APKESMI dan Danone Indonesia Luncurkan Program Puskesmas Siap SEDIA untuk Cegah Stunting
Senin, 29 Jun 2026, 16:15 WIBJAKARTA - Upaya menekan angka stunting di Indonesia masih membutuhkan kolaborasi berbagai pihak meski prevalensinya terus menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting tercatat sebesar 19,8 persen atau sekitar satu dari lima balita di Indonesia masih mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan anak, tetapi juga berhubungan dengan masalah gizi lain seperti Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang masih banyak ditemukan pada ibu dan anak. Kondisi tersebut berisiko mengganggu perkembangan otak, kemampuan konsentrasi, daya ingat, hingga proses belajar anak dalam jangka panjang.
Bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni, Akselerasi Puskesmas Indonesia (APKESMI) meluncurkan Program Puskesmas Siap SEDIA atau Skrining, Edukasi, Intervensi Aksi Cegah Anemia dan Stunting. Program tersebut merupakan inovasi penguatan layanan kesehatan primer yang didukung oleh Danone Indonesia.
Program Puskesmas Siap SEDIA mengedepankan tiga tahapan utama, yakni skrining, edukasi, dan intervensi. Pada tahap awal, tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan menggunakan standar antropometri serta kalkulator zat besi untuk mendeteksi risiko anemia maupun gangguan pertumbuhan anak sejak dini.
Selanjutnya, edukasi diberikan melalui Flipchart SEDIA yang memuat panduan mengenai gizi seimbang, pentingnya pemenuhan zat besi, hingga pola makan sehat bagi ibu dan anak. Setelah itu, intervensi dilakukan berdasarkan hasil skrining dan rekomendasi tenaga kesehatan agar penanganan sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
Ketua Umum DPP APKESMI, Kusnadi, mengatakan puskesmas memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Karena itu, peningkatan kapasitas layanan primer dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat deteksi dini sekaligus penanganan berbagai persoalan gizi.
"Melalui Program Puskesmas Siap SEDIA, kami ingin memperkuat peran Puskesmas dalam melakukan skrining, edukasi, dan intervensi secara lebih terstruktur," kata Kusnadi.
Ia menjelaskan, pencegahan anemia maupun stunting harus dilakukan sejak dini agar dampaknya terhadap tumbuh kembang anak dapat ditekan semaksimal mungkin. Program tersebut diharapkan menjadi model penguatan layanan primer yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Selain menghadirkan inovasi layanan, APKESMI juga menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas puskesmas melalui pengembangan inovasi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, advokasi kebijakan, hingga diseminasi praktik baik. Organisasi tersebut juga terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, organisasi profesi, serta sektor swasta.
"Kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, organisasi profesi, dan sektor swasta terus didorong untuk memperkuat implementasi upaya promotif preventif di Puskesmas," ujar Kusnadi.
Sementara itu, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, dr. Ray Wagiu Basrowi, menilai pencegahan stunting dan Anemia Defisiensi Besi perlu didukung pendekatan berbasis bukti ilmiah agar setiap intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Menurutnya, riset menjadi fondasi utama dalam pengembangan berbagai program kesehatan dan nutrisi yang dijalankan perusahaan. Karena itu, Danone Indonesia terus memperkuat kolaborasi dengan tenaga kesehatan, akademisi, organisasi profesi, serta pemerintah untuk menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
"Kami percaya bahwa kesehatan dan nutrisi pada masa awal kehidupan merupakan fondasi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal," ujar dr. Ray.
Ia menambahkan, Danone Indonesia juga mengembangkan Kalkulator Zat Besi sebagai alat bantu digital guna mendukung deteksi dini risiko kekurangan zat besi. Perusahaan turut mendukung implementasi Program Puskesmas Siap SEDIA, khususnya pada aspek skrining sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan primer.
Melalui kolaborasi tersebut, APKESMI dan Danone Indonesia berharap semakin banyak anak memperoleh akses terhadap deteksi dini, edukasi, dan penanganan yang tepat. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat upaya pencegahan anemia dan stunting sehingga tercipta generasi Indonesia yang lebih sehat, tumbuh optimal, dan siap menghadapi masa depan.
- Puskesmas
- Anemia Defisiensi Besi
- Danone Indonesia
- Cegah Stunting
- Hari Keluarga Nasional
- Kesehatan Anak
- Akselerasi Puskesmas Indonesia (APKESMI)
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Como Menguji Ketangguhan Inter di Laga Penentu
-
Terungkap! Real Madrid Sempat Rayu Zidane Sebelum Pilih Arbeloa, Kenapa Ditolak?
-
Dorong UMKM Naik Kelas, ASDP Ramaikan Inabuyer 2026
-
Tingkat prevalensi stunting di Sulawesi Tenggara
-
Banggai Kepulauan Gandeng KKP, Dorong Kesejahteraan Nelayan dan Ekonomi Pesisir
-
Jakarta Laris Manis Dikunjungi 8,6 Juta Saat Bulan Maret
-
Pertamina Beri Literasi Energi-Kesiapan SDM melalui Edukasi Industri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.