Oman Disingkirkan AS dari Mediasi Iran, Status “Swiss Timur Tengah” Kini Terancam

Jumat, 19 Jun 2026, 06:15 WIB

DUBAI – Ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pertama kali mengumumkan kesepakatan dengan Iran, ia menyebut hampir setengah lusin negara yang menyetujui perjanjian tersebut, termasuk seluruh negara Teluk kecuali satu: Oman, negara yang sebelumnya menjadi mediator.

Kesultanan yang tenang ini, yang berbagi Selat Hormuz yang strategis dengan Iran, selama lebih dari satu dekade menjadi perantara utama pembicaraan AS–Iran dan membantu memfasilitasi kesepakatan nuklir 2015 yang kemudian ditinggalkan Trump delapan tahun lalu.

Ket. Foto: Presiden Amerika Serikat Donald Trump. — Sumber: Antar

Kini, Oman—yang dijuluki “Swiss di Timur Tengah” karena netralitasnya—justru mendapat tekanan dari Trump dan disingkirkan sebagai mediator dalam kesepakatan yang ditandatangani pekan ini. Washington menuduh Muscat terlalu dekat dengan Iran.

“Model Oman selalu berupa triangulasi, di mana mereka menjaga jalur komunikasi terbuka dengan Teheran, Washington, dan negara-negara Teluk secara bersamaan,” kata analis H.A. Hellyer dari Royal United Services Institute.

“Yang berubah adalah toleransi Washington terhadap pihak perantara yang tidak memutus hubungan dengan Iran, dan terlibat dalam diplomasi dengan gaya yang secara publik agresif mengikuti sikap Washington.”

Langkah ini terjadi meski negara-negara Teluk lainnya, yang tidak sepenuhnya yakin dengan payung keamanan AS, tetap menjalin komunikasi dengan Iran, serta di tengah meningkatnya peran Oman sebagai pusat logistik regional yang menghindari Selat Hormuz.

Oman menjadi negara Teluk pertama yang menerima pemimpin Israel pada 1994, tetapi juga menjadi tuan rumah perundingan antara kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman.

Muscat selama ini menjadi jalur komunikasi tidak resmi antara AS dan Iran menjelang kesepakatan nuklir 2015, serta memediasi beberapa putaran pembicaraan pada masa jabatan kedua Trump.

Namun, negosiasi tersebut dua kali terhenti—pada Juni tahun lalu dan Februari akibat serangan terhadap Iran yang memicu perang terbaru.

Menjaga netralitas ternyata membawa konsekuensi bagi Oman, karena AS menuntut dukungan penuh dari sekutu Teluknya yang terdampak serangan Iran.

Pada puncak perang, Sultan Haitham bin Tariq mengucapkan selamat kepada Mojtaba Khamenei atas penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi.

Kesultanan itu juga cenderung tidak secara langsung menyebut Iran dalam kecaman atas serangan di wilayahnya dan kawasan, dengan diplomat senior Badr Albusaidi bahkan menyerukan agar Washington menghentikan serangan ke Iran, dengan menegaskan “ini bukan perang Anda”.

Dalam beberapa minggu berikutnya, Pakistan—didukung Mesir, Turki, dan Arab Saudi—mengambil alih peran utama dalam negosiasi di tengah perang. Qatar juga semakin memainkan peran penting.

Pada Mei, Trump mengancam bahwa jika Oman mencoba mengendalikan Selat Hormuz bersama Iran, ia akan “menghancurkan mereka”, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan akan menjatuhkan sanksi kepada Muscat jika membantu menerapkan sistem tarif di jalur laut tersebut.

Ia kemudian mengatakan bahwa duta besar Oman meyakinkannya “tidak ada rencana untuk penerapan tarif”.

Seperti Pegawai Iran

Sebagai bagian dari kesepakatan, Oman dan Iran bersama negara-negara Teluk lain akan menentukan “masa depan administrasi dan layanan maritim di Selat Hormuz” sesuai hukum internasional.

Namun Washington menegaskan bahwa Oman bukan mediator yang mereka inginkan.

Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS “menyingkirkan mereka” dari proses karena “kami merasa mereka sangat tidak jujur, hampir seperti pegawai Iran”.

Namun mantan diplomat AS Alan Eyre menilai Oman tidak sepenuhnya berpihak pada salah satu negara.

Ia mengatakan Muscat tidak benar-benar kehilangan kepercayaan Washington, karena hubungan keduanya tetap bersifat transaksional: selama Oman bermanfaat, AS akan tetap berhubungan dengannya.

Meski netralitas Oman membuatnya mendapat tekanan dari AS, hal itu juga melindungi negara tersebut dari serangan yang lebih sering terjadi di negara-negara tetangganya.

Selama perang, Oman menjadi negara Teluk yang paling sedikit terdampak serangan, sementara bandara mereka menjadi tempat transit para pengungsi dari wilayah konflik.

Sikap hati-hati Muscat sangat berbeda dengan negara-negara Teluk lain yang lebih keras mengkritik Iran, meski banyak di antaranya kini mulai membuka jalur dialog.

Sebagian besar garis pantai Oman berada di luar Teluk, menjadikan pelabuhan Sohar dan Duqm sebagai pusat logistik penting di tengah upaya mencari jalur alternatif dari Selat Hormuz.

“Perang mempercepat strategi ‘hedging’ yang sudah ada,” kata Hellyer, merujuk pada pendekatan negara-negara Teluk yang kembali berhubungan dengan Iran sambil tetap menjaga hubungan dengan AS.

“Negara-negara Teluk kini mulai mengikuti pendekatan Oman karena insentif utama—jaminan keamanan AS yang tidak stabil—berlaku secara luas.”

  • Kebijakan AS

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.