Permukaan Laut Naik Makin Cepat

Kamis, 11 Jun 2026, 01:00 WIB

London – Samudra dunia menghadapi tekanan yang semakin berat akibat aktivitas manusia. Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya laju kenaikan permukaan laut dalam satu dekade terakhir, sehingga mendorong seruan global untuk memperkuat upaya pengendalian polusi dan perubahan iklim.

Temuan itu disampaikan dalam Penilaian Ketiga Samudra Dunia (World Ocean Assessment III/WOA III) yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Laporan tersebut menyoroti akumulasi berbagai tekanan terhadap ekosistem laut, mulai dari polusi, eksploitasi sumber daya, hingga aktivitas penangkapan ikan berskala besar.

Ket. Foto: Pemandangan udara rumah-rumah yang terdampak kenaikan permukaan laut di Pulau Tierra Bomba, Cartagena, Kolombia, baru-baru ini. — Sumber: AFP/Luis ACOSTA

Dikutip dari Antara, WOA III merupakan satu-satunya penilaian global yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial terkait kondisi samudra dunia. Kajian periode 2021–2025 itu melibatkan lebih dari 650 pakar dari berbagai negara dan lintas sektor.

Laporan yang dirilis Senin (9/6) menegaskan bahwa aktivitas manusia telah menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati secara luas dan memberikan tekanan besar terhadap sistem samudra.

Salah satu temuan utama menunjukkan laju kenaikan permukaan laut terus meningkat, dari sekitar 2 milimeter per tahun sebelum 2015 menjadi 4,3 milimeter per tahun pada 2023. Selain itu, sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 terjadi hanya dalam kurun waktu sejak 2018.

"Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya yang tak terbatas. Kolaborasi global yang mendesak diperlukan untuk melindungi ekosistem laut," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Ia menegaskan dunia perlu membangun hubungan baru dengan laut yang berlandaskan ilmu pengetahuan, hukum internasional, dan tanggung jawab bersama lintas negara serta generasi.

Gelombang Laut

Sementara itu, penelitian terbaru yang dipimpin ilmuwan Australia mengungkap es laut Antarktika mencair lebih cepat pada musim panas akibat kombinasi gelombang laut, banjir permukaan, dan pertumbuhan alga.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Cryosphere menemukan bahwa gelombang laut tidak hanya memecah lapisan es, tetapi juga mengikis lapisan salju yang berfungsi melindungi es dari paparan sinar matahari. Kondisi tersebut memicu terbentuknya genangan air dan "kolam ombak" yang menyerap lebih banyak panas sehingga mempercepat pencairan.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Rob Massom menjelaskan bahwa area es yang kehilangan lapisan salju kemudian menjadi tempat berkembangnya alga. Pertumbuhan alga membuat permukaan es berubah kehijauan dan menyerap lebih banyak energi panas matahari.

Menurut para peneliti, proses yang dipicu gelombang laut tersebut merupakan "bagian yang hilang" dalam memahami penyebab meningkatnya pencairan es laut Antarktika setiap musim panas.

Mereka memperkirakan banjir, genangan, dan kerusakan akibat gelombang dapat mempercepat penipisan es lebih dari 4 sentimeter per hari. Sementara itu, pertumbuhan alga berkontribusi terhadap pencairan tambahan sekitar 1 sentimeter per hari.

  • Permukaan Laut

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.