Pemerintah Peringatkan Importir Kedelai Jangan Mainkan Harga, Ancam Cabut Izin Usaha
Kamis, 11 Jun 2026, 00:00 WIBJAKARTA â Pemerintah memperingatkan para importir kedelai jangan menaikkan harga secara semena-mena, sebagai upaya menjaga stabilitas harga bahan baku pangan yang menjadi penopang industri tahu dan tempe. Jika melanggar, pemerintah siap menjatuhkan sanksi tegas bagi importis nakal.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Amran Sulaiman memperingatkan importir kedelai agar tidak menaikkan harga secara berlebihan karena dapat membebani perajin tahu dan tempe. Pemerintah mengancam akan mencabut rekomendasi dan izin impor bagi pelaku usaha yang terbukti menaikkan harga secara semena-mena.
âAnda (importir kedelai) sudah untung puluhan tahun. Kalau menaikkan, izinnya aku cabut dan aku tidak beri izin rekomendasi lagi, karena ada rekomendasinya di pertanian," kata Amran di Jakarta, Rabu (10/6).
Selain itu, lanjutnya, pemerintah akan menelusuri ke importir kedelai apabila terjadi dampak besar yang dirasakan kalangan perajin tahu dan tempe. Untuk itu, opsi menaikkan harga tidak boleh dilaksanakan.
"Sekali lagi, kami akan telusuri kalau terdampak pada perajin, pada produsen tahu dan seterusnya. Kami akan cek sumbernya dari mana. Kami pas cek, kami sudah minta, kami sudah kumpulkan semua, jangan menaikkan harga semena-mena," ujarnya.
Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe per 8 Juni masih berada dalam batas yang ditetapkan pemerintah, dengan rata-rata nasional 11.126 rupiah per kg dan di Jawa sebesar 10.868 rupiah per kg.
Plafon harga kedelai yang telah ditentukan pemerintah adalah berupa Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai di tingkat importir maksimal di 11.500 rupiah per kg dan di tingkat konsumen atau perajin tahu dan tempe tidak boleh melebihi 12.000 rupiah per kg.
Ongkos Membengkak
Meski terjadi kenaikan, kondisinya dinilai masih relatif aman dan lebih rendah dibandingkan lonjakan harga pada 2022. Namun, perajin tetap menghadapi tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik dan minyak goreng yang turut membebani usaha mereka.
Terkait ketersediaan kedelai, Asosiasi Importir menyampaikan bahwa ketersediaan stok kedelai saat ini dengan posisi Juni 2026 sebanyak 450 ribu ton. Tentu kondisi ini masih cukup aman dalam pemenuhan kebutuhan kedelai secara nasional.
Importir berkomitmen untuk menjaga kenaikan harga yang kondusif dan tidak melonjak signifikan dalam rangka menjaga stabilisasi pasokan dan harga kedelai nasional.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Kantor Staf Presiden Beri Pompa Apung untuk Bersihkan Rumah Terdampak Banjir di Aceh
-
Dirut Bank Mandiri Pastikan Kesiapan Bantuan bagi Warga Terdampak Bencana Sumatra
-
Senator AS Akhirnya Capai Kesepakatan yang Dapat Mengakhiri Penutupan Pemerintah
-
KKP Tingkatkan Daya Saing Produk Perikanan dengan Jamin Ketertelusuran Rantai Pasok
-
Kawasan Ronggowarsito Dikembangan KAI Logistik sebagai Pusat Logistik Terintegrasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.