Ericsson Perkenalkan AI in RAN, Dorong Jaringan 5G Lebih Cerdas dan Efisien
Sabtu, 13 Jun 2026, 15:32 WIBJAKARTAâ Perkembangan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong kebutuhan akan jaringan seluler yang semakin andal, cepat, dan efisien. Menjawab tantangan tersebut, Ericsson memperkenalkan AI in RAN, sebuah layanan perangkat lunak yang menempatkan kecerdasan buatan langsung di dalam jaringan akses radio (Radio Access Network/RAN) untuk meningkatkan performa, efisiensi, dan penghematan energi pada jaringan 5G.
Teknologi terbaru ini memungkinkan model AI kelas telekomunikasi berjalan secara real-time pada perangkat baseband dan radio tanpa memerlukan perangkat lunak tambahan. Melalui pendekatan tersebut, operator telekomunikasi dapat memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan jaringan yang telah ada melalui pembaruan berbasis software.
President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan bahwa AI kini menjadi penggerak utama inovasi di berbagai sektor industri dan menciptakan kebutuhan baru terhadap konektivitas, performa, serta otomasi jaringan.
âDengan AI in RAN, Ericsson membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan relevansi jangka panjang, sekaligus membantu operator memenuhi permintaan data yang lebih besar di tengah tantangan investasi. Kemampuan ini juga diharapkan mampu mendukung visi Indonesia Digital 2045 dengan menguatkan fondasi jaringan yang cerdas, efisien, dan berkelanjutan,â ujarnya melalui siaran pers pada hari Jumat (12/6).
Di Indonesia, teknologi ini dinilai relevan mengingat kebutuhan investasi pengembangan jaringan 5G yang terus meningkat. Data dari GSMA menunjukkan investasi yang dibutuhkan untuk pengembangan 5G di Indonesia mencapai sekitar 18 miliar dolar AS atau setara Rp324 triliun, dan berpotensi meningkat hingga 50 miliar dolar AS pada 2030.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital menargetkan cakupan layanan 5G mencapai 32 persen pada 2030. Dengan semakin tingginya kebutuhan konektivitas di sektor industri, bisnis, pemerintahan, dan masyarakat, optimalisasi jaringan berbasis AI dipandang dapat membantu operator meningkatkan efisiensi spektrum, memperbaiki pengalaman pengguna, sekaligus mengurangi konsumsi energi.
AI Dirancang Khusus untuk Kebutuhan Telekomunikasi
Ericsson menjelaskan bahwa model AI yang digunakan dalam AI in RAN dikembangkan secara khusus untuk kebutuhan telekomunikasi. Teknologi ini mampu memproses data dan mengambil keputusan dalam hitungan mikrodetik sehingga dapat beradaptasi dengan kondisi jaringan radio yang dinamis.
Kemampuan tersebut didukung oleh Ericsson Silicon, chip khusus yang memungkinkan pemrosesan AI dilakukan secara hemat energi langsung di perangkat radio. Selain itu, generasi terbaru RAN Compute serta software Cloud RAN memungkinkan implementasi AI yang fleksibel pada berbagai platform jaringan.
Fitur awal AI in RAN mulai tersedia pada kuartal kedua 2026 dan akan terus dikembangkan sepanjang tahun. Beberapa kemampuan utama yang ditawarkan antara lain AI-native Scheduler untuk optimasi alokasi sumber daya jaringan, AI-powered Positioning guna meningkatkan akurasi penentuan lokasi pengguna, serta AI-managed Beamforming yang secara otomatis mengoptimalkan kualitas sinyal.
Selain itu, teknologi ini juga menghadirkan AI-powered Multi-layer Coordination untuk meningkatkan koordinasi antar lapisan jaringan, sistem Performance Management yang lebih canggih, serta Augmented Observability yang memberikan visibilitas lebih tinggi terhadap cara AI bekerja dan mengambil keputusan di dalam jaringan.
Telah Diuji di Berbagai Jaringan Komersial
Menurut Ericsson, AI in RAN telah diuji melalui lebih dari 15 implementasi dan uji coba di berbagai negara. Hasilnya menunjukkan peningkatan kecepatan downlink hingga 20 persen dan efisiensi spektrum hingga 10 persen.
Teknologi tersebut juga diklaim mampu mendukung hingga dua kali lebih banyak pengguna dengan trafik tinggi, menghadirkan akurasi prediksi cakupan jaringan mencapai 90â95 persen, serta meningkatkan presisi layanan penentuan lokasi pengguna hingga lima kali lipat dibandingkan metode sebelumnya.
Sejumlah operator telekomunikasi global menyambut positif pengembangan teknologi ini. Senior Vice President & Chief Network Officer SoftBank Corp., Teruyuki Oya, menilai AI in RAN menjadi langkah penting untuk menghadirkan optimasi performa radio dan efisiensi spektrum secara real-time.
Pandangan serupa disampaikan Senior Vice President Network Technology & Operations Bell Canada, Bruce Dean, yang menyebut integrasi AI langsung ke dalam RAN sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kecerdasan dan efisiensi jaringan.
Sementara itu, Head of Network Technology SK Telecom, Yu Takki, mengatakan kolaborasi dengan Ericsson akan memperkuat pengembangan jaringan berbasis AI sekaligus menjadi fondasi menuju jaringan AI-native 6G di masa depan.
Chief Technology Officer Rogers Communications, Mark Kennedy, juga menilai teknologi tersebut mampu mengoptimalkan performa jaringan pelanggan secara real-time sekaligus menekan konsumsi energi.
Adapun Principal Analyst Joe Madden menyebut AI in RAN berpotensi menjadi salah satu investasi dengan tingkat pengembalian (ROI) terbaik bagi operator seluler dalam beberapa tahun terakhir karena memungkinkan peningkatan kapasitas dan visibilitas jaringan hanya melalui pembaruan perangkat lunak.
Ericsson sendiri telah mengembangkan teknologi AI pada produk jaringannya sejak era 4G. Pada 2021 perusahaan menambahkan akselerasi AI-ready pada RAN Compute, dan pada awal 2026 memperkenalkan Neural Network Accelerators pada radio Massive MIMO yang diklaim mampu meningkatkan kemampuan inferensi AI hingga 10 kali lipat.
- komunikasi
- Teknologi Jaringan
- Kecerdasan Buatan
- Jaringan 5G
- telekomunikasi
- transformasi digital
- Operator Seluler
- Ericsson
- Ericsson Indonesia
- Artificial Intelligence
- AI in RAN
- Cloud RAN
- RAN Compute
- Nora Wahby
- AI for Networks
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
RSD Gunung Jati Cirebon Catat 50 Kasus Suspek Campak hingga April
-
Telkom dan Katadata Perkuat Ekosistem AI Lewat Kolaborasi dengan Universitas Udayana
-
Harga Cabai Rawit Rp78.600 Per Kg, Telur Ayam Rp32.450 Per Kg
-
Modifikasi Cuaca untuk Menangani Banjir di Wilayah Bandung Raya
-
Pemerintah Percepat Ekosistem AI dan Data Center untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.