• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Hati-hati, Obesitas Bisa P...

Hati-hati, Obesitas Bisa Picu Perlemakan Hati hingga Kanker Jika Tak Cepat Ditangani

Jumat, 12 Jun 2026, 13:40 WIB

JAKARTA - Pengelolaan berat badan pada pasien obesitas menjadi tata laksana yang perlu menjadi perhatian untuk mencegah gangguan metabolik penyakit hati berlemak atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD).

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi dari RS Cipto Mangunkusumo, Prof. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, mengatakan individu yang hidup dengan obesitas, obesitas sentral, diabetes tipe 2, maupun hasil pemeriksaan fungsi hati yang tidak normal perlu mewaspadai kondisi MASLD.

Ket. Foto: Ilustrasi — Sumber: UCLA

"Mereka juga perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk melakukan penilaian risiko serta deteksi dini kesehatan hati," katanya dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Jumat (12/6).

Rino mengatakan bahwa penyakit perlemakan hati perlu dipahami sebagai suatu spektrum. Pada tahap awal, kondisi ini dapat berupa penumpukan lemak di hati.

"Jika faktor risikonya tidak dikelola dengan tepat, sebagian pasien dapat mengalami progresi menjadi MASH, yaitu bentuk yang lebih berat karena sudah melibatkan peradangan dan kerusakan sel hati," katanya.

Obesitas merupakan salah satu pendorong utama kondisi ini karena dapat menyebabkan gangguan metabolik dan penumpukan lemak di berbagai organ, termasuk hati.

Jika obesitas tidak dikelola dengan baik, pada sebagian pasien, MASLD dapat berkembang menjadi Metabolic Dysfunction-Associated Steatohepatitis (MASH) yakni bentuk lebih berat dengan peradangan/kerusakan sel hati.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko fibrosis, sirosis, hingga kanker hati.

Rino menjelaskan MASLD juga perlu dilihat sebagai bagian dari risiko kardiometabolik yang lebih luas, karena penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan MASLD.

“Karena itu, deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko secara menyeluruh menjadi sangat penting,” jelas Prof. Rino.

Sementara itu dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, metabolik, dan diabetes dari RS Cipto Mangunkusumo dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD menambahkan obesitas perlu dipahami sebagai kondisi medis kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif.

Ia mengatakan tujuan tata laksana obesitas bukan hanya menurunkan angka berat badan, tetapi juga mendukung quality weight loss dan kesehatan metabolik jangka panjang.

“Obesitas merupakan kondisi medis yang kompleks dan tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan kemauan semata. Kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memicu resistensi insulin, inflamasi, dan gangguan metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk hati, jantung, dan pembuluh darah,” katanya.

Dicky mengatakan ketika terapi farmakologi dipertimbangkan, termasuk terapi berbasis GLP-1, perlu dilakukan berdasarkan kondisi pasien dan bukti klinis yang relevan, termasuk manfaat terhadap jantung dan pembuluh darah pada populasi pasien yang sesuai perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam diskusi antara pasien dan dokter.

Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Novo Nordisk Indonesia menegaskan pentingnya edukasi, deteksi dini, serta pengelolaan faktor risiko, terutama obesitas, untuk membantu mencegah progresi penyakit perlemakan hati dengan inovasi terapi berbasis GLP-1 RA melalui momentum Global Fatty Liver Day 2026.

Direktur PTM Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi, mengajak masyarakat untuk memahami risiko fatty liver yang dipicu obesitas dengan melakukan deteksi dini guna menjaga kesehatan hati.

Dia mengatakan seiring meningkatnya prevalensi obesitas di Indonesia, risiko terjadinya fatty liver dan berbagai penyakit kronis lainnya juga semakin tinggi.

"Obesitas bahkan dikenal sebagai ‘mother of all chronic diseases’ karena dapat menjadi pemicu berbagai komplikasi kesehatan. Oleh karena itu, kami mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap faktor-faktor risiko yang dimiliki dan melakukan deteksi dini guna menjaga kesehatan hati,” kata Nadia.

Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, berharap melalui inovasi GLP-1 RA untuk manajemen berat badan serta edukasi melalui situs NovoCare.id, semakin banyak masyarakat dapat memahami risiko obesitas, termasuk kaitannya dengan perlemakan hati, dan mengambil langkah proaktif untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.