Peluang Melemah Terbuka, 22 Juni 2026
Senin, 22 Jun 2026, 07:55 WIBJAKARTA â Rupiah diperkirakan bergerak melemah pada awal pekan seiring meningkatnya kehati-hatian investor terÂhadap laporan MSCI mengenai kondisi pasar keuangan InÂdonesia serta ketidakpastian arah kebijakan moneter AmeÂrika Serikat (AS). Sentimen global yang masih didominasi ekspektasi suku bunga The Fed dan arus modal asing memÂbuat tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah, cenderung berlanjut dalam jangka pendek.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan rupiah pekan lalu dipengaruhi oleh sentimen domestik dari laporan MSCI yang menurunkan penilaian Indonesia terkait transparansi pasar dan keterÂbatasan pasar valuta asing Indonesia. Di sisi eksternal, eksÂpektasi kebijakan moneter The Fed yang cenderung hawkÂish dan penguatan dollar AS turut menambah tekanan terhadap rupiah.
Karenanya, Ibrahim memproyeksikan kurs rupiah terhaÂdap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Senin (22/6), bergerak cenderung melemah di kisaran 17.500-18.000 rupiah per dollar AS.
Seperti diketahui, hingga 19 Juni 2026, kurs rupiah terÂhadap dollar AS melemah 1.033 poin atau sekitar 6,16 perÂsen dari akhir tahun lalu di level 16.771 rupiah per dollar AS. Pada penutupan perdagangan Jumat (19/6) sore, nilai tukar rupiah melemah 10 poin atau 0,06 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.804 rupiah per dollar AS.
âPergerakan rupiah masih dipengaruhi respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali meÂnaikkan BI-rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,75 persen,â ujar Research and Development Indonesia ComÂmodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa di Jakarta.
Dia menambahkan kebijakan tersebut diambil sebagai langkah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di teÂngah tingginya ketidakpastian global sekaligus menjaga inflaÂsi tetap berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan.
Kenaikan suku bunga acuan tersebut dinilai memberiÂkan sentimen positif bagi rupiah karena berpotensi meÂningkatkan daya tarik aset keuangan domestik dan menÂdorong masuknya aliran modal asing. Langkah ini juga menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
Sejak Mei 2026, BI telah menaikkan BI-Rate secara berÂtahap dengan total kenaikan mencapai 100 basis poin, seÂhingga membawa suku bunga acuan kembali ke level 5,75 persen, level yang terakhir kali tercapai pada April 2025. Melihat dari sisi global, sentimen pasar cenderung membaÂik setelah muncul perkembangan positif di Timur Tengah.
Kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz disebut berhasil meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Kondisi tersebut turut mendorong harga minyak dunia bergerak lebih rendah.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Hasil Piala Jerman: Bayern Muenchen ke Final Usai Singkirkan Bayer Leverkusen 2-0
-
Perkuat Energi Hijau untuk Tarik Investasi Global
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.