Kuartal I, Hilirisasi Nikel di Indonesia Mencapai Rp147,5 Triliun
Kamis, 04 Jun 2026, 20:20 WIBJAKARTA â Kontribusi hilirisasi nikel di Indonesia terus meningkat tiap tahun. Realisasi investasi hilirisasi pada kuartal I 2026 mencapai sekitar Rp147,5 triliun, dengan nikel sebagai kontributor utama yang menyerap sekitar Rp41,5 triliun.
Hal tersebut menjadi fokus utama dalam diskusi "Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience" yang diselenggarakan oleh Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia dalam rangka Indonesia Critical Minerals Conference 2026.
Diskusi ini mempertemukan pemerintah daerah, pelaku industri, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan sektor mineral kritis untuk membahas upaya Maluku Utara yang dapat menjadi referensi global bagi praktik hilirisasi yang bertanggung jawab di tengah meningkatnya permintaan mineral kritis untuk mendukung transisi energi dunia.
Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Ovan Tito, juga memaparkan kunjungan yang dilakukan oleh KADIN bersama para pembicara ke Indonesia Weda-bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara dan upaya yang dilakukan untuk dapat menjadi referensi global bagi praktik responsible downstreaming.
âBanyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya,â ujar Ovan di Jakarta, kemarin.
Dampak hilirisasi terlihat dari besarnya kontribusi terhadap perekonomian nasional. Nilai ekspor produk turunan nikel meningkat hampir sepuluh kali lipat dari US$3,3 miliar pada 2018 menjadi sekitar US$34 miliar pada 2024, mencerminkan semakin besarnya nilai tambah yang tercipta di dalam negeri.
Dengan kontribusi sekitar 13-15% terhadap pasokan nikel dunia, Maluku Utara kini menjadi salah satu simpul paling strategis dalam rantai pasok mineral kritis global.
Pada kuartal pertama 2026, ekonomi Maluku Utara tumbuh 19,64%, tertinggi di Indonesia dengan ditopang oleh aktivitas pengolahan dan pertambangan yang terus berkembang.
Komoditas berbasis besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik bahkan menyumbang 96,65% dari total ekspor daerah, memperlihatkan peran sentral hilirisasi dalam struktur ekonomi Maluku Utara saat ini.
Sementara itu, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, keberhasilan hilirisasi tidak dapat diukur hanya dari pertumbuhan ekonomi dan investasi yang masuk. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat lokal dapat mengambil peran yang lebih besar dalam rantai nilai industri, baik sebagai tenaga kerja terampil, pelaku usaha, maupun pemasok yang mendukung aktivitas industri di daerah.
"Karena itu kami sedang memperkuat pendidikan dan keterampilan masyarakat agar lebih banyak warga Maluku Utara dapat mengambil peran yang lebih besar dalam industri. Kami juga sedang mendorong pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri, sehingga ke depan semakin banyak masyarakat lokal yang dapat mengisi posisi-posisi strategis," ucap Sherly.
Bagi Sherly, hingga 2030 mendatang, ia tidak hanya ingin membangun kawasan industri yang lebih besar, tetapi juga memastikan masyarakat Maluku Utara memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi.
Executive Director NiPERA, Chris Schlekat, menilai pasar global akan semakin menuntut bukti atas praktik berkelanjutan (sustainable) yang diterapkan produsen nikel.
Menurutnya, penggunaan standar internasional yang kredibel menjadi penting untuk membangun kepercayaan dan menjaga daya saing industri Indonesia.
âKe depan, akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen untuk menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi. Karena itu, penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis
sains agar klaim mengenai praktik-praktik tersebut dapat diukur secara objektif,â tutup Chris.
Sementara itu, Co-head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schoeters, salah satu
perbedaan utama antara Indonesia dan negara dengan pertambangan yang lebih matang
terletak pada usia industri dan penerapan ESG yang lebih lama.
âIndustri nikel Indonesia
berkembang dalam kecepatan yang luar biasa. Dalam waktu kurang dari satu dekade,
kawasan industri dan rantai nilai yang kompleks telah tumbuh dengan sangat cepat. Kami
melihat ada perusahaan yang sudah menunjukkan kemajuan dalam mengintegrasikan ESG
ke dalam operasionalnya, sementara beberapa yang lain masih dalam proses membangun
sistem yang diperlukan,
â ujarnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Mohammad Zaki Alatas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.