Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995

Rabu, 17 Jun 2026, 00:45 WIB

Moneter Jepang

Tokyo - Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) pada Selasa (16/6) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen sebagai upaya meredam tekanan inflasi yang dipicu gejolak energi akibat perang di Timur Tengah, meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan damai.

Ket. Foto: Bendera Jepang berkibar di Gedung kantor pusat Bank of Japan di Tokyo, Selasa (16/6). Bank of Japan secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun karena berupaya mengatasi inflasi yang disebabkan oleh Perang Timur Tengah. — Sumber: AFP/Kazuhiro NOGI

Kenaikan tersebut membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak 1995 dan menjadi penyesuaian pertama sejak Desember 2025.

Langkah BoJ mengikuti kebijakan serupa yang sebelumnya ditempuh Bank Sentral Eropa dan Bank Indonesia (BI), setelah konflik di Timur Tengah memicu gangguan ekonomi global dan lonjakan harga energi di berbagai negara.

Dengan inflasi AS yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, pasar kini memperkirakan Federal Reserve juga akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun belum diperkirakan terjadi pada rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Dalam pernyataannya, BoJ menilai perekonomian Jepang masih ditopang oleh kinerja laba perusahaan yang kuat serta perbaikan kondisi ketenagakerjaan dan pendapatan masyarakat, meskipun harga minyak yang tinggi memberi tekanan terhadap aktivitas ekonomi.

Bank sentral juga mencatat inflasi konsumen masih berada di bawah target 2 persen berkat kebijakan subsidi energi pemerintah.

Namun, kenaikan harga minyak mentah mulai meningkatkan biaya produksi dan transaksi antarperusahaan yang berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

“Dengan ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang yang terus meningkat, terdapat risiko inflasi inti bergerak melampaui target stabilitas harga 2 persen,” tulis BoJ.

Karena itu, bank sentral menegaskan akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap melalui kenaikan suku bunga dan penyesuaian tingkat stimulus ekonomi, sambil terus memantau dampak perkembangan situasi di Timur Tengah terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi domestik.

BoJ juga mengindikasikan akan mengakhiri program pengurangan bertahap pembelian obligasi dalam skala besar setelah April tahun depan.

Kepala Ekonom Kebijakan Fujitsu, Martin Schulz, menilai keputusan tersebut merupakan sinyal kuat bahwa BoJ mulai lebih fokus pada risiko inflasi ke depan sekaligus berupaya menstabilkan nilai tukar yen.

Menurut dia, ekspektasi inflasi yang meningkat telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mendekati 2,8 persen, level tertinggi dalam waktu yang sangat lama.

“Ini bukan hanya mencerminkan ekspektasi inflasi atau keraguan terhadap prospek pertumbuhan, tetapi juga menunjukkan menurunnya kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah,” kata Schulz.

Ia menambahkan BoJ kini berupaya menutup kesenjangan tersebut dengan menunjukkan bahwa ekonomi Jepang tetap mampu tumbuh meskipun biaya pinjaman meningkat.

Normalisasi Perdagangan Sementara itu, kesepakatan damai antara AS dan Iran yang mengakhiri konflik selama tiga bulan membuka peluang normalisasi perdagangan energi global.

Kedua negara sepakat membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Meski demikian, proses pemulihan diperkirakan tidak berlangsung cepat karena ratusan kapal masih tertahan dan arus perdagangan global membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Bagi Jepang, situasi tersebut sangat penting mengingat sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentah negara itu berasal dari kawasan Timur Tengah sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu.

Tekanan ekonomi juga diperburuk oleh pelemahan yen akibat lonjakan harga energi dan kesenjangan suku bunga yang lebar antara Jepang dan AS.

Pemerintah Jepang tercatat telah menggelontorkan sekitar 11,7 triliun yen untuk menopang stabilitas mata uang.

Setelah pengumuman BoJ, nilai tukar yen sempat menguat terhadap dolar AS, sementara indeks saham Nikkei 225 menembus level 70.000 poin untuk pertama kalinya dalam sejarah.Tokyo - Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) pada Selasa (16/6) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen sebagai upaya meredam tekanan inflasi yang dipicu gejolak energi akibat perang di Timur Tengah, meskipun Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mencapai kesepakatan damai.

Kenaikan tersebut membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi sejak 1995 dan menjadi penyesuaian pertama sejak Desember 2025.

Langkah BoJ mengikuti kebijakan serupa yang sebelumnya ditempuh Bank Sentral Eropa dan Bank Indonesia (BI), setelah konflik di Timur Tengah memicu gangguan ekonomi global dan lonjakan harga energi di berbagai negara.

Dengan inflasi AS yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir, pasar kini memperkirakan Federal Reserve juga akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun belum diperkirakan terjadi pada rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Dalam pernyataannya, BoJ menilai perekonomian Jepang masih ditopang oleh kinerja laba perusahaan yang kuat serta perbaikan kondisi ketenagakerjaan dan pendapatan masyarakat, meskipun harga minyak yang tinggi memberi tekanan terhadap aktivitas ekonomi.

Bank sentral juga mencatat inflasi konsumen masih berada di bawah target 2 persen berkat kebijakan subsidi energi pemerintah.

Namun, kenaikan harga minyak mentah mulai meningkatkan biaya produksi dan transaksi antarperusahaan yang berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

“Dengan ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang yang terus meningkat, terdapat risiko inflasi inti bergerak melampaui target stabilitas harga 2 persen,” tulis BoJ.

Karena itu, bank sentral menegaskan akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap melalui kenaikan suku bunga dan penyesuaian tingkat stimulus ekonomi, sambil terus memantau dampak perkembangan situasi di Timur Tengah terhadap aktivitas ekonomi dan inflasi domestik.

BoJ juga mengindikasikan akan mengakhiri program pengurangan bertahap pembelian obligasi dalam skala besar setelah April tahun depan.

Kepala Ekonom Kebijakan Fujitsu, Martin Schulz, menilai keputusan tersebut merupakan sinyal kuat bahwa BoJ mulai lebih fokus pada risiko inflasi ke depan sekaligus berupaya menstabilkan nilai tukar yen.

Menurut dia, ekspektasi inflasi yang meningkat telah mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mendekati 2,8 persen, level tertinggi dalam waktu yang sangat lama.

“Ini bukan hanya mencerminkan ekspektasi inflasi atau keraguan terhadap prospek pertumbuhan, tetapi juga menunjukkan menurunnya kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah,” kata Schulz.

Ia menambahkan BoJ kini berupaya menutup kesenjangan tersebut dengan menunjukkan bahwa ekonomi Jepang tetap mampu tumbuh meskipun biaya pinjaman meningkat.

Normalisasi Perdagangan

Sementara itu, kesepakatan damai antara AS dan Iran yang mengakhiri konflik selama tiga bulan membuka peluang normalisasi perdagangan energi global.

Kedua negara sepakat membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Meski demikian, proses pemulihan diperkirakan tidak berlangsung cepat karena ratusan kapal masih tertahan dan arus perdagangan global membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Bagi Jepang, situasi tersebut sangat penting mengingat sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentah negara itu berasal dari kawasan Timur Tengah sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu.

Tekanan ekonomi juga diperburuk oleh pelemahan yen akibat lonjakan harga energi dan kesenjangan suku bunga yang lebar antara Jepang dan AS.

Pemerintah Jepang tercatat telah menggelontorkan sekitar 11,7 triliun yen untuk menopang stabilitas mata uang.

Setelah pengumuman BoJ, nilai tukar yen sempat menguat terhadap dolar AS, sementara indeks saham Nikkei 225 menembus level 70.000 poin untuk pertama kalinya dalam sejarah.

  • Jepang

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.