Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Norwegia Vs Pantai Gading: Erling Haaland Tetap Jadi Tumpuan
Selasa, 30 Jun 2026, 06:55 WIBDALLAS - Pelatih Norwegia, Stale Solbaken bakal menurunkan lagi sebelas pemain pertama yang menerkam Irak dan Senegal dalam dua pertandingan pertama Norwegia, bukan 11 starter yang dibantai Prancis pada pertandingan terakhirnya di Grup I.
Solbakken menurunkan pemain lapis kedua kala menghadapi Prancis, karena menganggap laga itu sudah tak menentukan lagi.
Dia membuat Norwegia menjadi tim keempat sepanjang sejarah Piala Dunia yang mengganti 10 starternya dalam satu pertandingan Piala Dunia.
Kala itu pikiran Solbakken sudah total pindah ke babak 32 besar. Dia ingin tim intinya siap 100 persen untuk memenangkan laga 32 besar.
Solbakken tak tergoda dengan harapan penggemar bola sedunia untuk bisa menyaksikan duel Haaland versus Kylian Mbappe.
Kini, kala menghadapi Pantai Gading dalam babak 32 besar di Dallas Stadium, Amerika Serikat, pada Selasa (30/6) pukul 24.00 WIB, Solbakken akan menurunkan lagi komposisi asli Norwegia di mana Haaland, Martin Odegaard dan Alexander Sorloth, kembali beraksi.
Bagi Haaland, kembalinya Norwegia ke setelan awal adalah peluang menjadi pemain pertama dalam 72 tahun terakhir yang mencetak lebih dari satu gol dalam tiga laga penampilan berturut-turut pada Piala Dunia.
Orang terakhir yang melakukan hal ini adalah Sandor Kocsis pada Piala Dunia 1954.
Striker Manchester City itu sudah mencetak empat gol, setelah masing-masing mencetak dua gol ke gawang Irak dan Senegal, yang membuat Norwegia mendapatkan enam poin di fase gugur.
Dia berkesempatan mendapatkan lagi minimal dua gol dari Pantai Gading, untuk menyamai atau melampaui pencapaian Lionel Messi dalam Piala Dunia ini.
Kemungkinan hal itu bisa dicapai Haaland karena sistem bermain Norwegia sangat mengakomodasi stiker tinggi besar tapi cepat itu.
Haaland adalah bagian tak terpisahkan dari sukses Norwegia memasuki lagi Piala Dunia setelah 28 tahun selalu gagal.
Solbakken yang pragmatis sangat memprioritaskan formasi yang memaksimalkan kekuatan pemain bintang seperti Haaland karena hal itu lebih memastikan adanya kemenangan, dari pada harus berpegang pada satu sistem permainan yang ideal.
Di bawah asuhannya, Norwegia bermain dalam pola pragmatis 4-3-3 atau 4-4-2.
Mirip Senegal
Kedua pola itu dirancang guna menciptakan ruang lapang untuk Haaland agar bebas meneror lawan, dan membuat playmaker seperti Odegaard dan Sorloth aktif membuat peluang.
Di bawah sistem ini, Haaland akan kembali berada di tengah antara Sorloth dan Antonio Nusa sebagai trisula serangan The Lions.
Odegaard berada di bagian kanan dari lini tengah, berseberangan dengan Fredrik Aursnes di kiri, sedangkan Sander Berge tepat di tengah dengan kecenderungan melapis tim pertahanan pimpinan duet Torbjorn Heggem - Krisoffer Ajer.
Solbakken tahu Pantai Gading memiliki sistem pertahanan yang solid yang sulit ditembus lawan. Tapi tembok itu dua kali dijebol Jerman ketika Si Gajah takluk 1-2 kepada Tim Panser.
Solbaken bisa belajar dari Jerman mengenai cara meruntuhkan tembok pertahanan Pantai Gading.
Tapi bisa juga tidak perlu, karena Norwegia lebih bisa belajar dari suksesnya mengalahkan Senegal yang memiliki gaya bermain seperti Pantai Gading.
Senegal dan Pantai Gading sama-sama mengandalkan pertahanan yang solid, mengoptimalkan keunggulan fisik, dan transisi cepat dari bertahan ke menyerang.
Kesamaan itu seharusnya membuat Norwegia sudah memiliki cara terampuh dalam menaklukkan Pantai Gading.
Norwegia sendiri memiliki catatan bagus kala melawan tim-tim Afrika. The Lions hanya kalah dua kali dari total 19 pertemuan dengan tim-tim Afrika. Terakhir mereka mengalahkan Senegal 3-2 dalam Piala Dunia ini.
Sebaliknya, Pantai Gading hanya menang sekali dari lima pertemuan dengan tim-tim Eropa dalam ajang Piala Dunia, termasuk dari Jerman pada Piala Dunia 2026.
Si Gajah sendiri baru sekali ini masuk babak knockout Piala Dunia setelah tiga kali mencoba selalu berakhir dengan kegagalan.
Tapi pelatih Emerse Fae tidak merancang Pantai Gading hanya puas dengan cukup merasakan bertanding di fase gugur.
Fae justru akan memastikan Pantai Gading tak mengulang kegagalan Kamerun pada 1990 dan Senegal pada 2002 dalam mengakhiri kesempatan pertama tampil di fase gugur dengan kemenangan.
Kuncinya di Haaland
Fae juga tahu, tanpa Haaland dan Odegaard, Norwegia tidak lebih baik dari Jerman yang hampir mereka kalahkan.
Walau Norwegia sudah mencetak delapan gol, Emerse Fae tahu sistem bermain Solbaken yang terlalu mengandalkan Haaland, telah meninggalkan bolong besar di lini belakang.
Buktinya, Norwegia selalu kebobolan dalam tiga laga fase grup, bahkan empat kali dibobol Prancis, ketika saat bersamaan Pantai Gading dua kali clean sheet selama fase yang sama. Pantai Gading baru kemasukan dua gol, sedangkan Norwegia sudah tujuh kali kebobolan.
Selain dari itu, walau cenderung lebih defensif daripada Norwegia, performa Pantai Gading di depan gawang lawan tak kalah angker dari tim Solbakken.
Jika Odegaard cs membuat 34 peluang, maka Franck Kessie dkk membuat 31 peluang. Tapi Norwegia hampir dua kali lipat Pantai Gading dalam urusan peluang tepat sasaran; 17 lawan 9.
Pantai Gading juga terlihat lebih ofensif karena melepaskan umpan yang lebih banyak, 1.564 melawan 1.357, dan frekuensi menembus sepertiga terakhir yang lebih tinggi, 144 versus 125.
Si Gajah juga lebih aktif dalam melakukan pressing dan memaksa lawan melakukan kesalahan umpan. Jika pressing Norwegia sebanyak 694 kali, maka Pantai Gading 805 kali.
Ange-Yoan Bonny dan Odegaard sama-sama menjadi pemain dengan pressing paling tinggi dalam timnya.
Untuk itu, Odegaard menjadi faktor yang harus dimatikan Pantai Gading agar aliran bola kepada Haaland terhenti.
Masalahnya, suplai bola untuk Haaland juga dipasok dari umpan-umpan jauh yang dilepaskan bek Torbjorn Heggem dan kiper Orjan Nyland.
Akan menjadi tugas yang sangat pelik bagi Pantai Gading untuk mematikan dua pemain lini belakang Norwegia itu.
Sebaliknya, Norwegia harus lebih mengawasi Frank Kessie yang terbanyak melepaskan umpan dan Yan Diomande yang rajin mengirimkan umpan silang dengan frekuensi dua kali lebih banyak dari yang dibuat Julian Ryerson di Norwegia.
Tapi faktor paling menonjol dalam laga ini tetaplah Haaland. Dia faktor terbesar untuk tumbang tidaknya Pantai Gading.
Haaland sangat sulit dihentikan karena kuat sekali secara fisik, berlari sangat cepat, dan memiliki sentuhan akhir yang nyaris sempurna. Dia adalah senjata paling berbahaya untuk siapa pun lawan Norwegia.
Jika Pantai Gading bisa menjinakkan Haaland, maka pasukan Emerse Fae yang memenangkan laga ini. Tapi jika tidak bisa, maka Norwegia yang akan menjadi lawan Brasil di babak 16 besar.
- norwegia
- Erling Haaland
- Pantai Gading
- Melaju ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Kabar Baik Buat Warga Kota Kembang: Pengelola TSI Siap Tingkatkan Standar Bandung Zoo
-
Koperasi merah putih di Tasikmalaya siap beroperasi
-
Akhir Penantian Generasi Emas: Norwegia Siap Menggebrak Piala Dunia 2026
-
Maroko Dampingi Brasil Melaju ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Usai Taklukkan Haiti 4-2
-
Pantai Gading vs Ekuador: Pertarungan Dua Kekuatan yang Memburu Tiket 16 Besar Piala Dunia 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.