Alphonso Davies, Siap Menuntaskan Kisah yang Terhenti

Senin, 29 Jun 2026, 06:13 WIB

ADA luka yang meninggalkan bekas, bukan hanya di tubuh, tetapi juga dalam ingatan. Alphonso Davies akan kembali ke lapangan untuk Kanada di tempat yang pernah menjadi saksi salah satu momen paling menyakitkan dalam kariernya.

Lebih dari setahun lalu, stadion megah itu menjadi tempat terakhir Davies mengenakan seragam Kanada. Dalam pertandingan perebutan tempat ketiga Liga Bangsa-Bangsa Concacaf melawan Amerika Serikat Maret 2025, pemain sayap kiri Bayern Munich tersebut harus meninggalkan lapangan karena cedera parah.

Ket. Foto: Bek Kanada Alphonso Davies — Sumber: FRANCK FIFE / AFP

Ligamen anterior cruciatum (ACL) di lututnya robek, disertai kerusakan tambahan yang membuatnya harus menjalani pemulihan panjang selama delapan bulan. Bagi seorang pesepak bola, waktu selama itu terasa seperti perjalanan tanpa akhir.

Namun, Davies tidak pernah kehilangan keyakinan. Setelah sempat kembali dan kemudian mengalami cedera hamstring yang membuatnya harus menunggu lebih lama, pemain berusia 25 tahun itu akhirnya siap menjalani debutnya di Piala Dunia bersama Kanada. Tempat kembalinya memiliki makna tersendiri.

“Saya sebenarnya tidak terlalu memikirkan cedera itu. Hal seperti itu bisa terjadi di mana saja,” ujar Davies. Cedera tidak bisa diprediksi. Sekarang dia kembali ke stadion tempat menyelesaikan sesuatu yang dimulai Maret tahun lalu.

Kenangan buruk tidak membuatnya menjauh dari stadion tersebut. Sebaliknya, Davies masih memiliki rasa cinta terhadap tempat itu. “Saya sangat menikmati bermain di sini karena stadion ini luar biasa. Memang semuanya berhenti secara tiba-tiba, tetapi itulah sepak bola. Anda tidak pernah ingin mengalami cedera, tetapi terkadang hal seperti itu terjadi,” ujarnya.

Piala Dunia kali ini juga memiliki arti khusus bagi Davies. Ia masih mengingat masa ketika dirinya, sebagai pemain muda berusia 17 atau 18 tahun, berbicara di Kongres FIFA tentang harapan Kanada menjadi tuan rumah Piala Dunia. Ketika mimpi itu menjadi kenyataan, ia merasakan kebanggaan besar.

“Saat pertama kali menginjak lapangan di Toronto, rasanya tidak nyata. Saya belum pernah melihat begitu banyak warga Kanada datang untuk pertandingan sepak bola. Itu benar-benar luar biasa,” kenangnya.

Kini, Kanada memasuki babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya. Tantangan semakin besar, tetapi Marsch percaya timnya siap menghadapi tekanan. Bagi Davies, pertandingan ini bukan sekadar laga sepak bola. Ini adalah kesempatan untuk menutup bab yang sempat terhenti. ben/G-1

  • Profil Bintang

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.