Ketegangan Dunia Capai Puncaknya pada 2025

Rabu, 10 Jun 2026, 02:15 WIB

OSLO – Sebuah studi di Norwegia yang dirilis pada Selasa (9/6) menyatakan bahwa dunia akan menyaksikan jumlah konflik antar negara tertinggi sejak Perang Dunia II pada tahun 2025, dan memperingatkan akan terjadinya lagi lonjakan serangan yang menargetkan warga sipil.

Laporan Tren Konflik tahunan dari Institut Penelitian Perdamaian Oslo (Peace Research Institute Oslo/PRIO) tersebut menyatakan bahwa 65 konflik yang melibatkan setidaknya satu negara tercatat di seluruh dunia pada 2025, rekor tertinggi baru sejak 1946.

Ket. Foto: Siri Aas Rustad — Sumber: PRIO/Julie Lunde Lillesæter

Konflik antarnegara juga mencapai puncak baru dalam 80 tahun terakhir, meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi delapan, termasuk bentrokan perbatasan antara India dan Pakistan, Afghanistan dan Pakistan, serta Kamboja dan Tailan, serta invasi Russia ke Ukraina dan operasi militer Israel terhadap Suriah.

“Sayangnya, tidak banyak hal positif,” kata peneliti Siri Aas Rustad kepada sejumlah media, termasuk AFP. “Biasanya, saya bisa menemukan sesuatu yang positif dari situ, tetapi tahun ini angkanya sangat mengejutkan,” imbuh dia.

2025 merupakan tahun ketiga paling mematikan sejak berakhirnya Perang Dingin, dengan sekitar 245.000 kematian yang secara langsung terkait dengan pertempuran atau kekerasan politik, hampir 76.500 di antaranya disebabkan oleh serangan yang secara langsung menargetkan warga sipil, dibandingkan dengan 14.200 pada tahun 2024.

Peningkatan tajam jumlah kematian warga sipil disebabkan oleh konflik antara tentara dan paramiliter di Sudan, dimana pengepungan dan pembantaian yang dilakukan di Kota El-Fasher di wilayah Darfur diperkirakan telah menewaskan sekitar 60.000 orang.

Sejak berakhirnya Perang Dingin, hanya tahun 1994 dan 2021 yang menyaksikan lebih banyak pertumpahan darah, masing-masing karena genosida Rwanda dan perang di wilayah Tigray, Ethiopia.

“Yang terjadi dalam lima atau enam tahun terakhir adalah kita memiliki beberapa konflik besar yang terjadi secara bersamaan, dan tampaknya konflik-konflik tersebut saling menggantikan. Dunia tidak mendapat jeda sama sekali ,” kata Rustad. “Dan itu berbeda dari sebelumnya dimana tingkat konflik intensitas tinggi yang berkelanjutan secara global,” imbuh dia

Studi PRIO didasarkan pada angka-angka yang dikumpulkan oleh Program Data Konflik Uppsala, yang berafiliasi dengan Universitas Uppsala. Klasifikasi ini membedakan tiga jenis utama kekerasan terorganisir: konflik yang melibatkan setidaknya satu negara, konflik non-negara, dan kekerasan sepihak terhadap warga sipil.

Afrika tetap menjadi wilayah yang paling terdampak oleh jenis konflik pertama dengan 29 kasus, diikuti oleh Asia, Timur Tengah, Amerika, dan Eropa.

Senjata Nuklir

Pada saat bersamaan Kampanye Internasional untuk Menghapus Senjata Nuklir (ICAN) juga mengumumkan hasil studi mereka yang menyatakan bahwa pengeluaran global untuk senjata nuklir melonjak ke rekor tertinggi pada tahun 2025 karena negara-negara yang memiliki senjata nuklir memindahkan lebih banyak hulu ledak dari penyimpanan ke sistem pengerahan.

Menurut laporan ICAN, sembilan negara bersenjata nuklir secara bersama-sama menghabiskan hampir USD119 miliar untuk persenjataan mereka pada tahun 2025, meningkat 19 persen dari tahun 2024.

“Perlombaan senjata nuklir baru telah tiba,” demikian peringatan dalam laporan ICAN.

ICAN dan sebuah studi terpisah oleh Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis pada Senin (8 /6) pun menyuarakan kekhawatiran atas meningkatnya risiko nuklir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Peningkatan drastis pengeluaran untuk senjata nuklir terjadi ketika negara-negara bergegas memodernisasi persenjataan mereka dan mengerahkan lebih banyak persediaan mereka, demikian hasil studi tersebut menunjukkan. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.