Cermati Data Inflasi AS, 26 Juni 2026

Jumat, 26 Jun 2026, 08:20 WIB

JAKARTA – Rupiah berpotensi kembali melemah dalam perdagangan akhir pekan ini. Investor diperkirakan masih fokus terhadap perkembangan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang berdampak terhadap kebijakan moneter bank sentral setempat atau Federal Reserve (The Fed). 

Apabila data inflasi AS masih berada di level tinggi, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi da­lam jangka waktu lebih lama. Kondisi tersebut cenderung memperkuat dollar AS dan memicu aliran dana ke aset-aset berdenominasi dollar, sehingga memberikan tekanan ter­hadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Pengamat mata uang dari Doo Financial Futures, Luk­man Leong melihat pergerakan rupiah akhir pekan ini di­pengaruhi hasil rilis data penting inflasi Personal Consump­tion Expenditures (PCE) AS tadi malam. Apabila data PCE AS naik melampaui perkiraan, rupiah berpotensi melemah.

Karenanya, dia memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Jumat (26/6), bergerak fluktuatif di kisaran 17.900 – 18.000 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Kamis (25/6) sore menguat tipis 9 poin atau 0,05 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.943 rupiah per dollar AS. “Penguatan ini disebabkan harga minyak mentah yang terus merosot tajam hingga me­nyentuh di bawah 70 dollar AS per barel untuk WTI Crude Oil,” ujar Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi. Ibrahim me­nambahkan kesepakatan awal pekan lalu untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran telah memungkinkan lalu lin­tas di Selat Hormuz dimulai kembali.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.