pola makannya.

Djokovic dijuluki sebagai Manusia Karet karena kemampuannya melakukan sliding dan mengambil bola mustahil sambil melakukan split kaki di lapangan. Fleksibilitas ekstrem ini dilatih secara disiplin melalui kombinasi beberapa latihan seperti yoga dan tai chi, hingga teknologi canggih terapi oksigen hiperbarik (HBOT) dan krioterapi atau terapi suhu dingin ekstrem untuk mempercepat perbaikan sel tubuh.

Hasilnya, di Wimbledon tahun ini, pemain 39 tahun itu masih melaju ke babak 16 besar. Berhadapan dengan lawan yang tumbuh besar dengan menyaksikan pertandingan Djokovic, dan kini mereka harus berpikir mencari cara untuk mengalahkannya.

Melihat keempat nama itu, mudah sekali menyimpulkan bahwa mereka hanyalah pengecualian. Bahwa mereka diberkahi genetika dan kecerdasan olahraga yang tidak dimiliki orang lain. Mungkin memang ada benarnya.

Tetapi genetika saja tidak pernah cukup menjelaskan mengapa seorang atlet bisa bertahan selama dua dekade di level tertinggi. Kalau hanya mengandalkan bakat, dunia olahraga seharusnya dipenuhi atlet ajaib yang bermain sampai usia 40 tahun. Tapi faktanya tidak demikian.

Yang membedakan mereka justru sesuatu yang jauh lebih membosankan daripada bakat. Rutinitas. Disiplin.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.