Sinergi Olahraga dan Pariwisata, Wabup Tabanan Kembangkan Event Lari di Berbagai Destinasi

Minggu, 21 Jun 2026, 21:05 WIB

TABANAN – Potensi daerah wisata menunjukkan peluang besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, terutama jika didukung pengelolaan yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.

Keberagaman daya tarik alam, budaya, dan kuliner menjadi modal utama yang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperluas lapangan kerja.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pengunjung menikmati suasana persawahan saat pembukaan Jatiluwih Eco Farm di Desa Jatiluwih, Tabanan, Bali. — Sumber: ANTARA/ Nyoman Hendra Wibowo

Namun, optimalisasi potensi ini masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, promosi yang belum merata, serta kualitas layanan yang perlu ditingkatkan.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar potensi wisata tidak hanya menjadi daya tarik, tetapi juga sumber kesejahteraan yang berkelanjutan.

Wakil Bupati (Wabup) Tabanan I Made Dirga membidik potensi berbagai daerah wisata di Tabanan untuk menjadi lokasi ajang lari yang sedang tren.

“Tanah Lot ada, Yeh Gangga juga ada, Soka juga ada, Ulun Danu, semua itu bisa,” ucapnya di sela Bali Tourism Run di Jatiluwih, Tabanan, Bali, Minggu (21/6).

Gelaran Bali Tourism Run serangkaian 100 Tahun Pariwisata Bali di Jatiluwih menurut dia adalah contoh mempromosikan pariwisata Tabanan melalui potensi daerah wisata yang ada.

Meski pada ajang perdana masih ada yang perlu dievaluasi, namun dalam waktu sekitar 1 bulan pendaftaran, sebanyak 1.700 orang bergabung dengan potensi perputaran uang hingga Rp1,5 miliar menurut Asita Bali.

“Ini ide luar biasa untuk ke depannya, ini saja sudah luar biasa bagusnya karena pertama tentunya yang belum maksimal,” ujarnya.

Berangkat dari lari santai pertama ini, Pemkab Tabanan ingin daerah wisata lain selanjutnya merancang lebih maksimal.

Meski bukan dikerjakan bersama Asita sebagai asosiasi agen perjalanan wisata, Pemkab Tabanan berprinsip akan mencoba menjajaki mitra-mitra strategis lainnya untuk merealisasikan ini.

Sebab, dampak terutama ekonomi bagi masyarakat di daerah wisata tersebut akan sangat besar, seperti di Jatiluwih di mana penginapan milik masyarakat okupansinya mencapai 100 persen dan kemudian berdampak ke restoran, warung, dan UMKM di desa.

“Sangat luar biasa dampaknya karena titik kumpulnya di Tabanan, banyak orang yang datang ke sini tentunya pasti ada lebihnya dia belanja atau penginapan juga ada, sudah luar biasa,” kata Dirga.

Hanya saja apabila ajang wisata olahraga ini digelar di daerah wisata lainnya diperlukan kesiapan yang lebih dari masyarakat desa maupun infrastruktur pendukungnya.

Namun tetap ditegaskan bahwa tidak bisa membangun sembarangan, seperti di Jatiluwih dengan terbatasnya penginapan tidak berarti pelaku usaha boleh membangun di sawah.

“Seperti Jatiluwih ini kan warisan budaya dunia yang tidak boleh sembarang kita membangun di sini, di mana pemandangannya bagus kita tak boleh membangun, harus tahu di mana yang boleh di mana tidak, masih kita pemerintah hitung juga,” tutur Wabup Tabanan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.