Fine Dining Bertransformasi, Tak Lagi Sekadar Simbol Status
Rabu, 10 Jun 2026, 19:57 WIBJAKARTA â Pengalaman bersantap mewah atau fine dining di Asia Tenggara kini mengalami perubahan makna. Jika sebelumnya identik dengan simbol status dan kemewahan, kini restoran premium semakin dipandang sebagai ruang untuk mengekspresikan identitas diri, membangun hubungan sosial, serta mencari pengalaman yang lebih bermakna.
Temuan tersebut terungkap dalam white paper terbaru bertajuk Taste and Transformation: How Luxury Dining Is Shaping Identity, Connection and Lifestyle in Southeast Asia yang disusun oleh Vero bersama BurdaLuxury. Studi ini meneliti perilaku dan preferensi konsumen premium di Malaysia, Singapura, dan Thailand dalam memaknai pengalaman bersantap mewah.
Riset yang dilakukan bersama GMO-Z.com Research itu melibatkan 600 responden dari kalangan konsumen premium dan diperkenalkan dalam ajang Lifestyle Asia Best Bites Awards yang berlangsung di Andaz One Bangkok, Thailand.
CEO BurdaLuxury, Björn Rettig, mengatakan hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi di kalangan masyarakat berdaya beli tinggi di kawasan Asia Tenggara.
âMelalui white paper ini, kami ingin memahami lebih dalam apa yang benar-benar penting bagi para penikmat kuliner mewah di Asia Tenggara saat ini. Temuan kami mengonfirmasi adanya pergeseran dari konsumsi yang berorientasi status menuju pencarian pengalaman yang lebih bermakna,â kata Rettig dalam keterangan resminya pada hari Senin (8/6).
Menurut dia, makanan kini menjadi medium yang menghubungkan konsumen dengan budaya, orang lain, hingga diri mereka sendiri. Di saat yang sama, restoran berkembang menjadi salah satu titik sentuh paling berpengaruh dalam ekosistem gaya hidup premium.
Secara regional, penelitian menemukan bahwa konsumen premium semakin mendefinisikan kemewahan berdasarkan nilai emosional dan makna personal, bukan lagi semata-mata harga, eksklusivitas, atau status sosial.
Sebanyak 33,17 persen responden menyebut pengalaman kuliner premium sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Sementara 31,5 persen menjadikannya sarana merayakan pencapaian penting, dan 31 persen memanfaatkannya untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
Meski memiliki motivasi yang serupa, perilaku konsumen di masing-masing negara menunjukkan karakteristik berbeda. Di Malaysia dan Singapura, pengalaman fine dining umumnya masih dipandang sebagai aktivitas khusus yang dilakukan sesekali.
Sebaliknya, konsumen Thailand tercatat lebih sering mengunjungi restoran premium, lebih aktif membagikan pengalaman mereka di media sosial, serta lebih sering mengaitkan pengalaman kuliner dengan aktivitas perjalanan.
Penelitian ini juga menyoroti besarnya pengaruh media sosial dalam membentuk keputusan konsumen. Sebanyak sembilan dari sepuluh responden mengaku pernah mencoba restoran, menu, atau pengalaman baru setelah melihatnya melalui platform digital.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman kuliner telah berkembang menjadi salah satu elemen gaya hidup yang memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku konsumen premium di kawasan Asia Tenggara.
Tidak hanya memengaruhi pilihan tempat makan, pengalaman kuliner juga terbukti berpengaruh terhadap minat konsumen pada berbagai kategori gaya hidup lainnya.
Bidang home and design menjadi salah satu sektor yang paling banyak terinspirasi oleh pengalaman kuliner, dengan 39,67 persen responden mengaku mendapatkan inspirasi dari pengalaman bersantap mereka. Sementara itu, keterkaitan dengan sektor fesyen tercatat mencapai 40,16 persen.
Thailand menjadi negara dengan tingkat pengaruh tertinggi antara pengalaman kuliner dan fesyen, yakni 51 persen, dibandingkan Malaysia sebesar 36 persen dan Singapura 33,5 persen.
Selain itu, sebanyak 38,5 persen responden menyatakan pengalaman kuliner turut memengaruhi pandangan mereka terhadap gaya hidup sehat dan wellness.
Account Director Vero Thailand, Sireethon Auerat, menilai konsumen premium saat ini tidak lagi hanya menerima pesan dari sebuah merek, tetapi turut membentuk pengalaman yang mereka jalani.
âKami melihat pengalaman bersantap kini menjadi momen yang dipengaruhi oleh emosi sekaligus membentuk identitas seseorang. Ketika pengalaman kuliner meninggalkan kesan yang kuat, dampaknya dapat memengaruhi cara seseorang membangun koneksi, memilih destinasi perjalanan, mengambil keputusan pembelian, hingga berinteraksi dengan berbagai brand,â ujarnya.
Berdasarkan temuan tersebut, Vero dan BurdaLuxury menilai pelaku industri makanan dan minuman maupun sektor gaya hidup perlu menghadirkan pengalaman yang lebih personal, autentik, dan memiliki nilai emosional bagi konsumen.
Selain itu, strategi komunikasi dinilai perlu lebih menonjolkan pengalaman nyata konsumen dibandingkan pesan promosi yang terlalu berfokus pada merek. Pengalaman yang mampu memicu interaksi, percakapan, rekomendasi dari mulut ke mulut, hingga berbagi konten di media sosial dinilai akan semakin relevan dalam menarik perhatian konsumen premium.
Studi ini menyimpulkan bahwa makanan kini telah berkembang menjadi medium yang kuat untuk membangun cerita, koneksi, dan identitas. Karena itu, peluang kolaborasi lintas industri, pengalaman multisensori, hingga aktivasi berbasis budaya diperkirakan akan semakin penting dalam membangun hubungan yang lebih mendalam antara merek dan konsumen di Asia Tenggara.
- Gaya Hidup
- lifestyle
- Vero
- Asia Tenggara
- Fine Dining
- Kuliner Mewah
- BurdaLuxury
- Gaya Hidup Premium
- Konsumen Premium
- Restoran Mewah
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Daftar Event Jakarta Pertengahan April 2026: Dari Candlelight Concert hingga Pameran Kado Betawi
-
AS Memulai Blokade Pelabuhan Iran, Teheran Ancam akan Membalas
-
GoWork Hadirkan Ruang Meeting Profesional di Jakarta, Fleksibel dan Lengkap!
-
Udara Makin Panas, Berapa Derajat Suhu AC yang Disarankan Saat Musim Kemarau?
-
Gempa Dangkal Guncang Kendari, Getarannya Terasa hingga Konawe Selatan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.