Burung Langka Indonesia yang Hilang Hampir Seabad Akhirnya Ditemukan Kembali di Pulau Buru

Kamis, 04 Jun 2026, 06:00 WIB

Buru - Pulau Buru, Maluku, kembali menjadi sorotan dunia konservasi setelah tim peneliti berhasil menemukan kembali nuri biru depan (blue-fronted lorikeet), salah satu burung paling langka dan misterius di Indonesia yang nyaris tidak pernah terlihat selama hampir satu abad.

Dilansir dari The Straits Times, spesies endemik yang hanya hidup di Pulau Buru itu sebelumnya hanya diketahui dari sejumlah spesimen museum dan satu dokumentasi foto yang diambil pada 2014. Selama bertahun-tahun, para peneliti meyakini burung tersebut masih bertahan hidup, meski keberadaannya belum pernah terkonfirmasi lagi.

Ket. Foto: Pulau Buru, Provinsi Maluku. — Sumber: Antara

Harapan itu akhirnya terjawab pada April 2026 ketika sebuah ekspedisi yang dipimpin kelompok pendaki Indonesia berhasil menemukan burung tersebut di kawasan pegunungan tertinggi Pulau Buru.

Tim harus menempuh perjalanan berat selama beberapa hari melewati medan batu kapur yang tajam, tebing curam, hutan lebat, serta minim sumber air sebelum akhirnya melihat kilatan bulu hijau khas burung tersebut di kanopi hutan pegunungan.

Penemuan ini menjadi sangat penting karena tidak hanya menghasilkan foto terbaru nuri biru depan untuk pertama kalinya dalam 12 tahun terakhir, tetapi juga merekam suara kicauannya untuk pertama kali dalam sejarah penelitian spesies tersebut.

Burung ini memiliki ciri tubuh hijau terang, paruh berwarna oranye, bagian belakang kepala berwarna biru, serta ekor runcing yang membedakannya dari spesies lain di Pulau Buru.

Direktur program Search for Lost Birds, John Mittermeier, mengakui peluang menemukan spesies tersebut sangat kecil mengingat minimnya catatan keberadaan burung itu selama puluhan tahun.

"Ketika Anda mencari burung yang hanya pernah terdokumentasi sekali dalam satu abad terakhir, rasanya seperti mencari sesuatu yang hampir mustahil," katanya.

Nuri biru depan pertama kali dideskripsikan dari tujuh spesimen yang dikumpulkan pada 1920-an. Setelah itu, spesies tersebut menghilang dari catatan ilmiah selama hampir 90 tahun meskipun berbagai survei dilakukan di hutan dataran rendah hingga pegunungan.

Para peneliti sejak lama menduga burung tersebut tidak punah, melainkan hidup di kawasan pegunungan yang sangat sulit dijangkau manusia. Dugaan itu terbukti benar setelah pendaki lokal berhasil membuka dan memetakan jalur menuju wilayah pegunungan yang sebelumnya nyaris tidak dapat diakses.

Menurut Mittermeier, lokasi penemuan memiliki medan ekstrem berupa tebing kapur, batu-batu tajam, lereng curam, dan keterbatasan sumber air.

"Tidak ada burung lain di Pulau Buru yang mirip dengan nuri ini. Saat kami melihatnya, kami langsung tahu spesies apa yang kami temukan," ujarnya.

Selama ekspedisi, tim berhasil mengamati sedikitnya sembilan individu nuri biru depan.

Salah satu anggota ekspedisi, James Eaton, mengatakan hujan deras, sungai berarus kuat, serta tidak adanya jalur pendakian membuat perjalanan menuju lokasi penemuan sangat menantang.

"Anda harus memiliki alasan yang sangat kuat, atau mungkin sedikit nekat, untuk mencoba mencapai puncak itu. Burung ini adalah alasan kami melakukannya," katanya.

Setelah satu pekan penuh perjuangan, keberhasilan mengabadikan burung yang selama ini menjadi target utama para pengamat burung dunia itu menjadi momen yang sangat emosional bagi tim.

Saat ini nuri biru depan masih berstatus Data Deficient atau minim data dalam Daftar Merah IUCN. Pada 2024, spesies tersebut juga masuk dalam daftar "spesies hilang" yang disusun program Search for Lost Birds.

Kekayaan Hayati

Para peneliti menilai penemuan kembali ini merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mengetahui ukuran populasi, habitat, serta berbagai ancaman yang mungkin dihadapi spesies tersebut di alam liar.

"Penemuan seperti ini merupakan langkah pertama untuk bisa melindunginya," kata Mittermeier.

Bagi tim ekspedisi, keberhasilan menemukan kembali nuri biru depan menjadi pengingat bahwa masih banyak kekayaan hayati luar biasa yang tersembunyi di alam Indonesia.

"Di tengah banyaknya berita negatif, momen penemuan seperti ini mengingatkan kita betapa indahnya dunia yang masih kita miliki," ujar Eaton.

Ia menambahkan bahwa burung kecil tersebut telah hidup di Pulau Buru jauh sebelum manusia datang ke wilayah itu.

"Burung kecil berwarna hijau ini sudah ada jauh sebelum manusia menginjakkan kaki di pulau tersebut. Mereka memiliki hak untuk hidup di sana sama besarnya, bahkan mungkin lebih besar, daripada kita," katanya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Andes

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.