Dibayangi Risiko Global, 11 juni 2025
Kamis, 11 Jun 2026, 08:25 WIBJAKARTA â Rupiah diperkirakan masih bergerak flukÂtuatif, hari ini (11/6), seiring tarik-menarik antara sentimen domestik dan risiko eksternal. Di satu sisi, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik minat inÂvestor terhadap aset rupiah.Â
Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik di Timur TeÂngah terus memicu ketidakpastian global yang mendorong investor mencari aset aman seperti dollar AS. Kondisi ini membuat pergerakan rupiah cenderung terbatas dan renÂtan terhadap perubahan sentimen pasar internasional.
Pengamat mata uang dari Doo Financial Futures, LukÂman Leong rupiah mendapatkan sentimen positif domestik seiring meningkatnya harapan pada BI untuk kembali meÂnaikkan suku bunga ke depannya. Namun, sentimen negatif eksternal terutama perkembangan seputar Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia dapat membebani rupiah.
Selain itu, Lukman melihat investor juga fokus pada rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) juga berpotensi menahan penguatan rupiah, sementara dari domestik, pelaku pasar menantikan laporan data penjualan ritel pada April. KaÂrenanya, Lukman memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, KaÂmis (11/6), bergerak fluktuaif di kisaran 17.900 â 18.000 ruÂpiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdaÂgangan, Rabu (10/6), menguat 114 poin atau 0,63 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.944 rupiah per dollar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa meÂngatakan pemulihan rupiah seiring membaiknya sentimen pasar dan langkah stabilisasi yang dilakukan Bank IndoÂnesia (BI). âSetelah sempat menyentuh level terlemah di Rp18.190 per dollar AS pada awal pekan, rupiah mulai meÂnunjukkan pemulihan seiring membaiknya sentimen pasar dan langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia,â ucapnya di Jakarta.
Kendati demikian, pergerakan rupiah disebut masih berpotensi fluktuatif karena pasar terus mencermati perÂkembangan sentimen global maupun domestik. Perhatian investor saat ini masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah yang dapat mempengaruhi minat pasar terhadap aset berisiko.
Selain itu, lanjutnya, pelaku pasar juga menunggu rilis data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
TVRI Pastikan Kesiapan Siara Piala Dunia 2026 Hampir 100 Persen
-
Peringatan Dini Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Kaltim
-
Puncak Ibadah Haji, Kemenhaj Imbau Jamaah Jaga Kesehatan Selama Armuzna
-
PMI Salurkan Bantuan Medis untuk Warga Iran Terdampak Konflik
-
Juara Empat Kali di Roland Garros, Iga Swiatek Tersingkir
-
Ungkapan Kasus Penyelundupan, 23 Personel Avsec Bandara Soetta Terima Apresiasi
-
KKN di Pakal Surabaya, Universitas Wijaya Kusuma Optimalkan Potensi Lokal Berbasis Pertanian, Peternakan, dan UMKM
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.