• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Misteri Fosil Homo naledi ...

Misteri Fosil Homo naledi yang Semuanya Perempuan

Rabu, 01 Jul 2026, 07:33 WIB

JAUH di bawah permukaan bumi Afrika Selatan, lorong-lorong batu kapur yang sempit dan gelap ada sejarah evolusi manusia yang tersimpang. Di sini pernah ditemukan kerangka manusia purba yang kemudian membingungkan para ilmuwan.

Untuk mencapai ruang tempat fosil-fosil itu ditemukan, para peneliti harus merangkak melewati celah sempit yang di beberapa bagian lebarnya bahkan tak lebih dari 20 sentimeter.

Ket. Foto: Rekonstruksi wajah Homo naledi, dilakukan dengan teknik deformasi anatomi koheren. — Sumber: Wikimedia Commons

Tidak ada cahaya matahari yang mampu menembus kedalaman itu. Hanya lampu kepala para penjelajah yang memecah kegelapan yang telah bertahan selama ratusan ribu tahun.

Di tempat yang nyaris mustahil dijangkau manusia modern itulah, sistem Gua Rising Star di Afrika Selatan menyimpan sisa-sisa kehidupan sebuah spesies manusia purba yang kemudian diberi nama Homo naledi.

Sejak pertama kali diperkenalkan kepada dunia pada 2015, Homo naledi telah berkali-kali memaksa ilmuwan meninjau ulang berbagai asumsi tentang perjalanan evolusi manusia.

Kini, lebih dari satu dekade kemudian, sebuah penelitian baru kembali menambahkan lapisan misteri yang tak kalah mengejutkan.

Analisis protein purba yang masih tersimpan di enamel gigi menunjukkan bahwa seluruh fosil Homo naledi yang berhasil dipelajari kemungkinan berasal dari individu berjenis kelamin perempuan. Tentu saja temuan baru yang dipublikasikan dalam jurnal Cell itu bukan sekadar mengubah cara ilmuwan memandang biologi Homo naledi namun membuka kembali perdebatan besar yang pernah terjadi.

Polekmik yang pernah mengemuka mungkinkah gua itu sebenarnya merupakan tempat pemakaman? Dan jika benar memang perempuan, mengapa kerangka yang ditemukan hampir seluruhnya perempuan?

Penemuan Mengubah Paleoantropologi

Kisah Homo naledi dimulai pada 2013 ketika tim peneliti yang dipimpin paleoantropolog Lee Berger melakukan eksplorasi di kompleks Gua Rising Star, sekitar 50 kilometer di barat laut Johannesburg. Yang mereka temukan bukan sekadar beberapa tulang manusia purba.

Di dalam ruang yang kemudian dinamai Dinaledi Chamber, para peneliti menemukan ribuan fragmen tulang yang berasal dari sedikitnya 15 individu. Penelitian lanjutan kemudian menambah jumlah tersebut menjadi sedikitnya 20 individu.

Hingga hari ini, seluruh spesimen Homo naledi yang diketahui dunia masih berasal dari satu kompleks gua itu. Tidak ada situs lain yang menghasilkan fosil spesies ini.

Keunikan tersebut segera menarik perhatian komunitas ilmiah. Ketika usia fosil berhasil ditentukan, hasilnya bahkan lebih mengejutkan. Homo naledi ternyata hidup sekitar 236.000 hingga 335.000 tahun lalu masa ketika manusia modern awal (Homo sapiens) mulai berkembang di Afrika.

Selama bertahun-tahun, ilmuwan mengira spesies dengan otak kecil telah lama punah sebelum periode tersebut. Namun Homo naledi justru hidup berdampingan dengan manusia yang secara anatomi sudah jauh lebih modern.

Tubuh Modern, Otak Purba

Homo naledi adalah perpaduan yang membingungkan. Tubuh mereka relatif kecil, dengan tinggi sekitar 145 sentimeter dan berat antara 40 hingga 55 kilogram. Bentuk kaki, tungkai, dan telapak mereka sangat menyerupai manusia modern sehingga diduga mampu berjalan serta berlari dalam jarak jauh.

Tangan mereka juga memperlihatkan kemampuan menggenggam yang baik, meskipun jari-jarinya masih melengkung seperti primata pemanjat pohon. Namun bagian yang paling mengejutkan adalah ukuran otaknya.

Volume otak Homo naledi hanya sekitar 465 hingga 610 sentimeter kubik, sekitar sepertiga ukuran otak manusia modern. Selama puluhan tahun, ukuran otak dianggap berkaitan erat dengan kemampuan berpikir simbolik, membuat alat yang kompleks, atau melakukan ritual sosial.

Karena itu, setiap penemuan mengenai Homo naledi selalu memunculkan pertanyaan baru: mungkinkah makhluk dengan otak sekecil itu memiliki perilaku yang jauh lebih kompleks daripada dugaan yang ada selama ini?

Rahasia Tersimpan di ­Dalam Gigi

Menentukan jenis kelamin manusia purba bukanlah pekerjaan mudah. Idealnya, ilmuwan menggunakan bentuk panggul karena merupakan bagian tubuh yang paling akurat membedakan laki-laki dan perempuan. Sayangnya, fosil sering ditemukan dalam kondisi tidak utuh.

DNA sebenarnya mampu memberikan jawaban yang jauh lebih pasti. Namun di wilayah beriklim hangat seperti Afrika, molekul DNA hampir selalu rusak setelah ratusan ribu tahun. Di sinilah teknologi baru memainkan perannya.

Alih-alih mencari DNA, tim peneliti memeriksa protein purba yang masih bertahan di enamel gigi melalui pendekatan yang dikenal sebagai paleoproteomik. Enamel merupakan jaringan paling keras dalam tubuh manusia. Ia bekerja layaknya kapsul waktu alami yang mampu melindungi protein dari kerusakan lingkungan selama ratusan ribu bahkan jutaan tahun.

Fokus penelitian adalah protein bernama amelogenin yang berfungsi membentuk enamel gigi. Protein ini memiliki dua bentuk. Amelogenin X dimiliki semua individu karena perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki kromosom X. Sebaliknya, amelogenin Y hanya ditemukan pada individu yang memiliki kromosom Y.

Ketika para ilmuwan memeriksa seluruh sampel, hasilnya sungguh mengejutkan. Tak satu pun memperlihatkan jejak amelogenin Y. Dengan kata lain, seluruh fosil yang diperiksa tidak menunjukkan penanda biologis laki-laki.

Benarkah Seluruhnya ­Perempuan?

Sekilas jawabannya tampak sederhana. Namun dalam dunia sains, jawaban sederhana hampir selalu diikuti pertanyaan yang jauh lebih rumit. Para peneliti sendiri menegaskan bahwa tidak ditemukannya amelogenin Y belum dapat dijadikan bukti bahwa seluruh individu memang perempuan.

Mereka mengingatkan pada prinsip yang dipopulerkan astronom Carl Sagan: absence of evidence is not evidence of absence ketiadaan bukti bukan berarti bukti bahwa sesuatu memang tidak ada. Salah satu kemungkinan memang seluruh individu yang ditemukan berasal dari perempuan.

Namun ada kemungkinan lain yang sama menariknya. Populasi Homo naledi mungkin mengalami mutasi sehingga gen amelogenin Y menghilang. Jika itu terjadi, individu laki-laki tetap ada, tetapi tidak lagi membawa penanda protein yang selama ini digunakan ilmuwan untuk mengidentifikasi jenis kelamin.

Kedua kemungkinan tersebut memiliki konsekuensi ilmiah yang sama besarnya. Jika seluruh individu adalah perempuan, maka Gua Rising Star menjadi salah satu situs manusia purba paling unik yang pernah ditemukan.

Jika ternyata mutasi genetik yang terjadi, maka Homo naledi menawarkan gambaran baru mengenai bagaimana populasi kecil berevolusi dalam kondisi terisolasi.

Menguburkan Orang Mati?

Di sinilah misteri menjadi semakin menarik. Mengapa begitu banyak individu ditemukan di lokasi yang sama, jauh di dalam lorong sempit yang sulit dijangkau bahkan oleh manusia modern? Selama bertahun-tahun, Lee Berger dan timnya berpendapat bahwa Homo naledi kemungkinan sengaja membawa jenazah anggota kelompoknya ke ruang tersebut. Hipotesis ini sangat berani.

Sebab selama puluhan tahun, kemampuan melakukan ritual penguburan dianggap sebagai ciri khas manusia modern dan beberapa kerabat dekatnya yang memiliki otak besar, seperti Neanderthal. Jika Homo naledi benar-benar melakukannya, berarti ukuran otak bukan satu-satunya faktor yang menentukan munculnya perilaku simbolik. 

Namun tidak semua ilmuwan sepakat. Sebagian paleoantropolog menilai bukti yang ada belum cukup kuat. Mereka berpendapat akumulasi tulang masih mungkin dijelaskan melalui proses alam yang belum sepenuhnya dipahami. 

Perdebatan tersebut bahkan menjadi salah satu kontroversi terbesar dalam paleoantropologi modern. Penelitian terbaru memilih langkah yang lebih hati-hati. Para penulis tidak menyatakan bahwa Gua Rising Star adalah tempat pemakaman. 

Mereka hanya menunjukkan bahwa apabila benar seluruh individu merupakan perempuan, maka kemungkinan adanya lokasi pemakaman khusus berdasarkan jenis kelamin layak dipertimbangkan. Hipotesis itu memunculkan imajinasi yang luar biasa.

Apakah di balik lorong-lorong batu kapur yang belum pernah dijelajahi masih terdapat ruang lain yang menyimpan fosil para laki-laki Homo naledi? Untuk saat ini, belum ada yang mengetahui ­jawabannya. hay

  • Fosil Homo naledi

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.