Pelatihan Jemput Bola, Strategi Pemprov Jakarta Tekan Pengangguran dan Buka Peluang Usaha dari Akar Rumput

Selasa, 11 Agu 2026, 17:39 WIB

JAKARTA - Dua puluh warga Pasar Rebo tidak perlu mendatangi balai pelatihan kerja untuk belajar meracik kopi atau mengedit video. Balai pelatihan yang mendatangi mereka.

Sejak 20 Juli hingga 14 Agustus, halaman Kantor Kecamatan Pasar Rebo berubah jadi ruang kelas dadakan, tempat Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur menggelar pelatihan barista dan video editor lewat skema Mobile Training Unit (MTU) atau pelatihan jemput bola.

Ket. Foto: Warga Pasar Rebo Ikut Pelatihan Barista dan Video Editor. — Sumber: beritajakarta.id

Skema ini lahir bukan dari inisiatif sepihak pemerintah kota, melainkan dari usulan warga  lewat forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Kepala PPKD Jakarta Timur Teguh Hendarwan menyebut kegiatan ini sebagai tindak lanjut langsung dari aspirasi yang disampaikan masyarakat di tingkat kelurahan.

Dua puluh peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari lima kelurahan berbeda, yaitu Pekayon, Kalisari, Cijantung, Baru, dan Gedong, dengan komposisi merata empat orang dari tiap kelurahan. Camat Pasar Rebo Mujiono memastikan sebaran ini disengaja agar manfaat pelatihan tidak menumpuk di satu wilayah saja.

Di ujung pelatihan, setelah menjalani uji kompetensi pada 18 Agustus, peserta akan mengantongi dua sertifikat sekaligus, dari PPKD dan dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikat BNSP inilah yang membedakan pelatihan semacam ini dari kursus keterampilan biasa. Sertifikat itu diakui secara nasional sebagai bukti kompetensi kerja, sehingga bisa langsung dipakai melamar pekerjaan atau meyakinkan calon investor ketika peserta memilih jalur wirausaha.

Pemilihan barista dan video editor sebagai dua kejuruan bukan tanpa alasan pasar.

Data Indonesian Coffee Council menunjukkan lebih dari 25 ribu kedai kopi aktif beroperasi di Indonesia pada 2025, dengan nilai pasar sekitar 2,1 miliar dolar AS dan pertumbuhan tahunan mendekati 10 persen, menurut laporan USDA bertajuk Indonesia: Coffee Annual.

Permintaan tenaga barista terampil naik sejalan dengan ekspansi itu, terutama di kota besar seperti Jakarta yang jadi pusat pertumbuhan kedai kopi modern dengan pecinta kopi yang jarang sekali sepi.

Sementara itu, dominasi konten video berdurasi pendek di platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts mendorong kebutuhan jasa pengeditan video, baik dari kreator individu, usaha mikro kecil menengah, maupun merek yang kini bergantung pada konten visual untuk menjangkau konsumen.

Tidak sedikit sebuah jenama ataupun individu perorangan meminta jasa para kreator konten, yang biasanya masuk dalam berbagai paket. Dua kejuruan ini menempatkan peserta pada sektor yang sedang tumbuh, bukan sekadar keterampilan generik.

Jemput Bola

Anisa Maharani Putri, satu dari 20 peserta, mengaku memilih pelatihan barista karena kegemarannya pada dunia kopi dan keinginannya membuka usaha kedai sendiri.

Ia mengetahui program ini dari Ketua RT yang membagikan informasi lewat grup WhatsApp, jalur diseminasi yang menunjukkan bagaimana MTU menembus lapisan masyarakat lewat jaringan RT-RW, bukan sekadar pengumuman formal di kantor pemerintahan.

Pola ini yang membuat program jemput bola lebih mudah menjangkau warga yang selama ini tidak sempat atau tidak tahu cara mengakses pelatihan kerja konvensional.

Program di Pasar Rebo adalah satu keping kecil dari gambar yang lebih besar. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Jakarta turun 0,15 poin menjadi 6,03 persen pada Februari 2026, dan Badan Pusat Statistik DKI Jakarta mencatat penurunan lanjutan menjadi 5,79 persen pada Mei 2026.

Pramono mengaitkan tren ini dengan sejumlah program pemerintah provinsi, termasuk pembukaan 2.843 lowongan kerja lewat program padat karya, magang bagi 1.000 lulusan SMA yang melibatkan 107 perusahaan, serta pelatihan MTU yang sepanjang semester pertama 2026 sudah menjangkau 2.731 peserta di berbagai wilayah Jakarta.

Artinya, pelatihan di halaman Kantor Kecamatan Pasar Rebo bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari mesin yang sama yang menggerakkan angka-angka ketenagakerjaan kota.

Rekam jejak PPKD Jakarta Timur memperkuat gambaran itu. Sepanjang 2025, unit ini melatih 2.000 warga dari total 9.166 pendaftar, dengan 98,86 persen di antaranya dinyatakan lulus kompeten dan berhak atas sertifikat BNSP.

Kolaborasi dengan 45 perusahaan dari dunia usaha dan industri menghasilkan 106 kali proses rekrutmen sepanjang tahun, yang berhasil menyerap 1.431 lulusan pelatihan ke dunia kerja. Angka-angka ini menunjukkan bahwa sertifikat yang akan diterima peserta Pasar Rebo bukan formalitas administratif, melainkan tiket yang sudah terbukti membuka pintu kerja bagi ribuan orang sebelumnya.

Pelatihan ini juga menyasar problem yang lebih mendasar dari sekadar keterampilan teknis, yaitu kesenjangan akses. Warga yang tinggal jauh dari pusat pelatihan kerja, punya keterbatasan waktu, atau tidak familier dengan sistem pendaftaran daring, kerap tertinggal dari program serupa yang mengharuskan mereka datang sendiri ke lokasi tetap.

Dengan mendatangkan unit pelatihan ke kecamatan, PPKD Jakarta Timur memangkas hambatan itu langsung di titik masalahnya.

Uji kompetensi pada 18 Agustus akan menjadi penentu berapa dari 20 peserta ini yang benar-benar mengantongi status kompeten bersertifikat BNSP, sebelum mereka melangkah ke tahap berikutnya: melamar kerja, atau seperti yang dicita-citakan Anisa, membuka kedai kopi sendiri. Ant

  • Pelatihan Kerja di PPKD

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.