• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Klaim Asuransi Penyakit Tr...

Klaim Asuransi Penyakit Tropis Meroket, Masyarakat Diingatkan Tidak Abaikan Gejala

Senin, 22 Jun 2026, 19:17 WIB

JAKARTA – Penyakit tropis seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), demam tifoid, dan tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian masyarakat Indonesia. Meski telah lama dikenal, ketiga penyakit tersebut masih tercatat sebagai penyebab tingginya kebutuhan layanan medis, baik rawat jalan maupun rawat inap.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan penyakit tropis masih menjadi persoalan kesehatan yang harus diwaspadai secara berkelanjutan. Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia dengan estimasi mencapai 1,06 juta kasus per tahun.

Ket. Foto: Ilustrasi pasien yang mengalami penyakit tropis. Allianz Indonesia mencatat ribuan klaim DBD, demam tifoid, dan TBC pada 2026. Masyarakat diingatkan pentingnya pencegahan, deteksi dini, dan perlindungan kesehatan. — Sumber: Allianz Indonesia

Sementara itu, kasus DBD di Indonesia mencapai 210.644 kasus dengan 1.239 kematian. Adapun demam tifoid masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan puluhan ribu kasus setiap tahunnya, terutama di wilayah dengan tantangan sanitasi dan kebersihan lingkungan.

Tingginya angka penyakit tropis tersebut juga tercermin dalam data klaim kesehatan Allianz Indonesia. Hingga pertengahan Juni 2026, Allianz Indonesia mencatat 1.686 klaim terkait DBD dengan nilai klaim lebih dari Rp 21,5 miliar. Selain itu, terdapat 1.534 klaim demam tifoid dengan nilai lebih dari Rp 14,5 miliar, serta 815 klaim TBC dengan nilai mencapai lebih dari Rp5,4 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan utama masyarakat membutuhkan perawatan medis. Tidak hanya dari sisi jumlah kasus, Allianz Indonesia juga melihat adanya tren peningkatan biaya pengobatan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Allianz Indonesia periode 2020–2025, rata-rata biaya rawat inap demam tifoid per kasus meningkat hingga 66 persen. Sementara biaya perawatan DBD per kasus mengalami kenaikan hingga 88 persen.

“Data klaim yang kami miliki menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat adanya peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir,” ujar dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pencegahan dan deteksi dini, bukan hanya untuk menjaga kesehatan masyarakat, tetapi juga mengurangi risiko beban finansial akibat kebutuhan perawatan medis.

Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penyakit tropis, Allianz Indonesia menggelar diskusi kesehatan melalui program Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertajuk “Waspada Tropical Diseases”. Kegiatan tersebut menghadirkan dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Dion Haryadi.

Dalam diskusi tersebut, dr. Dion menjelaskan bahwa meskipun DBD, demam tifoid, dan TBC sudah lama dikenal masyarakat, ketiganya masih menjadi penyakit yang sering muncul setiap tahun.

“Meski telah lama dikenal masyarakat Indonesia, penyakit DBD, demam tifoid, dan TBC masih menjadi penyakit yang menghantui setiap tahunnya. Padahal, sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah,” ujar dr. Dion.

Ia menilai salah satu tantangan dalam pengendalian penyakit tropis adalah anggapan bahwa penyakit tersebut sudah umum terjadi sehingga sering dianggap tidak berbahaya. Akibatnya, sebagian masyarakat menunda pemeriksaan hingga kondisi kesehatan memburuk.

Pada kasus DBD, misalnya, masyarakat sering menganggap pasien mulai sembuh ketika demam turun. Padahal, fase tersebut justru menjadi periode yang perlu diwaspadai karena risiko komplikasi dapat meningkat.

Sementara itu, gejala demam tifoid seperti demam berkepanjangan, lemas, dan gangguan pencernaan kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan. Pada kasus TBC, batuk lama juga sering kali tidak segera diperiksa karena dianggap hanya batuk biasa.

Selain faktor keterlambatan pemeriksaan, kondisi iklim tropis, kepadatan penduduk, sanitasi, serta keberadaan vektor penyakit seperti nyamuk turut menjadi faktor yang membuat penyakit tropis tetap ditemukan di Indonesia.

Dari sisi biaya, masyarakat juga perlu memahami bahwa pengobatan penyakit tropis dapat membutuhkan biaya besar. Perawatan pasien DBD di rumah sakit, misalnya, dapat mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat keparahan, lama perawatan, pemeriksaan, pengobatan, hingga komplikasi yang mungkin terjadi.

Dengan meningkatnya biaya layanan kesehatan, masyarakat disarankan memastikan perlindungan kesehatan melalui kepesertaan BPJS aktif maupun asuransi kesehatan tambahan untuk membantu menghadapi risiko finansial akibat kebutuhan medis.

Di sisi lain, upaya pencegahan tetap menjadi langkah utama. Beberapa tindakan sederhana yang dapat dilakukan antara lain menjaga kebersihan lingkungan, menghindari tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, memastikan ventilasi rumah cukup baik, serta menjaga keamanan makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Masyarakat juga diimbau segera melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit tropis agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.

“Penyakit tropis mungkin terdengar akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi bukan berarti bisa dianggap sepele. Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pencegahan sederhana dapat membantu melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat,” lanjut dr. Tubagus Argie.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.