Warga Jogja Jangan Kaget, Gara-Gara Teknologi Ini Petugas Sensus Bisa Lacak Salah Input Secara Real-Time

Minggu, 21 Jun 2026, 21:54 WIB

YOGYAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengintegrasikan metode Computer-Assisted Personal Interviewing (CAPI) berbasis gawai dan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, Minggu (21/6). 

Pelaksana Tugas Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih mengatakan penggunaan CAPI merupakan bagian dari transformasi pendataan BPS agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan data yang cepat serta akurat. 

Ket. Foto: Petugas Sensus Ekonomi 2026 tengah melakukan pendataan dengan mewawancarai salah seorang warga Kalurahan Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta, Rabu (17/6). — Sumber: ANTARA/Agung Dwi Prakoso

"Kalau dulu mungkin kita masih menggunakan paper, sekarang untuk lebih efisien, petugas menggunakan gadget atau CAPI," kata Endang, di Yogyakarta, Minggu. 

Menurut dia, sistem pendataan digital tersebut juga terintegrasi dengan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meminimalkan kesalahan input data secara real-time. 

Dengan sistem itu, lanjut dia, potensi kesalahan akibat proses entri ulang setelah pencacahan dapat ditekan, termasuk kesalahan non-sampling yang berpeluang muncul saat pendataan masih menggunakan formulir kertas. 

"Kalau dulu kita melakukan pendataan menggunakan kertas, kita harus entri lagi, itu kan bisa menjadi kesalahan yang diakibatkan oleh non-sampling error, jadi sekarang selain transformasi, BPS juga mengikuti perubahan itu dengan melakukan pendataan memakai CAPI atau gadget," katanya. 

BPS DIY menyiapkan sebanyak 4.082 petugas yang telah dilatih di seluruh kabupaten/kota untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang dijadwalkan bertugas mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. 

"Petugasnya ada 4.082 petugas yang sudah dilatih di masing-masing kabupaten/kota," ujar Endang. 

Meski demikian, dia menjelaskan batas akhir 31 Agustus merupakan target penyelesaian pendataan lapangan, sementara petugas masih dimungkinkan untuk melakukan konfirmasi ulang kepada responden apabila ditemukan anomali data. 

"31 Agustus itu batas, tetapi kadang-kadang harus konfirmasi lagi kepada responden kalau ada anomali-anomali yang harus dicek," katanya. 

Terkait potensi kendala di lapangan, Endang menilai hambatan teknis seperti sinyal internet di sejumlah wilayah relatif kecil dan telah diantisipasi melalui fitur pendataan offline pada perangkat petugas. 

"Mitigasinya adalah kita bisa melakukan pendataan secara offline, jadi tetap didata, disimpan, tetapi nanti pada saat submit beralih ke tempat yang ada internetnya," kata dia. 

Menurut dia, tantangan yang lebih sering dihadapi petugas justru berkaitan dengan penyesuaian waktu bertemu responden dan memastikan informan yang diwawancarai benar-benar mengetahui kondisi usaha maupun pengeluaran rumah tangga. 

"Yang sering terjadi adalah kita menyesuaikan jadwal responden, padahal petugas ini dibatasi waktu dan kadang responden tidak bisa langsung ditemui," ujarnya. 

BPS DIY juga mengimbau masyarakat menerima petugas sensus dengan baik dan memberikan keterangan yang benar. 

Ia memastikan kerahasiaan data responden tetap terjaga sesuai prinsip pelaksanaan sensus. 

"Terima petugas dengan baik, isi data dengan benar, dan rahasia akan terjaga," kata Endang.

  • sensus ekonomi 2026
  • kecerdasan buatan
  • bps diy
  • ekonomi yogyakarta

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.